EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Daerah, Global

Produksi Gula Nasional Meningkat, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: Swasembada Harus Sejahterakan Petani Tebu

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang — Selasa, 25 Agustus 2026 Sektor perkebunan tebu Indonesia menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah terus memperkuat produksi gula nasional melalui peningkatan produktivitas tebu, perluasan kawasan, penggunaan benih unggul, peremajaan tanaman atau bongkar ratoon, serta penguatan pendampingan kepada petani. Data Taksasi...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang — Selasa, 25 Agustus 2026 Sektor perkebunan tebu Indonesia menunjukkan perkembangan positif. Pemerintah terus memperkuat produksi gula nasional melalui peningkatan produktivitas tebu, perluasan kawasan, penggunaan benih unggul, peremajaan tanaman atau bongkar ratoon, serta penguatan pendampingan kepada petani.

Data Taksasi Tengah Giling 2026 yang dipublikasikan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian memperkirakan produksi Gula Kristal Putih (GKP) mencapai 3.018.459 ton, meningkat dari produksi 2025 sebesar 2.668.075 ton.

banner 468x60

Luas areal tebu pada 2026 juga tercatat sekitar 585.390 hektare, naik dari 563.357 hektare pada 2025. Sementara produksi tebu diperkirakan mencapai 40,19 juta ton, dibandingkan sekitar 39,07 juta ton pada tahun sebelumnya. Rendemen juga meningkat dari 6,83 persen menjadi sekitar 7,51 persen.

Satuan Petani ETH: Petani Harus Menikmati Hasilnya

Menanggapi perkembangan tersebut, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang (ETH) menilai peningkatan produksi gula nasional merupakan momentum penting untuk memperkuat kedaulatan pangan. Namun, keberhasilan tersebut harus memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada petani tebu.

Satuan Petani ETH menegaskan bahwa swasembada tidak boleh hanya diukur berdasarkan jumlah produksi nasional. Harga tebu, biaya produksi, ketersediaan pupuk, kualitas bibit, akses pembiayaan, rendemen serta kepastian penyerapan hasil panen harus menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.

“Kalau produksi gula meningkat, kesejahteraan petani tebu juga harus meningkat. Jangan sampai Indonesia berbicara tentang swasembada, tetapi petani yang berada di garis depan produksi justru masih menghadapi persoalan harga, biaya produksi dan kepastian pasar.”

Ratusan Ribu Pekebun Terlibat

Menurut Kementerian Pertanian, produksi gula nasional pada 2026 didukung oleh 39 pabrik gula BUMN dan 19 pabrik gula swasta, dengan sekitar 731.705 pekebun tebu. Pemerintah juga mengembangkan kawasan tebu sekitar 97.970 hektare pada 2026 dengan dukungan anggaran sekitar Rp1,448 triliun.

Pemerintah menyiapkan sekitar 5,9 miliar mata benih unggul serta dukungan penyuluhan, pupuk subsidi dan irigasi. Khusus untuk tebu, sebanyak 1.000 unit irigasi perpompaan dialokasikan pada 2026 untuk membantu daerah yang membutuhkan ketersediaan air.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang meminta seluruh program tersebut dikawal hingga benar-benar sampai kepada petani yang menjadi sasaran.

Harga dan Penyerapan Tebu Jangan Diabaikan

Satuan Petani ETH menilai peningkatan produksi tanpa kepastian penyerapan dapat menimbulkan persoalan baru. Karena itu, pemerintah, pabrik gula dan petani perlu membangun tata niaga yang transparan dan saling menguntungkan.

Persoalan penyerapan bahkan terlihat di Blora, Jawa Tengah. PT Sinergi Gula Nusantara menyatakan komitmen menyerap sekitar 150–200 rit tebu petani per hari di tengah belum beroperasinya Pabrik Gula Gendhis Multi Manis.

Menurut Satuan Petani ETH, kejadian seperti itu menunjukkan bahwa penguatan produksi dari hulu harus selalu diikuti kesiapan industri dan pasar di hilir.

Lima Langkah untuk Memperkuat Petani Tebu

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah memperkuat lima aspek utama: menjamin ketersediaan benih unggul dan pupuk tepat waktu, mempercepat peremajaan tanaman tebu yang tidak produktif, meningkatkan transparansi pengukuran rendemen, menjamin penyerapan tebu dengan harga yang memberikan keuntungan layak, serta memperkuat koperasi dan kelembagaan petani agar posisi tawar mereka meningkat.

Satuan Petani ETH juga meminta pengawasan tata niaga gula diperkuat agar peningkatan produksi gula dalam negeri tidak kehilangan manfaat akibat persoalan distribusi maupun kebijakan perdagangan yang merugikan petani.

Kementerian Pertanian sendiri menyatakan peningkatan produksi harus berjalan bersama pengelolaan pasokan, distribusi dan harga serta melakukan koordinasi lintas kementerian terkait tata niaga gula.

Swasembada Harus Berujung pada Kesejahteraan

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa petani merupakan bagian penting dalam membangun kemandirian pangan Indonesia. Karena itu, keberhasilan produksi nasional harus dapat dirasakan hingga ke tingkat keluarga petani.

“Swasembada bukan hanya tentang berapa juta ton yang mampu diproduksi Indonesia. Swasembada yang sesungguhnya adalah ketika kebutuhan nasional terpenuhi, ketergantungan dari luar berkurang, dan petani Indonesia semakin kuat serta sejahtera,” demikian pernyataan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.

Sumber data utama: Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

banner 336x280