103 Atlet Indonesia Tiba di Jepang, ETH Dorong Asian Para Games Jadi Momentum Memperkuat Olahraga Disabilitas Nasional
Edisi Selasa, 13 Oktober 2026 Kontingen Merah Putih mulai memasuki fase akhir menuju Asian Para Games Aichi–Nagoya 2026. Satuan Pecinta Seni dan Olahraga Elang Tiga Hambalang mendorong pembinaan jangka panjang, sport science, fasilitas aksesibel, serta kepastian kesejahteraan atlet. Hambalang, Kabupaten...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Edisi Selasa, 13 Oktober 2026
Kontingen Merah Putih mulai memasuki fase akhir menuju Asian Para Games Aichi–Nagoya 2026. Satuan Pecinta Seni dan Olahraga Elang Tiga Hambalang mendorong pembinaan jangka panjang, sport science, fasilitas aksesibel, serta kepastian kesejahteraan atlet.
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Selasa, 13 Oktober 2026 (WIB).
Kontingen Indonesia resmi tiba di Jepang untuk menghadapi Asian Para Games Aichi–Nagoya 2026. Sebanyak 103 atlet yang akan berlaga pada 12 cabang olahraga tiba di Bandara Internasional Chubu Centrair, Nagoya, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Asian Para Games dijadwalkan berlangsung pada 18–24 Oktober 2026.
Kehadiran para atlet di Jepang menandai dimulainya fase akhir persiapan Indonesia menuju salah satu ajang olahraga disabilitas terbesar di Asia. Sebelumnya, Kementerian Pemuda dan Olahraga mengukuhkan dan melepas kontingen dengan target tujuh medali emas dan posisi 10 besar. Pemerintah juga menegaskan dukungan terhadap pola pemusatan latihan jangka panjang atau multiyears, karena prestasi atlet dinilai membutuhkan proses yang tidak instan.
Bagi Satuan Pecinta Seni dan Olahraga Elang Tiga Hambalang, kedatangan 103 atlet tersebut tidak hanya membawa harapan medali. Momentum ini harus menjadi ukuran sejauh mana Indonesia benar-benar membangun ekosistem olahraga disabilitas yang profesional, inklusif, dan berkelanjutan.
ETH: Atlet Jangan Hanya Diperhatikan Saat Bertanding
Satuan Pecinta Seni dan Olahraga Elang Tiga Hambalang memandang atlet penyandang disabilitas membutuhkan dukungan yang sama seriusnya dengan atlet pada cabang olahraga lainnya.
Pembinaan tidak boleh berhenti setelah Asian Para Games selesai. Atlet membutuhkan program latihan jangka panjang, pelatih berkualitas, sport science, layanan medis, psikologi olahraga, nutrisi, peralatan adaptif, serta kepastian pendidikan dan masa depan setelah pensiun.
ETH mengusulkan lima langkah konkret.
Pertama, Kemenpora bersama NPC Indonesia perlu mempertahankan sistem pelatnas jangka panjang dengan indikator performa yang dapat diperiksa setiap tahun.
Kedua, pemerintah daerah harus memperluas pusat pembinaan olahraga disabilitas agar talenta dari kabupaten dan kota tidak kehilangan kesempatan karena keterbatasan fasilitas.
Ketiga, fasilitas olahraga perlu diaudit dari sisi aksesibilitas, termasuk jalur kursi roda, toilet, ruang ganti, transportasi, serta area latihan adaptif.
Keempat, setiap atlet nasional sebaiknya memiliki profil sport science terintegrasi yang mencatat kondisi fisik, cedera, nutrisi, beban latihan, pemulihan dan perkembangan performa.
Kelima, program kesejahteraan harus mencakup beasiswa, perlindungan kesehatan, pelatihan keterampilan, dan persiapan karier setelah masa kompetitif berakhir.
Prestasi Harus Meninggalkan Sistem yang Lebih Kuat
Satuan Pecinta Seni dan Olahraga ETH menilai target tujuh emas patut diperjuangkan, tetapi keberhasilan nasional tidak boleh hanya dinilai dari klasemen medali.
Ukuran yang lebih besar adalah apakah Indonesia mampu membuat semakin banyak penyandang disabilitas aktif berolahraga, menemukan talenta baru, meningkatkan kualitas pelatih, dan menyediakan masa depan yang layak bagi atlet.
ETH mengajak Kemenpora, NPC Indonesia, pemerintah daerah, federasi olahraga, dunia usaha, perguruan tinggi dan masyarakat untuk menjadikan Asian Para Games 2026 sebagai momentum memperkuat olahraga disabilitas Indonesia dari tingkat komunitas hingga panggung dunia.





