518 USAHA MAHASISWA MENUJU KMI EXPO XVII, REZA PRASATRIA DHARMA: JANGAN BERHENTI DI EXPO, JADIKAN BISNIS NYATA
BOGOR, KAMIS 27 AGUSTUS 2026 — Sebanyak 518 kelompok usaha mahasiswa dari 267 perguruan tinggi sedang menjalani Penilaian Kemajuan Pelaksanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 sekaligus proses seleksi menuju Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia Expo XVII Tahun 2026. Rangkaian penilaian berlangsung...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
BOGOR, KAMIS 27 AGUSTUS 2026 — Sebanyak 518 kelompok usaha mahasiswa dari 267 perguruan tinggi sedang menjalani Penilaian Kemajuan Pelaksanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 sekaligus proses seleksi menuju Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia Expo XVII Tahun 2026.
Rangkaian penilaian berlangsung secara daring pada 25–29 Agustus 2026, sehingga pada hari ini proses evaluasi masih berjalan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyebut tahapan tersebut digunakan untuk mengevaluasi perkembangan usaha mahasiswa sekaligus memilih peserta yang akan melaju ke KMI Expo XVII.
Perkembangan tersebut mendapat perhatian Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang (ETH).
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, menilai program kewirausahaan mahasiswa harus diarahkan lebih jauh daripada sekadar kompetisi dan pameran.
«“Jangan berhenti ketika mahasiswa berhasil masuk expo atau memenangkan penghargaan. Ujian sebenarnya adalah apakah usaha itu tetap hidup, berkembang, mempunyai pasar dan pada akhirnya mampu menciptakan lapangan pekerjaan.”»
518 KELOMPOK DARI 267 PERGURUAN TINGGI
Kemdiktisaintek melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan menyelenggarakan Penilaian Kemajuan Pelaksanaan P2MW untuk 518 kelompok usaha mahasiswa yang memperoleh pendanaan dari 267 perguruan tinggi.
Pelaksanaan PKP berlangsung pada 25–29 Agustus 2026 dan bersifat wajib bagi penerima bantuan P2MW sebagai bagian dari proses evaluasi dan pemantauan program.
Satuan Mahasiswa ETH menilai jumlah tersebut menunjukkan potensi besar kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi Indonesia.
Jika setiap kelompok usaha mampu berkembang dan mempekerjakan beberapa orang saja, dampak ekonominya dapat meluas jauh di luar lingkungan kampus.
«“Bayangkan apabila ratusan usaha mahasiswa ini tidak berhenti setelah program selesai. Lima tahun ke depan sebagian bisa menjadi perusahaan yang mempekerjakan puluhan bahkan ratusan orang.”»
P2MW BUKAN SEKADAR LOMBA BISNIS
P2MW merupakan program pengembangan bagi mahasiswa yang telah memiliki usaha, melalui dukungan dana pengembangan, pendampingan, serta pelatihan atau coaching usaha.
Program tersebut mencakup berbagai kategori usaha, antara lain:
– makanan dan minuman;
– budidaya;
– industri kreatif, seni dan budaya;
– serta berbagai sektor usaha mahasiswa lainnya.
Dalam ketentuannya, produk yang diajukan juga diutamakan berasal dari hasil riset perguruan tinggi dan harus benar-benar dikembangkan oleh mahasiswa pengusul, bukan sekadar usaha waralaba atau menjual kembali produk pihak lain.
Menurut Reza, prinsip tersebut sangat penting.
«“Mahasiswa jangan hanya diajarkan menjual. Mahasiswa harus diajarkan menciptakan produk, membaca kebutuhan masyarakat, mengembangkan teknologi dan membangun nilai tambah.”»
DARI PROPOSAL MENUJU PASAR
Satuan Mahasiswa ETH menilai salah satu tantangan program kewirausahaan mahasiswa adalah keberlanjutan setelah pendanaan berakhir.
Banyak program mampu menghasilkan proposal bagus, prototipe menarik dan presentasi meyakinkan.
Namun persoalan berikutnya jauh lebih berat:
Apakah produknya laku?
Apakah konsumennya kembali membeli?
Apakah bisnisnya menghasilkan keuntungan?
Apakah mampu membayar pekerja?
Apakah memiliki legalitas?
Apakah dapat bertahan setelah bantuan pemerintah berhenti?
Menurut Reza, pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus menjadi ukuran keberhasilan.
REZA: JANGAN BANGUN BISNIS YANG HIDUP HANYA KARENA HIBAH
Satuan Mahasiswa ETH mendukung pemberian bantuan awal kepada mahasiswa.
Namun bantuan harus menjadi modal untuk tumbuh, bukan membuat usaha bergantung permanen kepada program pemerintah.
«“Hibah harus menjadi starter, bukan alat bantu napas selamanya. Setelah mendapat dukungan, usaha mahasiswa harus belajar hidup dari konsumennya sendiri.”»
Karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan pembinaan mengenai:
– arus kas;
– pembukuan;
– harga pokok produksi;
– pemasaran;
– perpajakan;
– legalitas;
– hak kekayaan intelektual;
– pengelolaan karyawan;
– dan strategi ekspansi.
KMI EXPO HARUS MENJADI PINTU PASAR
Satuan Mahasiswa ETH menilai KMI Expo XVII sebaiknya tidak hanya menjadi arena menunjukkan produk antarkampus.
Expo harus dimanfaatkan untuk mempertemukan mahasiswa dengan:
investor — perbankan — perusahaan — distributor — marketplace — pemerintah daerah — BUMN — eksportir — dan calon mitra strategis.
Menurut Reza, sebuah pameran dianggap berhasil apabila mahasiswa pulang bukan hanya membawa sertifikat, tetapi juga membawa:
kontrak — pesanan — investor — mentor — jaringan distribusi — atau peluang kerja sama baru.
«“Expo harus menjadi pasar nyata. Datangkan pembeli, investor dan mitra bisnis. Jangan hanya mahasiswa saling melihat produk mahasiswa lainnya.”»
PRODUK RISET KAMPUS HARUS DIBAWA KE INDUSTRI
Ketentuan P2MW yang mengutamakan produk hasil riset perguruan tinggi dinilai Satuan Mahasiswa ETH sebagai langkah positif.
Indonesia memiliki ribuan penelitian mahasiswa dan dosen setiap tahun.
Namun banyak inovasi berhenti sebagai:
– laporan penelitian;
– skripsi;
– tesis;
– jurnal;
– atau prototipe laboratorium.
Satuan Mahasiswa ETH mendorong mahasiswa mengubah penelitian menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi.
«“Skripsi jangan hanya berakhir di perpustakaan. Kalau hasil penelitian mempunyai manfaat, bantu mahasiswa mengubahnya menjadi produk.”»
WIRAUSAHA MAHASISWA DAN MASALAH PENGANGGURAN
Penguatan kewirausahaan menjadi semakin penting karena Indonesia masih menghadapi persoalan pengangguran generasi muda dan pengangguran berpendidikan tinggi.
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, pemerintah tidak dapat mengandalkan satu pendekatan saja.
Negara tetap harus menciptakan iklim investasi dan pekerjaan.
Namun pada saat yang sama, sebagian mahasiswa juga perlu dipersiapkan menjadi pencipta pekerjaan.
«“Tidak semua mahasiswa harus menjadi pengusaha. Tetapi mahasiswa yang mempunyai kemampuan dan minat berwirausaha harus mendapatkan jalur yang serius untuk berkembang.”»
KAMPUS HARUS PUNYA INKUBATOR BISNIS YANG NYATA
Satuan Mahasiswa ETH mendorong setiap perguruan tinggi memperkuat inkubator bisnis.
Inkubator tidak cukup hanya menyediakan ruangan atau pelatihan beberapa hari.
Mahasiswa membutuhkan pendampingan dari tahap:
IDE
Menentukan masalah yang ingin diselesaikan.
PRODUK
Membuat barang atau jasa yang mempunyai nilai.
VALIDASI
Menguji apakah masyarakat benar-benar membutuhkannya.
LEGALITAS
Mengurus badan usaha dan izin.
PASAR
Menentukan konsumen.
MODAL
Mencari sumber pembiayaan.
EKSPANSI
Memperbesar usaha secara sehat.
LAPANGAN KERJA
Mulai merekrut orang lain ketika usaha berkembang.
MAHASISWA HARUS BELAJAR KEGAGALAN BISNIS
Menurut Reza, pendidikan kewirausahaan juga harus jujur mengenai risiko.
Tidak semua usaha akan berhasil.
Mahasiswa harus memahami kemungkinan:
– produk gagal diterima pasar;
– modal habis;
– mitra keluar;
– harga bahan naik;
– konsumen berubah;
– atau teknologi digantikan.
«“Kegagalan bisnis bukan akhir pendidikan kewirausahaan. Justru mahasiswa harus belajar bagaimana bangkit, mengevaluasi dan mencoba lagi.”»
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, kampus harus menciptakan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa mencoba tanpa takut dicap gagal.
SATUAN MAHASISWA ETH AJUKAN 10 AGENDA WIRAUSAHA MAHASISWA
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong:
1. LANJUTKAN PENDAMPINGAN SETELAH PROGRAM
Kelompok usaha jangan dilepas setelah KMI Expo.
2. HUBUNGKAN DENGAN PASAR
Produk mahasiswa harus mendapatkan akses konsumen nyata.
3. BUKA AKSES PEMBIAYAAN LANJUTAN
Usaha yang sehat perlu dipertemukan dengan lembaga pembiayaan.
4. PERKUAT LEGALITAS
Mahasiswa dibantu mengurus badan usaha, izin dan merek.
5. LINDUNGI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
Inovasi mahasiswa harus dilindungi.
6. HUBUNGKAN RISET DENGAN BISNIS
Hasil penelitian potensial harus dihilirkan.
7. DATANGKAN MENTOR PRAKTISI
Pengusaha berpengalaman dapat membantu mahasiswa menghindari kesalahan umum.
8. BUKA AKSES EKSPOR
Produk potensial harus dipersiapkan memasuki pasar internasional.
9. UKUR JUMLAH PEKERJAAN YANG DICIPTAKAN
Keberhasilan program tidak cukup hanya menghitung peserta.
10. PANTAU USAHA HINGGA LIMA TAHUN
Evaluasi apakah bisnis masih hidup setelah mahasiswa lulus.
GERAKAN “1 KAMPUS — 1.000 WIRAUSAHA MUDA”
Satuan Mahasiswa ETH kembali mendorong gagasan:
1 KAMPUS — 1.000 WIRAUSAHA MUDA
Menurut Reza, target tersebut bukan berarti setiap mahasiswa wajib mendirikan perusahaan.
Tujuannya adalah menciptakan ekosistem di mana mahasiswa yang mempunyai minat usaha dapat memperoleh kesempatan.
Satu kampus dengan ribuan mahasiswa memiliki potensi melahirkan:
– bisnis kuliner;
– teknologi;
– pertanian;
– perikanan;
– industri kreatif;
– energi;
– jasa profesional;
– aplikasi;
– hingga perusahaan berbasis riset.
JANGAN HANYA UKUR JUMLAH PESERTA
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, pemerintah perlu mulai menggunakan indikator jangka panjang.
Program kewirausahaan harus menjawab:
Berapa usaha masih hidup setelah satu tahun?
Berapa yang tumbuh setelah tiga tahun?
Berapa omzetnya?
Berapa pekerja yang direkrut?
Berapa yang mendapatkan investor?
Berapa yang berhasil ekspor?
Berapa yang menjadi perusahaan berbadan hukum?
«“Kalau kita hanya menghitung berapa mahasiswa ikut program, kita sedang mengukur aktivitas. Yang harus kita ukur adalah dampaknya.”»
REZA PRASATRIA DHARMA: DARI KMI EXPO HARUS LAHIR PERUSAHAAN MASA DEPAN
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Reza Prasatria Dharma menilai 518 kelompok usaha yang sedang dievaluasi merupakan potensi besar generasi muda Indonesia.
«“Dari 518 kelompok ini, kita harus berani berharap lahir perusahaan-perusahaan masa depan Indonesia. Jangan semuanya berakhir setelah expo. Dampingi sampai menjadi usaha yang mandiri, menciptakan pekerjaan dan membawa produk Indonesia ke pasar yang lebih luas.”»
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menyerukan agar kewirausahaan mahasiswa bergerak melalui tahapan:
IDE — PRODUK — PASAR — USAHA — PERUSAHAAN — LAPANGAN KERJA
Menurut organisasi tersebut, mahasiswa tidak hanya harus disiapkan menghadapi masa depan ekonomi Indonesia.
Sebagian mahasiswa harus dipersiapkan menciptakan masa depan ekonomi tersebut.
SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG
Ketua Umum: REZA PRASATRIA DHARMA
KOLABORASI — INTEGRITAS — PRESTASI
MAHASISWA BERWIRAUSAHA — PRODUK NAIK KELAS — LAPANGAN KERJA TERCIPTA
“JANGAN BERHENTI DI EXPO — BANGUN PERUSAHAAN NYATA.”





