Rumput Laut Indonesia Bebas Tarif Tambahan di AS, Satuan Nelayan ETH: Keuntungan Ekspor Harus Sampai ke Masyarakat Pesisir
Hambalang — Jumat, 28 Agustus 2026 Terbukanya peluang lebih besar bagi rumput laut dan agar-agar Indonesia di pasar Amerika Serikat mendapat perhatian Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang. Organisasi ini menilai keuntungan perdagangan internasional harus diterjemahkan menjadi peningkatan harga, kepastian pasar...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang — Jumat, 28 Agustus 2026 Terbukanya peluang lebih besar bagi rumput laut dan agar-agar Indonesia di pasar Amerika Serikat mendapat perhatian Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang. Organisasi ini menilai keuntungan perdagangan internasional harus diterjemahkan menjadi peningkatan harga, kepastian pasar dan kesejahteraan masyarakat pembudi daya di kawasan pesisir.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 21 Agustus 2026 mengumumkan bahwa produk rumput laut/alga dan agar-agar Indonesia memperoleh pengecualian dari tarif tambahan Section 301 sebesar 10 persen di Amerika Serikat. Dengan pengecualian tersebut, produk terkait hanya dikenai tarif Most-Favored-Nation (MFN) yang besarannya 0 persen. ([KKP][1])
Ketentuan tersebut tercantum dalam Notice of Actions yang diterbitkan United States Trade Representative (USTR) pada 23 Juli 2026 dan dipublikasikan dalam Federal Register pada 28 Juli 2026. ([KKP][1])
INDONESIA PUNYA PELUANG MEMPERKUAT DAYA SAING
Menurut KKP, pengecualian tersebut memberikan peluang strategis karena sejumlah negara pesaing masih terkena tarif tambahan Section 301 sebesar 10 hingga 12,5 persen. KKP menyebut Indonesia memiliki keunggulan tarif sekitar 2,5 persen dibanding sejumlah pemasok utama Asia yang terkena tarif tambahan 12,5 persen. ([KKP][1])
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan secara serius.
“Ketika produk rumput laut Indonesia memperoleh keuntungan tarif di pasar internasional, manfaatnya jangan berhenti pada eksportir atau industri. Pembudi daya yang bekerja dan menghasilkan rumput laut di wilayah pesisir harus menjadi bagian utama yang menikmati peningkatan nilai ekonominya.”
Pernyataan tersebut merupakan sudut editorial Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang untuk materi pemberitaan organisasi.
JANGAN HANYA EKSPOR BAHAN MENTAH
Satuan Nelayan ETH mendorong pemerintah menjadikan peluang pasar Amerika Serikat sebagai momentum memperkuat hilirisasi rumput laut nasional.
Rumput laut mempunyai potensi untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah. Karena itu, pengembangan industri pengolahan di dalam negeri menjadi penting agar manfaat ekonominya tidak hanya berasal dari penjualan bahan baku.
Data yang dikutip KKP menunjukkan nilai ekspor rumput laut Indonesia pada Januari–Oktober 2025 mencapai USD264,6 juta, yang antara lain terdiri atas rumput laut kering USD144,7 juta, karaginan USD93,3 juta dan agar-agar USD15,6 juta. ([ANTARA News][2])
Besarnya nilai tersebut menunjukkan bahwa rumput laut bukan komoditas pesisir biasa, tetapi memiliki posisi penting dalam perdagangan produk kelautan Indonesia.
POSISI TAWAR PEMBUDI DAYA HARUS DIPERKUAT
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai peningkatan ekspor idealnya menghasilkan harga pembelian yang lebih baik di tingkat pembudi daya.
Pemerintah bersama industri dan eksportir didorong membangun mekanisme kemitraan yang transparan sehingga pembudi daya mengetahui standar kualitas, kebutuhan pasar dan pembentukan harga.
“Jangan sampai nilai ekspor meningkat tetapi pembudi daya tetap menerima harga rendah. Keberhasilan ekspor harus dapat diukur dari perubahan kesejahteraan masyarakat yang memproduksi komoditas tersebut.”
Koperasi nelayan dan pembudi daya juga dapat diperkuat untuk melakukan pengumpulan produksi, pengolahan awal, pengendalian kualitas hingga membangun hubungan langsung dengan industri.
AMERIKA SERIKAT BISA MENJADI PASAR YANG LEBIH BESAR
Data Januari–Oktober 2025 menunjukkan Tiongkok masih menjadi pasar utama rumput laut Indonesia dengan nilai sekitar USD183,6 juta atau 69,4 persen dari total ekspor. Uni Eropa tercatat USD27,3 juta, ASEAN USD9,2 juta, sedangkan Amerika Serikat sekitar USD8,6 juta atau 3,3 persen. ([ANTARA News][2])
Menurut Satuan Nelayan ETH, kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk memperluas pasar Amerika Serikat sekaligus melakukan diversifikasi tujuan ekspor.
Diversifikasi penting agar pemasaran produk rumput laut Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu negara tujuan.
PEMERINTAH PERLU PERKUAT SENTRA RUMPUT LAUT
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah pusat dan daerah memberikan perhatian terhadap persoalan mendasar yang dihadapi pembudi daya, mulai dari bibit berkualitas, teknologi budi daya, penyakit, perubahan cuaca, fasilitas pengeringan, gudang penyimpanan, pembiayaan hingga akses pemasaran.
Peningkatan ekspor tanpa peningkatan kapasitas produksi di tingkat masyarakat akan membuat peluang perdagangan sulit dimanfaatkan secara maksimal.
Karena itu, sentra-sentra rumput laut perlu diposisikan sebagai bagian dari pembangunan ekonomi pesisir nasional.
HILIRISASI HARUS MEMBUKA LAPANGAN KERJA PESISIR
Satuan Nelayan ETH juga mendorong pembangunan industri pengolahan sedekat mungkin dengan kawasan produksi apabila secara ekonomi dan lingkungan memungkinkan.
Industri pengolahan dapat menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan nilai tambah sebelum produk dipasarkan ke luar negeri.
Dengan demikian, masyarakat pesisir tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai industri produk kelautan bernilai tinggi.
SATUAN NELAYAN ETH: MOMENTUM INI JANGAN DISIA-SIAKAN
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa terbukanya keuntungan tarif di pasar Amerika Serikat merupakan peluang yang harus diikuti strategi nasional dari hulu sampai hilir.
“Rumput laut tumbuh dan dibudidayakan di wilayah pesisir kita. Ketika produk tersebut memperoleh keuntungan di pasar dunia, masyarakat pesisir Indonesia harus menjadi pihak pertama yang merasakan manfaat ekonominya.”
Satuan Nelayan ETH mendorong KKP bersama kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, koperasi, industri dan eksportir membangun rantai usaha rumput laut yang transparan dan berkeadilan.
Target akhirnya bukan sekadar meningkatkan angka ekspor, melainkan meningkatkan pendapatan pembudi daya, memperluas lapangan kerja pesisir, memperkuat industri pengolahan nasional dan menjadikan Indonesia semakin kompetitif dalam perdagangan produk kelautan dunia.





