Anak Krakatau Masih Level III Siaga, Reza Prasatria Dharma: Keselamatan Mahasiswa Harus Diutamakan, Kampus Wajib Siap Hadapi Bencana
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — Aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi Indonesia harus memiliki sistem kesiapsiagaan bencana yang mampu melindungi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan tanpa memutus keberlangsungan pendidikan. Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — Aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi Indonesia harus memiliki sistem kesiapsiagaan bencana yang mampu melindungi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan tanpa memutus keberlangsungan pendidikan.
Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, mulai 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Hingga evaluasi terbaru yang dipublikasikan 11 September, status gunung tersebut masih berada pada Level III (Siaga).
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, menilai peristiwa tersebut harus menjadi momentum memperkuat budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan tinggi.
“Keselamatan mahasiswa, dosen dan masyarakat harus menjadi prioritas. Kegiatan pendidikan penting, tetapi dalam kondisi bencana tidak boleh ada kepentingan akademik yang ditempatkan di atas keselamatan manusia.”
Kemdiktisaintek Dorong PJJ di Kampus Terdampak
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 7 September 2026 mendorong perguruan tinggi yang terdampak abu vulkanik Anak Krakatau untuk menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Kebijakan tersebut merupakan langkah mitigasi agar keselamatan sivitas akademika dapat dijaga sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berlangsung.
LLDIKTI Wilayah II juga menindaklanjuti arahan tersebut untuk perguruan tinggi di Lampung. Kampus yang berada di wilayah terdampak paparan abu vulkanik dapat mengalihkan perkuliahan tatap muka menjadi pembelajaran daring sehingga mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dari tempat tinggal masing-masing.
Reza menilai langkah itu tepat.
“PJJ dalam situasi seperti ini bukan kemunduran pendidikan. Ini merupakan instrumen mitigasi. Teknologi pendidikan harus dapat digunakan ketika kondisi lingkungan membahayakan mahasiswa.”
14 Erupsi Strombolian Setelah Episode Erupsi Menerus
Evaluasi Badan Geologi per 11 September mencatat bahwa setelah episode erupsi menerus berakhir, hingga pukul 06.00 WIB tanggal tersebut telah terjadi 14 kali erupsi Strombolian.
Badan Geologi menyatakan probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode selanjutnya masih tinggi. Ancaman yang disebutkan meliputi lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat, serta potensi aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.
Karena itu, masyarakat, wisatawan dan pendaki dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. ([Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi][1])
Masyarakat Diminta Tenang, Jangan Percaya Isu Tsunami
Satuan Mahasiswa ETH juga mengingatkan generasi muda agar tidak menyebarkan informasi bencana yang belum terverifikasi.
Badan Geologi secara khusus meminta masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu yang mengaitkan erupsi Anak Krakatau dengan kepastian akan terjadinya tsunami. Masyarakat diminta mengikuti arahan BPBD dan informasi resmi pemerintah.
Reza menilai mahasiswa mempunyai tanggung jawab lebih besar dalam menghadapi disinformasi.
“Dalam situasi bencana, informasi yang salah dapat menimbulkan kepanikan. Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi: periksa sumber, gunakan data resmi dan jangan ikut menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.”
Abu Vulkanik Juga Menjadi Persoalan Kesehatan
Badan Geologi merekomendasikan masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker ketika beraktivitas, guna mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Satuan Mahasiswa ETH menilai kampus di daerah rawan bencana perlu mempunyai prosedur yang jelas mengenai penghentian sementara kegiatan luar ruangan, penggunaan masker, perlindungan laboratorium dan fasilitas kampus, hingga mekanisme evakuasi.
Kampus Harus Memiliki Sistem Darurat
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, kesiapsiagaan perguruan tinggi tidak seharusnya baru dibangun ketika bencana sudah terjadi.
Kampus yang berada di wilayah dengan risiko gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, kebakaran hutan maupun bencana lainnya perlu memiliki protokol keadaan darurat yang dipahami mahasiswa.
“Mahasiswa harus mengetahui apa yang dilakukan ketika sirene berbunyi, ke mana harus melakukan evakuasi, siapa yang harus dihubungi dan dari mana informasi resmi diperoleh. Prosedur keselamatan tidak boleh hanya tersimpan dalam dokumen.”
Teknologi Bisa Menjaga Pendidikan Tetap Berjalan
Pengalaman PJJ selama kondisi abu vulkanik juga memperlihatkan pentingnya infrastruktur digital.
Namun Satuan Mahasiswa ETH mengingatkan bahwa pembelajaran daring hanya efektif apabila mahasiswa mempunyai akses internet, perangkat dan materi pembelajaran yang memadai.
Karena itu, fleksibilitas akademik perlu diberikan kepada mahasiswa yang secara langsung terdampak bencana.
Mahasiswa yang harus mengungsi, mengalami gangguan jaringan atau menghadapi kondisi keluarga darurat tidak seharusnya dibebani seolah-olah berada dalam situasi normal.
Mahasiswa Bisa Menjadi Relawan Kebencanaan
Satuan Mahasiswa ETH juga mendorong perguruan tinggi memperkuat unit mahasiswa yang bergerak dalam kebencanaan, kesehatan, lingkungan dan kegiatan kemanusiaan.
Mahasiswa dapat dilatih mengenai pertolongan pertama, evakuasi dasar, komunikasi darurat, pemetaan risiko, pengelolaan posko dan literasi informasi bencana.
Namun keterlibatan mahasiswa harus tetap dilakukan berdasarkan kompetensi dan koordinasi dengan lembaga berwenang—bukan memasuki zona berbahaya secara mandiri.
“Semangat membantu harus dibarengi disiplin keselamatan. Mahasiswa dapat menjadi relawan, tetapi jangan sampai niat membantu justru menambah korban.”
Lima Agenda Kesiapsiagaan Kampus
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong lima agenda: setiap kampus memiliki SOP bencana dan jalur evakuasi; menyediakan sistem informasi darurat; mampu beralih cepat ke PJJ ketika diperlukan; memberikan fleksibilitas akademik kepada mahasiswa terdampak; serta memperluas pendidikan dan pelatihan kebencanaan bagi mahasiswa.
Organisasi juga mendorong kampus membangun koordinasi dengan BNPB/BPBD, lembaga kebencanaan, fasilitas kesehatan dan pemerintah daerah sesuai kebutuhan wilayah masing-masing.
Dari Hambalang: Mahasiswa Harus Menjadi Generasi Tangguh Bencana
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Reza mengingatkan bahwa Indonesia berada di wilayah dengan berbagai potensi bencana alam. Karena itu, literasi kebencanaan harus menjadi bagian dari kompetensi generasi muda.
“Generasi muda Indonesia harus maju dalam teknologi dan pendidikan, tetapi juga harus tangguh menghadapi bencana. Pengetahuan tentang keselamatan dapat menyelamatkan diri sendiri sekaligus membantu menyelamatkan orang lain.”
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa aktivitas Anak Krakatau tidak semestinya menjadi sumber kepanikan. Peristiwa tersebut justru harus mendorong kewaspadaan berbasis ilmu pengetahuan, kepatuhan terhadap informasi resmi dan kesiapsiagaan yang lebih kuat.
Pendidikan harus terus berjalan. Tetapi ketika risiko bencana meningkat, keselamatan tetap menjadi yang utama.
SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG
Ketua Umum: Reza Prasatria Dharma





