EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Seleksi Magang Nasional Batch 2 Berakhir Hari Ini, DPN ETH: Jangan Jadikan Anak Muda Tenaga Murah, Magang Harus Membuka Jalan ke Dunia Kerja

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menyoroti pelaksanaan Program Pemagangan Nasional MagangHub 2026 Batch 2 Angkatan II yang pada hari ini, Selasa 15 September 2026, memasuki hari terakhir tahapan rekrutmen dan pengusulan peserta oleh...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menyoroti pelaksanaan Program Pemagangan Nasional MagangHub 2026 Batch 2 Angkatan II yang pada hari ini, Selasa 15 September 2026, memasuki hari terakhir tahapan rekrutmen dan pengusulan peserta oleh perusahaan serta instansi penyelenggara.

Berdasarkan jadwal resmi Kementerian Ketenagakerjaan, peserta telah melakukan pendaftaran pada 3–8 September 2026. Mitra penyelenggara kemudian melakukan rekrutmen dan pengusulan peserta pada 9–15 September. Kemnaker dijadwalkan melakukan seleksi dan penetapan pada 16–18 September, hasil diumumkan 18 September, sedangkan peserta yang lolos dijadwalkan mulai mengikuti pemagangan pada 21 September 2026.

banner 468x60

DPN ETH menilai program tersebut dapat menjadi jembatan penting antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Namun ukuran keberhasilannya tidak boleh berhenti pada banyaknya peserta yang diterima magang.

Yang jauh lebih penting adalah apakah peserta mendapat kompetensi nyata, pengalaman profesional, sertifikasi yang relevan, perlindungan selama mengikuti program, serta peluang lebih besar memperoleh pekerjaan setelah program berakhir.

H. Safrizal: Magang Harus Membentuk Pekerja Berkualitas, Bukan Menyediakan Tenaga Murah

Ketua Umum DPN Elang Tiga Hambalang, H. Safrizal, menegaskan bahwa program pemagangan nasional layak didukung sepanjang kepentingan generasi muda ditempatkan sebagai tujuan utama.

Dalam sikap DPN ETH, H. Safrizal mengingatkan bahwa pemagangan berbeda dengan hubungan kerja biasa. Karena itu perusahaan tidak boleh memanfaatkan label “magang” untuk sekadar memperoleh tenaga dengan biaya lebih murah tanpa memberikan proses pembelajaran yang jelas.

“Anak muda datang mengikuti program magang untuk belajar, meningkatkan kemampuan dan membuka pintu menuju dunia kerja. Jangan sampai mereka hanya diberikan pekerjaan rutin tanpa pembimbingan, tanpa peningkatan kompetensi dan tanpa nilai tambah untuk masa depannya,” tegas H. Safrizal.

Menurut H. Safrizal, setiap program magang seharusnya mempunyai target kompetensi yang dapat dievaluasi.

Peserta perlu mengetahui apa yang akan dipelajari, siapa pembimbingnya, apa kemampuan yang harus dikuasai dan bagaimana pencapaian mereka dinilai setelah program selesai.

Program Ditujukan Menjawab Kebutuhan Dunia Kerja

Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan keterlibatan perusahaan, kementerian dan lembaga dalam MagangHub dimaksudkan untuk memperluas kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi dan pendidikan profesi memperoleh pengalaman kerja sekaligus meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.

Menaker Yassierli juga menegaskan kualitas penyelenggaraan harus dijaga agar peserta benar-benar memperoleh pengalaman kerja dan pembelajaran yang relevan dengan kompetensinya.

DPN ETH menilai prinsip tersebut penting karena salah satu persoalan pasar kerja Indonesia adalah ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.

Namun persoalan skills mismatch tidak dapat dibebankan hanya kepada lulusan baru.

Institusi pendidikan, pemerintah dan dunia usaha juga mempunyai tanggung jawab membangun jalur transisi yang lebih jelas dari pendidikan menuju pekerjaan.

Ganda Satria Dharma: Pernyataan Ketua Umum Harus Diterjemahkan Menjadi Standar Mutu Magang

Pernyataan H. Safrizal tersebut kemudian diperjelas oleh Sekretaris Jenderal DPN Elang Tiga Hambalang, Ganda Satria Dharma.

Menurut Ganda, yang dimaksud Ketua Umum adalah perlunya pemerintah memiliki indikator kualitas yang sama seriusnya dengan indikator jumlah peserta.

Menurutnya, setiap perusahaan atau lembaga penyelenggara seharusnya dapat menunjukkan kurikulum magang, mentor, target kompetensi, bentuk evaluasi, kehadiran peserta serta hasil pembelajaran.

“Yang disampaikan Ketua Umum H. Safrizal adalah jangan menilai keberhasilan hanya dari berapa ribu orang masuk program. Pemerintah juga harus mengetahui apa yang mereka pelajari dan apakah setelah selesai mereka menjadi lebih siap memasuki dunia kerja,” jelas Ganda.

Ia menilai MagangHub sebenarnya mempunyai keunggulan karena pengelolaan penyelenggara, program dan peserta menggunakan ekosistem SIAPKerja sehingga proses dapat dipantau secara digital. Platform penyelenggara juga menyediakan fungsi seleksi, nominasi dan pemantauan program secara terintegrasi.

DPN ETH Minta Proses Seleksi Transparan

DPN ETH juga meminta proses seleksi peserta berlangsung berdasarkan kompetensi dan kebutuhan program.

H. Safrizal menilai peluang program nasional harus dapat diakses secara adil oleh generasi muda di berbagai daerah.

Ia mengingatkan jangan sampai program pemerintah yang bertujuan membuka akses pengalaman kerja justru terkonsentrasi hanya pada perusahaan dan peserta di kota-kota besar.

Kementerian Ketenagakerjaan sendiri sebelumnya menyatakan Program Magang Nasional perlu diperluas agar tidak terpusat di Jakarta dan manfaatnya dapat dirasakan di wilayah Indonesia Barat, Tengah dan Timur.

Ganda: Pemerintah Harus Mengukur Berapa Peserta yang Mendapat Pekerjaan Setelah Magang

Ganda Satria Dharma kemudian menyoroti persoalan yang menurut DPN ETH sangat penting, yakni hasil setelah peserta menyelesaikan magang.

Menurut Ganda, pemerintah perlu melakukan tracer study terhadap peserta.

Berapa persen diterima bekerja di perusahaan tempat magang, berapa yang memperoleh pekerjaan di perusahaan lain, berapa yang melanjutkan sertifikasi, dan berapa yang kembali menganggur harus diketahui.

Menurutnya, tanpa data tersebut pemerintah hanya mengetahui jumlah peserta, tetapi tidak mengetahui efektivitas program dalam mengurangi hambatan masuk ke pasar kerja.

“Kalau setelah mengikuti program kemampuan peserta meningkat dan peluang memperoleh pekerjaan juga meningkat, maka program berhasil. Tetapi kalau selesai magang mereka kembali menghadapi persoalan yang sama, desain programnya harus dievaluasi,” jelas Ganda.

Sertifikasi Kompetensi Harus Diperluas

DPN ETH juga melihat sertifikasi kompetensi sebagai salah satu nilai tambah penting.

Kemnaker melalui unit pelatihan vokasinya telah menyediakan kesempatan sertifikasi kompetensi BNSP untuk sejumlah peserta pemagangan, termasuk bidang K3, pemasaran digital, desain grafis, pengembangan web, audio visual dan administrasi perkantoran. ([BBPVP Bandung][5])

H. Safrizal menilai sertifikat kompetensi yang benar-benar diuji mempunyai nilai lebih besar dibanding sekadar surat keterangan pernah magang.

Menurutnya, pengakuan kemampuan akan membantu peserta ketika melamar pekerjaan di perusahaan lain.

DPN ETH: Jangan Ada Eksploitasi Berkedok Magang

DPN Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa program pemagangan harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan perlindungan peserta.

Perusahaan membutuhkan talenta baru dan peserta membutuhkan pengalaman kerja. Hubungan tersebut harus saling menguntungkan.

DPN ETH meminta Kemnaker membuka kanal pengaduan yang mudah apabila peserta menemukan praktik yang tidak sesuai dengan program, termasuk pekerjaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan kompetensi, tidak adanya pembimbingan atau beban kerja yang tidak proporsional.

H. Safrizal menilai perlindungan semacam itu penting agar peserta berani melaporkan persoalan tanpa khawatir kehilangan kesempatan dalam program.

Ganda: Perusahaan yang Berkualitas Harus Mendapat Prioritas

Ganda Satria Dharma mengusulkan agar hasil evaluasi penyelenggara digunakan untuk menentukan kelanjutan keterlibatan perusahaan pada batch berikutnya.

Perusahaan yang mampu memberikan pembimbingan baik, meningkatkan kompetensi peserta dan memiliki tingkat penyerapan lulusan tinggi layak diberikan ruang lebih besar.

Sebaliknya, penyelenggara yang tidak memberikan pengalaman belajar berkualitas harus dievaluasi.

Menurut Ganda, mekanisme tersebut akan menciptakan kompetisi yang sehat antarmitra untuk menjadi tempat magang berkualitas.

DPN ETH Dorong Lima Standar Program Magang Nasional

DPN Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah memastikan sedikitnya lima hal: seleksi peserta yang transparan, kurikulum dan mentor yang jelas, perlindungan peserta dari eksploitasi, sertifikasi kompetensi yang relevan, serta pengukuran tingkat penyerapan kerja setelah program selesai.

DPN ETH juga mendorong pemerataan kesempatan hingga luar kota-kota besar.

H. Safrizal: Bonus Demografi Bisa Menjadi Kekuatan atau Masalah

H. Safrizal menegaskan bahwa jutaan generasi muda Indonesia merupakan modal besar pembangunan.

Namun modal tersebut hanya akan menghasilkan manfaat apabila tersedia pendidikan, keterampilan dan pekerjaan yang cukup.

Menurutnya, pemerintah harus memperlakukan program pemagangan sebagai bagian dari strategi ketenagakerjaan nasional, bukan sekadar program jangka pendek.

“Generasi muda jangan hanya diminta siap bekerja. Negara dan dunia usaha juga harus memastikan ada jalan yang jelas agar mereka bisa masuk dan berkembang di dunia kerja,” tegas H. Safrizal.

Ganda: Magang Harus Berakhir dengan Kompetensi, Bukan Sekadar Sertifikat Kehadiran

Ganda Satria Dharma kembali memperjelas pernyataan Ketua Umum.

Menurutnya, peserta harus keluar dari program dengan kemampuan yang lebih kuat dibanding ketika mereka masuk.

DPN ETH menilai magang yang berkualitas harus menghasilkan kompetensi, pengalaman dan peluang kerja—bukan hanya sertifikat bahwa seseorang pernah mengikuti program.

Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang
H. Safrizal — Ketua Umum
Ganda Satria Dharma — Sekretaris Jenderal

banner 336x280