Ikan Melimpah Belum Tentu Nelayan Untung, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang Dorong Rantai Dingin dan Mutu Hasil Tangkapan Diperkuat
Edisi: Minggu, 30 Agustus 2026Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Dari Hambalang, kualitas ikan sejak berada di atas kapal harus dijaga agar hasil kerja nelayan tidak kehilangan nilai ketika sampai di pelabuhan dan pasar HAMBALANG, BOGOR β Nelayan Indonesia...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Edisi: Minggu, 30 Agustus 2026
Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Dari Hambalang, kualitas ikan sejak berada di atas kapal harus dijaga agar hasil kerja nelayan tidak kehilangan nilai ketika sampai di pelabuhan dan pasar
HAMBALANG, BOGOR β Nelayan Indonesia tidak cukup hanya didorong menghasilkan tangkapan sebanyak-banyaknya. Persoalan berikutnya yang tidak kalah penting adalah bagaimana ikan yang telah diperoleh dengan biaya dan risiko besar dapat dipertahankan kualitasnya sehingga memberikan harga jual yang lebih baik.
Perkembangan terbaru dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan perhatian pemerintah terhadap persoalan tersebut semakin diperkuat.
Pada 25 Agustus 2026, Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan KKP melakukan inspeksi penerapan Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) pada KM Mitra Jaya 99, kapal berukuran 28 GT, di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Pemeriksaan mencakup kebersihan, sanitasi dan cara penanganan ikan selama kegiatan kapal.
KKP menyatakan standar penanganan tersebut penting untuk menjaga kualitas ikan sejak ditangkap hingga memasuki tahapan pengolahan berikutnya. Hasil inspeksi menunjukkan kapal telah menerapkan prinsip CPIB dengan baik, meskipun masih terdapat beberapa catatan yang perlu diperbaiki.
Ikan rusak di perjalanan berarti pendapatan nelayan ikut hilang
Bagi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, isu mutu ikan perlu ditempatkan sebagai persoalan kesejahteraan nelayan.
Ikan merupakan produk yang mudah mengalami penurunan kualitas. Jika hasil tangkapan tidak segera ditangani dengan es yang cukup, tempat penyimpanan yang bersih, suhu yang tepat dan proses bongkar yang baik, kualitas ikan dapat turun sebelum bertemu pembeli.
Akibatnya, nelayan berpotensi menerima harga lebih rendah meskipun telah mengeluarkan biaya BBM, perbekalan, tenaga dan waktu yang sama untuk melaut.
Karena itu persoalan es, cold storage, kebersihan palka, fasilitas pendaratan dan keterampilan penanganan ikan tidak boleh dianggap sebagai persoalan teknis semata.
Semua itu berhubungan langsung dengan nilai ekonomi hasil tangkapan.
KKP perkuat kemampuan pekerja pengolahan tuna
Pada tanggal yang sama, 25 Agustus, KKP juga mengumumkan penguatan kompetensi pekerja sektor tuna melalui Uji Kompetensi Operator Pembekuan Ikan Tuna.
Sedikitnya 25 pekerja dari 11 perusahaan pengolahan tuna di Benoa, Bali, mengikuti kegiatan tersebut. Program itu merupakan tindak lanjut dari pelatihan sebelumnya serta skema sertifikasi operator pembekuan tuna yang diterbitkan BNSP pada Juni 2026.
KKP menilai pekerja pengolahan memiliki peranan penting untuk memastikan ikan yang telah didaratkan tetap mempunyai kualitas sampai menjadi produk bernilai tambah.
Satuan Nelayan ETH berpandangan semangat peningkatan kompetensi tersebut perlu diperluas hingga menyentuh nelayan kecil, awak kapal dan kelompok masyarakat pesisir, terutama mengenai penanganan hasil tangkapan sejak ikan pertama kali naik ke kapal.
Jangan biarkan kualitas ikan jatuh karena nelayan kekurangan es
Pada banyak wilayah pesisir, akses terhadap fasilitas rantai dingin dapat menentukan posisi tawar nelayan.
Nelayan yang tidak mempunyai fasilitas penyimpanan mempunyai waktu lebih pendek untuk menjual ikan.
Kondisi tersebut dapat membuat nelayan berada pada posisi lemah karena hasil tangkapannya harus segera dijual sebelum kualitasnya menurun.
Sebaliknya, keberadaan pabrik es, cold storage dan sistem penyimpanan yang terjangkau memberikan kesempatan lebih besar bagi nelayan untuk menjaga mutu produk sekaligus memperluas pilihan pasar.
KKP sendiri menempatkan cold storage dan pabrik es sebagai fasilitas strategis dalam Kampung Nelayan Merah Putih. Pemerintah menyatakan fasilitas rantai dingin tersebut diharapkan mampu mendukung peningkatan mutu hasil tangkapan dan kesejahteraan masyarakat nelayan.
Lima agenda yang dapat diperjuangkan Satuan Nelayan ETH
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang dapat mendorong pemerintah pusat dan daerah memastikan pabrik es dan cold storage tersedia di sentra nelayan dengan tarif terjangkau, memperluas pelatihan CPIB kepada nelayan kecil dan awak kapal, menyediakan bantuan atau skema pembiayaan untuk cool box serta perlengkapan penanganan ikan, meningkatkan kebersihan tempat pendaratan dan pelelangan ikan, serta membangun hubungan pasar yang memberikan insentif harga bagi nelayan yang mampu mempertahankan kualitas hasil tangkapannya.
Dengan demikian, peningkatan mutu tidak hanya menguntungkan industri pengolahan dan eksportir, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi sejak tingkat nelayan.
Mutu harus berujung pada harga yang lebih baik
Satuan Nelayan ETH juga mendorong agar peningkatan standar mutu mempunyai hubungan yang jelas dengan peningkatan harga yang diterima nelayan.
Nelayan akan lebih terdorong menerapkan penanganan hasil tangkapan yang baik apabila ada kepastian bahwa ikan dengan mutu lebih tinggi mendapatkan penghargaan harga yang lebih baik.
sikap organisasi :
βNelayan sudah mempertaruhkan tenaga, modal dan keselamatan untuk mendapatkan ikan. Jangan biarkan hasil kerja itu kehilangan nilai hanya karena es, cold storage dan fasilitas penanganan ikan tidak tersedia.β
Dari Hambalang, dorong ikan nelayan lebih bernilai
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang dapat mengambil peran dengan membantu menginventarisasi persoalan rantai dingin di berbagai daerah.
Apakah nelayan kesulitan memperoleh es? Apakah cold storage terlalu jauh? Apakah tarif penyimpanan mahal? Apakah tempat pelelangan belum higienis? Dan apakah ikan berkualitas tinggi benar-benar mendapatkan harga berbeda?
Jawaban atas persoalan tersebut dapat menjadi bahan advokasi yang konkret kepada KKP dan pemerintah daerah.
Sebab ukuran keberhasilan sektor perikanan bukan sekadar berapa banyak ikan yang ditangkap.
Yang lebih penting adalah:
berapa besar nilai yang akhirnya dibawa pulang oleh nelayan kepada keluarganya.
SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat





