Sawit Naik Kelas: Ekspor Tumbuh, Nilai Tambah Didorong Kembali ke Pekebun
Hambalang, 15 September 2026 — Kinerja industri kelapa sawit Indonesia kembali mencatatkan pertumbuhan positif. Ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya meningkat 5,49 persen sepanjang Januari–Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kementerian Pertanian...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, 15 September 2026 — Kinerja industri kelapa sawit Indonesia kembali mencatatkan pertumbuhan positif. Ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya meningkat 5,49 persen sepanjang Januari–Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kementerian Pertanian menyatakan pertumbuhan tersebut memperkuat kontribusi komoditas sawit terhadap ekspor pertanian Indonesia. Peningkatan harga minyak sawit di pasar global turut mendukung kenaikan nilai ekspor.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Januari–Juli 2026 mencapai US$160,01 miliar, tumbuh 5,21 persen secara tahunan. Sementara itu, total ekspor Indonesia mencapai US$167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai momentum pertumbuhan ekspor perlu dimanfaatkan untuk memperkuat hilirisasi. Indonesia tidak cukup hanya menjual bahan mentah, tetapi perlu meningkatkan pengolahan sawit menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.
Penguatan sektor sawit dilakukan dari hulu hingga hilir melalui peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, perbaikan teknik budidaya, peningkatan produktivitas, dan pengembangan industri pengolahan.
Industri pengolahan tercatat tumbuh 7,16 persen sepanjang Januari–Juli 2026. Kondisi ini menunjukkan peluang besar bagi pengembangan produk turunan sawit yang mampu memperkuat daya saing Indonesia di pasar internasional.
Tiongkok menjadi salah satu pasar penting bagi produk nonmigas Indonesia. Nilai ekspor nonmigas ke negara tersebut mencapai US$40,62 miliar pada Januari–Juli 2026 atau meningkat 18,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, pertumbuhan ekspor perlu memberikan dampak nyata bagi pekebun. Peningkatan nilai perdagangan harus diikuti harga yang layak, kemitraan yang adil, akses terhadap benih unggul, dukungan peremajaan, dan penguatan posisi pekebun dalam rantai industri.
“Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menyambut positif pertumbuhan ekspor CPO dan produk turunannya. Namun, keberhasilan ekspor harus dirasakan secara adil oleh pekebun yang berada di garis depan produksi.”
“Kami mendorong hilirisasi yang melibatkan koperasi dan kelompok pekebun, memperkuat akses terhadap benih unggul serta peremajaan tanaman, dan menjamin pola kemitraan yang transparan. Sawit Indonesia harus naik kelas bersama para pekebunnya.”
Sumber: Kementerian Pertanian RI dan data Badan Pusat Statistik.





