EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Furnitur Indonesia Catat Potensi Rp39,7 Miliar di India, ETH Dorong UMKM Agresif Kejar Buyer Global

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 14 September 2026 Peluang ekspor furnitur Indonesia ke India semakin terbuka. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang (ETH) mendorong pelaku usaha, termasuk UMKM furnitur dan industri pendukung, memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas pasar sekaligus mengurangi...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 14 September 2026 Peluang ekspor furnitur Indonesia ke India semakin terbuka. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang (ETH) mendorong pelaku usaha, termasuk UMKM furnitur dan industri pendukung, memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas pasar sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor tradisional.

Kementerian Perdagangan mencatat Paviliun Indonesia pada pameran INDEXPLUS 2026 di New Delhi, India, 7–9 Agustus 2026, menghasilkan transaksi langsung sebesar USD151 ribu atau sekitar Rp2,65 miliar, sekaligus mencatat potensi transaksi USD2,26 juta atau sekitar Rp39,7 miliar. Informasi itu diumumkan Kemendag pada 10 September 2026.

banner 468x60

ETH: Potensi Harus Diubah Menjadi Kontrak Ekspor

ETH menilai capaian tersebut menunjukkan furnitur Indonesia memiliki peluang nyata di pasar India. Namun angka potensi transaksi belum boleh diperlakukan sebagai keberhasilan akhir sebelum berlanjut menjadi kontrak, produksi, pengiriman, dan pembayaran ekspor.

“Potensi Rp39,7 miliar harus dikejar sampai menjadi transaksi dan pengiriman nyata. ETH mendorong pengusaha Indonesia tidak berhenti pada pameran, tetapi melakukan tindak lanjut intensif kepada setiap calon buyer.”

Kemendag menyebut transaksi dan potensi transaksi di INDEXPLUS didukung kegiatan business matching yang difasilitasi ITPC Chennai sebelum dan setelah pameran. Sejumlah perusahaan Indonesia dipertemukan dengan calon pembeli India untuk menindaklanjuti kemungkinan kerja sama.

Selera Konsumen India Berubah, Produk Indonesia Punya Ruang Masuk

Perubahan preferensi konsumen perkotaan India menjadi peluang tersendiri.

Menurut Kemendag, konsumen di kota besar seperti Mumbai, Delhi National Capital Region, dan Bengaluru mulai menunjukkan pergeseran dari furnitur bergaya tradisional menuju desain minimalis-modern serta Scandinavian-industrial.

Kondisi ini dapat menjadi kesempatan bagi pengusaha Indonesia yang mampu menggabungkan desain kontemporer dengan karakter material dan keahlian pengerjaan produk Indonesia.

“Pengusaha tidak cukup membawa produk yang selama ini laku di dalam negeri. Untuk memenangkan buyer internasional, desain, ukuran, harga, kualitas, kemasan, dan kapasitas produksi harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar tujuan.”

ETH mendorong produsen furnitur melakukan riset pasar sebelum mengikuti pameran atau misi dagang sehingga produk yang ditawarkan telah sesuai dengan tren konsumen.

Empat Perusahaan Indonesia Tampil di New Delhi

Paviliun Indonesia di INDEXPLUS 2026 memiliki luas sekitar 156 meter persegi dan diikuti empat perusahaan Indonesia, yakni PT Polaris Inovasindo Jaya, PT Chakra Naga Furniture, PT Woodline Global Furniture, dan PT Woodie Homes Indonesia.

Mereka menampilkan furnitur yang menggabungkan desain kontemporer, keahlian pengerjaan, material premium, serta karakter budaya Indonesia.

ETH melihat model tersebut dapat diperluas agar semakin banyak UMKM furnitur mendapat akses pada pameran internasional.

“Banyak UMKM memiliki produk bagus tetapi belum pernah bertemu buyer luar negeri. Organisasi pengusaha harus membantu menjembatani produk yang layak ekspor dengan perwakilan perdagangan, distributor, dan pembeli internasional.”

AIFTA Bisa Memperkuat Daya Saing

Selain kualitas dan desain, eksportir perlu memahami fasilitas perdagangan yang tersedia.

Kemendag menyebut skema ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) dapat memberikan tarif preferensi bagi produk furnitur Indonesia, bahkan hingga nol persen untuk produk yang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Bagi ETH, fasilitas tersebut harus dimanfaatkan secara optimal karena selisih tarif dapat memengaruhi daya saing harga produk Indonesia.

Namun pengusaha harus memahami aturan asal barang, dokumen ekspor, klasifikasi HS, dan persyaratan lainnya agar fasilitas benar-benar dapat digunakan.

“Perjanjian perdagangan tidak akan membantu pengusaha kalau fasilitas tarifnya tidak dipahami. ETH mendorong eksportir mempelajari AIFTA secara teknis agar keuntungan tarif dapat diterjemahkan menjadi harga yang lebih kompetitif.”

Regulasi BIS Jadi Tantangan yang Harus Disiapkan

Pasar India juga memiliki persyaratan teknis yang perlu diperhatikan.

Kemendag menjelaskan pemerintah India telah menerapkan Furniture (Quality Control) Order 2025 terhadap sejumlah kategori furnitur, termasuk kursi kerja, kursi dan bangku umum, meja dan meja kerja, unit penyimpanan, tempat tidur, serta tempat tidur susun. Eksportir karena itu perlu memahami ketentuan Bureau of Indian Standards (BIS) sesuai jenis produk yang akan masuk ke India.

ETH menilai persoalan sertifikasi jangan baru diperiksa ketika barang siap dikirim.

“Persyaratan teknis harus diperiksa sejak produk masih direncanakan. Jangan sampai pesanan sudah diperoleh tetapi ekspor tertunda karena sertifikasi atau standar belum dipenuhi.”

SVLK Jadi Nilai Tambah Produk Kayu Indonesia

Kemendag juga menyoroti bahwa kepatuhan terhadap Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) dapat memberikan nilai tambah bagi produk kayu Indonesia karena membantu menunjukkan aspek legalitas dan keberlanjutan produk kepada mitra dagang.

ETH menilai tren perdagangan internasional semakin menuntut perusahaan membuktikan asal-usul bahan baku, legalitas, standar lingkungan, dan keberlanjutan.

Hal tersebut berarti kepatuhan bukan semata kewajiban administratif, tetapi dapat menjadi keunggulan bisnis.

ETH Dorong Pembentukan “India Market Desk”

Sebagai langkah nyata, ETH mendorong pembentukan ETH India Market Desk untuk membantu perusahaan Indonesia yang berminat memasuki pasar India.

Program tersebut dapat difokuskan pada pemetaan calon eksportir, identifikasi produk potensial, riset buyer, persiapan harga ekspor, pemahaman AIFTA dan BIS, hingga pendampingan business matching.

ETH juga mendorong penyusunan database furnitur dan produk interior siap ekspor yang dapat diperkenalkan kepada ITPC, Atase Perdagangan, KBRI, distributor, serta calon buyer India.

“ETH ingin setiap promosi dagang menghasilkan jalur bisnis yang jelas: siapa produsennya, siapa buyernya, berapa kapasitasnya, apa persyaratannya, dan kapan transaksi dapat direalisasikan.”

Peluang Bukan Hanya untuk Produsen Furnitur

Pertumbuhan ekspor furnitur juga dapat menggerakkan ekosistem usaha yang lebih luas.

Di belakang satu produk furnitur terdapat pemasok kayu dan material, industri logam, cat dan finishing, tekstil, kemasan, desain, pergudangan, logistik, jasa sertifikasi hingga perusahaan ekspedisi.

Karena itu, ETH menilai keberhasilan meningkatkan ekspor furnitur dapat menghasilkan efek berganda bagi pengusaha nasional.

“Satu kontrak ekspor furnitur dapat menggerakkan banyak sektor. Karena itu ekspor harus dipandang sebagai agenda pengembangan ekosistem pengusaha Indonesia, bukan hanya kegiatan satu eksportir.”

Business Matching Harus Menjadi Mesin Transaksi

Kementerian Perdagangan sepanjang 2026 juga terus mendorong business matching untuk UMKM. Dalam program yang lebih luas, Kemendag mencatat ratusan pertemuan bisnis yang mempertemukan UMKM Indonesia dengan buyer dari berbagai negara, termasuk India, dengan furnitur menjadi salah satu produk yang diminati.

ETH mendorong pola tersebut diperluas melalui kolaborasi pemerintah dan organisasi pengusaha.

“Pengusaha membutuhkan pasar nyata. ETH siap mendorong lebih banyak business matching yang berorientasi pada kontrak, pembayaran, pengiriman, dan hubungan dagang jangka panjang.”

ETH: UMKM Harus Naik Kelas Menjadi Eksportir

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai keberhasilan jangka panjang bukan hanya diukur dari nilai transaksi satu pameran.

Yang lebih penting adalah bertambahnya jumlah perusahaan Indonesia yang mampu melakukan ekspor secara berulang, mempertahankan kualitas dan membangun jaringan distributor di luar negeri.

“Target ETH adalah melahirkan lebih banyak eksportir baru. UMKM Indonesia harus naik kelas dari produsen lokal menjadi pemasok pasar internasional yang profesional, konsisten, dan berdaya saing.”

Potensi transaksi USD2,26 juta atau Rp39,7 miliar dari INDEXPLUS 2026 menjadi sinyal positif. Tantangannya kini adalah memastikan peluang tersebut ditindaklanjuti dan sekaligus membuka pintu bagi lebih banyak pengusaha Indonesia memasuki pasar India.

ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
“Pengusaha Kuat, Indonesia Maju.”

banner 336x280