EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Pemerintah Kaji Insentif Kendaraan Listrik Berbasis TKDN, ETH Dorong IKM Nasional Rebut Rantai Pasok EV

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 14 September 2026 Rencana pemerintah mengkaji insentif kendaraan listrik yang dikaitkan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) membuka peluang baru bagi industri komponen nasional. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang (ETH) mendorong IKM dan perusahaan...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 14 September 2026 Rencana pemerintah mengkaji insentif kendaraan listrik yang dikaitkan dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) membuka peluang baru bagi industri komponen nasional. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang (ETH) mendorong IKM dan perusahaan nasional segera mempersiapkan kapasitas produksi, kualitas, sertifikasi dan teknologi agar peningkatan kandungan lokal benar-benar berubah menjadi kontrak bisnis bagi pengusaha Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada 3 September 2026 menyampaikan pemerintah mulai mempelajari skema insentif kendaraan listrik yang mempertimbangkan pencapaian TKDN. Kementerian Perindustrian akan merancang skema tersebut dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan. Artinya, skema ini masih dalam tahap kajian dan belum menjadi insentif final yang berlaku.

banner 468x60

TKDN Ditargetkan Naik Bertahap hingga 80 Persen

Peta jalan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai menetapkan peningkatan minimum TKDN secara bertahap, yaitu 40 persen hingga 2026, 60 persen pada 2027–2029, dan 80 persen mulai 2030. Pemerintah ingin investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada perakitan, melainkan mendorong pertumbuhan industri komponen dan rantai pasok domestik.

ETH melihat target tersebut sebagai peluang industri yang sangat besar.

“Target TKDN harus diterjemahkan menjadi pesanan nyata bagi perusahaan Indonesia. IKM nasional perlu masuk sejak sekarang ke rantai pasok kendaraan listrik sebelum kebutuhan komponen semakin besar.”

Menurut ETH, perusahaan kecil dan menengah tidak harus langsung memproduksi baterai atau kendaraan lengkap. Peluang dapat dimulai dari komponen yang sesuai dengan kemampuan industri masing-masing.

14 Produsen EV Sudah Berinvestasi Rp24,131 Triliun

Kementerian Perindustrian mencatat telah terdapat 14 perusahaan kendaraan listrik roda empat yang berinvestasi di Indonesia. Total investasinya mencapai sekitar Rp24,131 triliun, dengan kapasitas produksi gabungan mencapai 409.860 unit per tahun.

Besarnya kapasitas tersebut berarti kebutuhan terhadap komponen, material, peralatan produksi dan berbagai jasa industri akan ikut berkembang.

ETH menilai peluang dapat terbuka pada industri logam, plastik, kabel, konektor, komponen kelistrikan, elektronik, tooling, kemasan, perangkat lunak, otomasi, pergudangan, logistik hingga jasa pemeliharaan.

“Jangan melihat kendaraan listrik hanya sebagai bisnis produsen mobil. Di belakang satu kendaraan terdapat ratusan komponen dan layanan yang dapat menjadi pasar bagi pengusaha Indonesia.”

Pabrik BYD Subang Perkuat Basis Manufaktur EV

Peresmian fasilitas produksi BYD di Subang pada 3 September menjadi salah satu perkembangan terbaru industri kendaraan listrik nasional.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat fasilitas tersebut berada di lahan sekitar 126 hektare dengan nilai investasi sekitar Rp16 triliun. Kehadirannya memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu pusat industri kendaraan listrik Indonesia.

BYD juga menyatakan tengah menyiapkan kegiatan manufaktur terkait baterai di Indonesia dan menargetkan pemenuhan TKDN 60 persen mulai 2027.

Bagi ETH, investasi besar seperti ini harus dimanfaatkan sebagai kesempatan membangun jaringan pemasok domestik.

ETH: Jangan Tunggu Tender, Siapkan Vendor dari Sekarang

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong perubahan pola pikir pengusaha. Perusahaan lokal tidak seharusnya menunggu pengadaan atau tender dibuka baru mencari tahu kebutuhan industri.

Pengusaha perlu terlebih dahulu mengetahui standar kualitas, kapasitas produksi, konsistensi suplai, harga, sertifikasi serta sistem audit yang digunakan pabrikan otomotif.

“Vendor otomotif tidak dapat dibangun dalam semalam. Perusahaan harus dipersiapkan jauh sebelum kontrak diberikan, mulai kualitas produk, kapasitas produksi sampai sistem manajemennya.”

ETH menilai kesiapan tersebut sangat penting karena industri otomotif menerapkan standar kualitas dan ketepatan pasokan yang tinggi.

Baterai Menjadi Salah Satu Kunci TKDN

Kementerian Perindustrian menilai baterai merupakan salah satu komponen penting untuk meningkatkan kandungan lokal kendaraan listrik. Pemerintah mendorong pembangunan rantai industri yang lebih lengkap agar pencapaian TKDN tidak hanya bergantung pada komponen sederhana.

Namun ETH menilai peluang tidak hanya tersedia pada produsen baterai besar.

Ekosistem baterai membutuhkan komponen pendukung, sistem pendinginan, casing, kelistrikan, pengujian, fasilitas produksi, pergudangan, keselamatan, transportasi hingga pengelolaan material.

“Hilirisasi baterai harus menciptakan lapisan industri baru di sekitarnya. Di sinilah perusahaan nasional dan IKM harus memperoleh ruang untuk tumbuh.”

ETH Dorong “EV Local Supplier Database”

Sebagai langkah konkret, ETH mendorong pembentukan EV Local Supplier Database Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang.

Database tersebut dapat memetakan perusahaan Indonesia berdasarkan jenis produk, mesin yang dimiliki, kapasitas produksi, sertifikasi, lokasi, pengalaman industri dan kemampuan memenuhi standar otomotif.

Perusahaan kemudian dapat dibagi ke sejumlah kelompok seperti logam dan machining, plastik dan moulding, kabel dan kelistrikan, elektronika, baterai dan komponen pendukung, perangkat lunak, logistik serta jasa teknik.

Setelah itu ETH dapat mempertemukan calon vendor dengan produsen kendaraan melalui supplier day, business matching dan vendor development program.

“ETH ingin mempertemukan investasi besar dengan kemampuan perusahaan Indonesia. Ketika produsen membutuhkan komponen, kita harus sudah mempunyai daftar perusahaan nasional yang siap menawarkan solusi.”

IKM Harus Naik Kelas Memenuhi Standar Otomotif

Tidak semua IKM langsung siap menjadi pemasok industri otomotif.

Karena itu ETH mendorong program peningkatan kemampuan yang mencakup standardisasi produk, kontrol kualitas, produktivitas, penggunaan mesin, digitalisasi produksi dan sertifikasi.

Kebijakan TKDN yang diperkuat pemerintah juga telah mengalami reformasi melalui Permenperin Nomor 35 Tahun 2025, yang diarahkan untuk membuat proses sertifikasi lebih mudah, cepat dan transparan serta memperkuat daya saing industri nasional.

“TKDN tidak boleh hanya menjadi kewajiban administratif. TKDN harus menjadi instrumen untuk melahirkan perusahaan komponen Indonesia yang benar-benar kompetitif.”

Insentif Harus Mendorong Produksi, Bukan Sekadar Penjualan

ETH mendukung pemberian insentif apabila desain kebijakannya mampu meningkatkan investasi, produksi domestik dan penggunaan komponen dalam negeri.

Karena skema berbasis TKDN tersebut masih dalam kajian, ETH mendorong pemerintah melibatkan produsen kendaraan, industri komponen, IKM dan organisasi pengusaha sebelum desain akhirnya ditetapkan.

“Jika insentif diberikan, ukurannya harus mendorong semakin banyak aktivitas industri dilakukan di Indonesia. Semakin tinggi nilai tambah yang diciptakan di dalam negeri, semakin besar manfaatnya bagi ekonomi nasional.”

Dari Pasar Kendaraan Listrik Menjadi Basis Produksi

ETH menilai tujuan besar Indonesia seharusnya tidak berhenti menjadi pasar kendaraan listrik.

Masuknya investasi harus digunakan untuk membangun kemampuan memproduksi kendaraan, baterai, komponen dan teknologi sekaligus menciptakan jaringan pemasok nasional.

“Indonesia jangan hanya menjadi tempat menjual kendaraan listrik. Kita harus menjadi tempat kendaraan, baterai dan komponennya diproduksi, dengan semakin banyak pengusaha Indonesia terlibat di dalamnya.”

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang karena itu mendorong pengusaha mulai memetakan kemampuannya sekarang. Target TKDN 60 persen pada 2027–2029 dan 80 persen mulai 2030 berarti kebutuhan terhadap komponen lokal akan semakin besar. Perusahaan yang mempersiapkan diri lebih awal memiliki peluang lebih kuat memasuki rantai industri kendaraan listrik nasional.

ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
“Pengusaha Kuat, Indonesia Maju.”

banner 336x280