EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

BI Perbesar Insentif Likuiditas hingga 6 Persen, ETH Desak Perbankan Perluas Kredit UMKM dan Sektor Produktif

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 14 September 2026 Kebijakan terbaru Bank Indonesia yang memperbesar ruang Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi momentum penting untuk mempercepat pembiayaan sektor produktif. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang (ETH) mendorong perbankan memastikan tambahan insentif...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 14 September 2026 Kebijakan terbaru Bank Indonesia yang memperbesar ruang Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi momentum penting untuk mempercepat pembiayaan sektor produktif. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang (ETH) mendorong perbankan memastikan tambahan insentif likuiditas tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi kredit yang lebih mudah dijangkau UMKM, perusahaan menengah, industri dan pelaku usaha produktif.

Bank Indonesia melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 26 Tahun 2026 menetapkan besaran maksimum KLM menjadi 6 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Ketentuan baru tersebut berlaku sejak 1 September 2026. Dari jumlah tersebut, insentif melalui penyaluran kredit atau pembiayaan kepada sektor tertentu dapat mencapai maksimal 4 persen, sementara insentif melalui kanal pendalaman pasar uang dapat mencapai 2 persen.

banner 468x60

UMKM Masuk Sektor yang Didorong BI

Dalam desain KLM terbaru, sektor yang memperoleh perhatian antara lain pertanian, industri dan hilirisasi; jasa termasuk ekonomi kreatif; konstruksi, real estat dan perumahan; serta UMKM, koperasi, inklusi dan pembiayaan berkelanjutan.

Bagi ETH, kebijakan tersebut menunjukkan bahwa ruang kebijakan untuk mendorong kredit ke sektor produktif sudah diperkuat. Tantangannya sekarang adalah memastikan insentif tersebut menghasilkan peningkatan pembiayaan riil di lapangan.

“Ketika Bank Indonesia memperbesar ruang insentif likuiditas, manfaat akhirnya harus dirasakan pengusaha. Kredit produktif harus semakin terbuka bagi UMKM, industri dan perusahaan yang mempunyai usaha sehat serta rencana ekspansi yang jelas.”

Kredit Perbankan Tumbuh, tetapi UMKM Masih Tertinggal

Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan memperlihatkan intermediasi perbankan nasional terus meningkat. Per Juli 2026, kredit perbankan tumbuh 13,58 persen secara tahunan sehingga total penyaluran mencapai sekitar Rp9.135 triliun.

Kredit investasi bahkan tumbuh 25,13 persen, kredit modal kerja 11,04 persen, sedangkan kredit korporasi tumbuh 22,10 persen. Namun kredit UMKM hanya tumbuh 1,62 persen secara tahunan, meski meningkat dari 1,05 persen pada bulan sebelumnya.

Perbedaan tersebut dinilai ETH perlu menjadi perhatian.

“Ketika kredit investasi tumbuh lebih dari 25 persen sementara kredit UMKM masih sekitar 1,6 persen, terdapat pekerjaan besar untuk memperbaiki akses pembiayaan pengusaha kecil dan menengah. UMKM yang layak jangan kehilangan kesempatan berkembang hanya karena belum siap menghadapi standar administrasi perbankan.”

ETH Dorong Bank Turunkan Insentif Menjadi Kredit Nyata

Bank Indonesia mencatat hingga minggu pertama Juli 2026 insentif KLM yang diterima perbankan telah mencapai sekitar Rp431,9 triliun. Sebanyak Rp369 triliun berada pada lending channel dan Rp62,9 triliun melalui kanal suku bunga. Insentif tersebut telah diarahkan ke berbagai sektor prioritas, termasuk UMKM.

ETH menilai angka besar tersebut harus diikuti indikator yang dapat dirasakan langsung oleh dunia usaha, seperti bertambahnya debitur produktif, pembiayaan investasi baru, peningkatan kapasitas produksi dan penciptaan lapangan kerja.

“Ukuran keberhasilan kebijakan likuiditas bukan semata berapa besar insentif yang diterima bank. Yang lebih penting adalah berapa banyak pengusaha memperoleh modal, berapa pabrik memperbesar produksi, dan berapa banyak pekerjaan baru tercipta.”

Masalah UMKM Bukan Hanya Ketersediaan Uang

ETH melihat kendala pembiayaan UMKM sering berada pada sisi kesiapan perusahaan. Banyak pelaku usaha memiliki transaksi dan pasar tetapi masih lemah dalam laporan keuangan, legalitas, administrasi pajak, pencatatan arus kas maupun dokumentasi usaha.

Kondisi tersebut menyebabkan perusahaan yang sebenarnya produktif belum selalu memenuhi standar pembiayaan perbankan.

Karena itu, ETH mendorong agar kebijakan penambahan likuiditas bank berjalan bersama program peningkatan kesiapan debitur.

“Kita tidak meminta bank meninggalkan prinsip kehati-hatian. Yang harus dilakukan adalah membantu pengusaha memenuhi standar bank sehingga usaha yang sehat dapat menjadi bankable.”

ETH Siapkan “Credit Readiness Center”

Sebagai langkah konkret, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pembentukan ETH Credit Readiness Center.

Program ini dapat membantu pengusaha melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi perusahaan sebelum mengajukan pembiayaan, meliputi laporan keuangan, legalitas badan usaha, arus kas, kewajiban perpajakan, histori kredit, kebutuhan modal serta kemampuan membayar.

Setelah dinyatakan siap, perusahaan dapat dipertemukan dengan bank yang memiliki produk pembiayaan paling sesuai.

ETH juga mendorong penyelenggaraan Financing Matching Forum secara berkala antara pengusaha dengan bank nasional, bank pembangunan daerah dan lembaga pembiayaan.

“Organisasi pengusaha harus menjadi jembatan. Kami ingin membawa pengusaha yang sudah siap pembiayaan langsung bertemu bank, sehingga forum bisnis tidak berhenti menjadi seminar tetapi menghasilkan realisasi kredit.”

Dorong Pembiayaan untuk Mesin, Pabrik dan Ekspansi

ETH menilai prioritas pembiayaan perlu semakin diarahkan kepada kegiatan yang meningkatkan produktivitas.

Kredit untuk pembelian mesin, pembangunan atau perluasan pabrik, digitalisasi usaha, gudang, transportasi, peningkatan kapasitas produksi dan pengembangan pasar akan memberikan efek ekonomi lebih luas daripada pembiayaan yang tidak menghasilkan nilai tambah.

Bank Indonesia sendiri menyatakan penyempurnaan KLM ditujukan untuk mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan menuju tingkat yang optimal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Modal harus bertemu dengan kegiatan produktif. Ketika perusahaan memperoleh pembiayaan untuk memperbesar produksi, manfaatnya bergerak ke pemasok, pekerja, transportasi, perdagangan hingga penerimaan negara.”

ETH: Jangan Biarkan UMKM Hanya Jadi Penonton Pertumbuhan Kredit

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa peningkatan likuiditas dan pertumbuhan kredit nasional harus menjadi kesempatan mempercepat kenaikan kelas pengusaha Indonesia.

ETH mendorong perbankan, pemerintah dan organisasi pengusaha membangun sistem pendampingan yang membuat semakin banyak UMKM berubah dari usaha informal menjadi perusahaan yang memiliki pembukuan, legalitas dan kemampuan mengakses pembiayaan.

“Target kita bukan hanya membuat UMKM bertahan. Kita harus melahirkan UMKM yang naik kelas menjadi perusahaan menengah, kemudian tumbuh menjadi perusahaan besar Indonesia. Akses modal merupakan salah satu kuncinya.”

Kebijakan Bank Indonesia yang berlaku sejak September 2026 menjadi momentum penting. ETH akan mendorong agar insentif tersebut tidak berhenti di neraca perbankan, tetapi bergerak sampai ke mesin produksi, toko, pabrik, gudang dan usaha masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
“Pengusaha Kuat, Indonesia Maju.”

banner 336x280