Produktivitas padi tembus 10 ton per hektare, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: modernisasi harus membuat petani semakin sejahtera
Hambalang — Minggu, 30 Agustus 2026, Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) mulai menunjukkan hasil signifikan dalam meningkatkan produktivitas padi di sejumlah daerah. Program yang dikembangkan Kementerian Pertanian tersebut mengintegrasikan teknologi budidaya, mekanisasi, pengelolaan air dan pemupukan untuk meningkatkan hasil...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang — Minggu, 30 Agustus 2026, Penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) mulai menunjukkan hasil signifikan dalam meningkatkan produktivitas padi di sejumlah daerah. Program yang dikembangkan Kementerian Pertanian tersebut mengintegrasikan teknologi budidaya, mekanisasi, pengelolaan air dan pemupukan untuk meningkatkan hasil produksi sekaligus efisiensi usaha tani.
Data terbaru yang diberitakan pada Minggu (30/8/2026) menunjukkan penerapan PM-AAS di berbagai daerah mampu menghasilkan rata-rata sekitar 10,34 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare. Capaian tersebut jauh di atas produktivitas padi nasional yang sebelumnya berada di kisaran 5,3 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektare atau sekitar 6,3 ton GKP.
Hasil di sejumlah daerah bahkan memperlihatkan angka yang lebih tinggi. Kementerian Pertanian mencatat penerapan PM-AAS pada demfarm seluas 100 hektare di Lampung Tengah menghasilkan rata-rata 11,2 ton per hektare, berdasarkan ubinan yang dilakukan pada 7–18 Agustus 2026. Capaian tertingginya mencapai 11,7 ton per hektare.
Di Indramayu, Jawa Barat, penerapan sistem yang sama juga menunjukkan peningkatan produktivitas. Hasil panen PM-AAS dilaporkan mencapai sekitar 10,45 ton per hektare.
Kementerian Pertanian menjelaskan PM-AAS tidak semata-mata mengandalkan penggunaan alat pertanian modern. Sistem tersebut mengombinasikan varietas unggul dan benih bermutu, pola tanam, mekanisasi, pemupukan, pengelolaan air hingga pendampingan petani. Kementan sebelumnya juga menyebut metode tanam benih langsung dalam PM-AAS berpotensi menekan biaya tanam dibandingkan sistem tanam pindah.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: jangan berhenti pada angka produksi
Menanggapi perkembangan tersebut, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang (ETH) menilai keberhasilan meningkatkan produktivitas padi merupakan perkembangan penting bagi sektor pertanian nasional. Namun, peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
“Keberhasilan pertanian tidak cukup diukur dari berapa ton padi yang dihasilkan dalam satu hektare. Ukuran akhirnya adalah apakah pendapatan petani meningkat, biaya produksi turun, harga gabah memberikan keuntungan yang layak, dan kehidupan keluarga petani menjadi lebih baik,” demikian pernyataan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.
Satuan Petani ETH menilai modernisasi pertanian harus dapat diakses oleh petani kecil dan tidak hanya terkonsentrasi pada kawasan percontohan.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu memastikan ketersediaan alat dan mesin pertanian, benih bermutu, pupuk, irigasi, pembiayaan serta pendampingan penyuluh hingga tingkat desa.
“Kalau teknologi mampu menghasilkan 10 sampai 12 ton per hektare, teknologi tersebut harus diperluas dan dibuat terjangkau. Jangan sampai petani hanya menjadi penonton dari kemajuan teknologi pertanian.”
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang juga mengingatkan bahwa lonjakan produktivitas harus diikuti kesiapan sektor hilir. Produksi yang tinggi tanpa kepastian penyerapan dan harga berpotensi membuat petani menghadapi tekanan ketika memasuki masa panen raya.
ETH tawarkan empat langkah
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menawarkan empat langkah yang dinilai penting dalam perluasan modernisasi pertanian.
Pertama, perluasan PM-AAS dan teknologi tepat guna sampai ke kelompok tani di desa, dengan mempertimbangkan karakteristik lahan dan kondisi masing-masing daerah.
Kedua, memperkuat akses petani terhadap alsintan, benih unggul, pupuk dan pembiayaan murah, sehingga peningkatan produktivitas tidak menyebabkan petani terbebani modal yang semakin besar.
Ketiga, menjamin kepastian pasar dan harga hasil panen yang menguntungkan petani. Produktivitas tinggi harus menghasilkan tambahan pendapatan, bukan justru membuat harga jatuh ketika pasokan meningkat.
Keempat, memperkuat kelembagaan petani dan koperasi agar petani mempunyai posisi tawar lebih kuat mulai dari pembelian sarana produksi, penggunaan teknologi, pengolahan hasil hingga pemasaran.
Satuan Petani ETH menegaskan modernisasi pertanian merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan dan swasembada pangan Indonesia. Namun transformasi tersebut harus menempatkan petani sebagai penerima manfaat utama.
“Teknologinya harus maju, produksinya harus meningkat, tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan: petaninya juga harus naik kelas dan semakin sejahtera. Itulah tujuan akhir pembangunan pertanian.”
Sumber: Kementerian Pertanian RI, BRMP Kementerian Pertanian, dan RRI.





