Indonesia Menuju Negara Maju 2045, Reza Prasatria Dharma: Generasi Muda Harus Menguasai Teknologi, Riset dan Berani Menciptakan Lapangan Kerja
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — Generasi muda Indonesia memiliki posisi menentukan dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Tantangannya bukan hanya menghasilkan semakin banyak lulusan perguruan tinggi, tetapi memastikan mahasiswa mampu menguasai sains dan teknologi, menghasilkan inovasi, membangun industri serta menciptakan pekerjaan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — Generasi muda Indonesia memiliki posisi menentukan dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Tantangannya bukan hanya menghasilkan semakin banyak lulusan perguruan tinggi, tetapi memastikan mahasiswa mampu menguasai sains dan teknologi, menghasilkan inovasi, membangun industri serta menciptakan pekerjaan berkualitas.
Isu tersebut menjadi perhatian Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang setelah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam sejumlah agenda terbaru menekankan pentingnya penguasaan teknologi dan inovasi oleh generasi muda.
Pada 9 September 2026, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan bahwa periode menuju 2045 merupakan masa penting bagi generasi muda. Kemdiktisaintek mendorong talenta muda menguasai teknologi sekaligus menghasilkan inovasi yang berkontribusi terhadap pembangunan. ([Kemendikbudristek][1])
Reza: Jangan Hanya Menjadi Pengguna Teknologi
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Reza Prasatria Dharma menilai mahasiswa perlu berani meningkatkan target.
“Generasi muda Indonesia jangan hanya menjadi konsumen teknologi. Kita harus bergerak menjadi peneliti, inovator, pengusaha dan pencipta teknologi yang mampu memberikan nilai tambah bagi bangsa.”
Menurut Reza, mahasiswa tidak cukup hanya mengejar ijazah. Penguasaan ilmu pengetahuan harus dapat diterjemahkan menjadi kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat dan menghasilkan inovasi.
Indonesia Butuh Kebangkitan Industri Berbasis Teknologi
Pesan tersebut semakin relevan setelah Mendiktisaintek pada 10 September 2026 menekankan perlunya visi besar agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
Kemdiktisaintek menyatakan kemajuan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi. Pembangunan sumber daya manusia, kebangkitan industri nasional, penguasaan teknologi dan inovasi menjadi bagian penting untuk menghasilkan karya Indonesia yang mampu bersaing secara global.
Satuan Mahasiswa ETH mendukung arah tersebut, tetapi menilai visi besar harus diterjemahkan menjadi kesempatan konkret bagi generasi muda.
“Kalau kita ingin Indonesia menjadi negara maju, mahasiswa harus mendapatkan laboratorium yang baik, akses penelitian, pembiayaan inovasi, kesempatan magang, dukungan kewirausahaan dan ruang untuk mengembangkan teknologi.”
AI dan Teknologi Baru Mengubah Persaingan
Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat. Kemdiktisaintek pada 9 September juga menyoroti perkembangan kecerdasan artifisial (AI), bioengineering, 3D printing, cloud dan agentic AI sebagai bagian dari perubahan teknologi yang menuntut ekosistem inovasi menghubungkan talenta, penelitian, teknologi dan kebutuhan industri.
Bagi Satuan Mahasiswa ETH, mahasiswa tidak seharusnya takut menghadapi perkembangan AI.
Sebaliknya, generasi muda perlu memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja dan bagaimana menggunakannya untuk meningkatkan produktivitas, penelitian, bisnis serta pelayanan kepada masyarakat.
“AI jangan hanya kita gunakan untuk mencari jawaban. Mahasiswa harus belajar bagaimana menciptakan solusi dengan AI dan teknologi baru. Masa depan akan menjadi milik generasi yang mampu belajar lebih cepat dan menciptakan sesuatu yang mempunyai nilai.”
Jangan Sampai Indonesia Hanya Menjadi Pasar
Satuan Mahasiswa ETH mengingatkan bahwa besarnya jumlah penduduk dan pengguna teknologi Indonesia juga menjadikan Indonesia pasar yang sangat menarik.
Namun menjadi pasar saja tidak cukup.
Indonesia membutuhkan semakin banyak teknologi, produk, kekayaan intelektual dan perusahaan yang dibangun oleh anak bangsa.
Perguruan tinggi, menurut organisasi, mempunyai peranan strategis sebagai tempat lahirnya inovasi tersebut.
Mahasiswa Juga Harus Menjadi Pencipta Lapangan Kerja
Satuan Mahasiswa ETH juga mendorong penguatan kewirausahaan mahasiswa.
Kemdiktisaintek pada Juni 2026 menegaskan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan pencari kerja (job seeker), tetapi juga pencipta lapangan kerja (job creator). Pemerintah mengaitkan penguatan kewirausahaan dengan tantangan ketenagakerjaan dan bonus demografi Indonesia.
Reza menilai mahasiswa yang mempunyai gagasan bisnis berbasis teknologi, ekonomi kreatif, pertanian, pangan, energi maupun kebutuhan masyarakat perlu memperoleh dukungan lebih besar.
“Tidak semua mahasiswa harus menjadi pengusaha. Tetapi mahasiswa yang mempunyai inovasi dan keberanian membangun usaha harus mendapatkan ekosistem yang membuat idenya dapat tumbuh menjadi perusahaan dan membuka lapangan kerja.”
Optimisme Harus Diikuti Kesempatan Kerja
Satuan Mahasiswa ETH memberikan catatan bahwa ajakan kepada generasi muda untuk mempunyai cita-cita besar juga harus diikuti kebijakan yang menghasilkan kesempatan ekonomi.
Data yang dikutip Kemdiktisaintek menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, sementara pemuda yang tergolong tidak bekerja, tidak bersekolah dan tidak mengikuti pelatihan (NEET) masih mencapai 19,44 persen.
Karena itu, optimisme menuju Indonesia Emas harus berjalan bersama penciptaan pekerjaan berkualitas.
“Jangan hanya mengatakan kepada anak muda agar bermimpi besar. Negara juga harus membangun ekosistem agar mimpi itu mempunyai jalan untuk diwujudkan.”
Talenta Indonesia Harus Berani Bersaing Global
Kesempatan bagi generasi muda juga semakin terbuka secara internasional.
Kemdiktisaintek bersama Bappenas pada Agustus 2026 mendorong perguruan tinggi menyiapkan talenta yang adaptif, profesional dan inovatif untuk memasuki pasar kerja global. Data pemerintah yang dikutip kementerian saat itu mencatat terdapat 327.658 peluang kerja luar negeri hingga April 2026, dan 258.471 posisi atau 78,88 persen masih tersedia.
Satuan Mahasiswa ETH memandang mahasiswa Indonesia harus dipersiapkan untuk mampu bersaing secara internasional tanpa kehilangan orientasi membangun Indonesia.
Lima Agenda untuk Generasi Muda
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong lima agenda utama: penguasaan sains dan teknologi; perluasan kesempatan riset dan inovasi mahasiswa; pembangunan ekosistem kewirausahaan kampus; penguatan hubungan kampus dengan industri strategis; serta penciptaan lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda.
Perguruan tinggi juga harus memperkuat kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pemecahan masalah, bahasa asing dan kemampuan belajar secara berkelanjutan.
Dari Hambalang Menuju Indonesia 2045
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Reza Prasatria Dharma mengajak mahasiswa memandang 2045 bukan hanya sebagai slogan pembangunan.
Pada saat Indonesia memperingati satu abad kemerdekaan, mahasiswa hari ini akan berada pada usia produktif dan banyak di antaranya akan menempati posisi strategis di pemerintahan, industri, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat.
“Indonesia 2045 akan ditentukan oleh apa yang generasi muda pelajari, bangun dan ciptakan mulai hari ini. Mahasiswa harus mempunyai keberanian bermimpi besar, tetapi juga disiplin menguasai ilmu, teknologi dan kompetensi untuk mewujudkannya.”
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa cita-cita menjadi negara maju harus dibangun dengan pendidikan berkualitas, penguasaan teknologi, riset yang kuat, industri nasional yang berdaya saing dan pekerjaan yang memberikan masa depan kepada generasi muda.
Mahasiswa jangan hanya menunggu masa depan. Mahasiswa harus ikut menciptakan masa depan Indonesia.
SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG
Ketua Umum: Reza Prasatria Dharma





