EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Harga Udang Rp150 Ribu, Tenggiri Rp55 Ribu, Tongkol Rp24 Ribu per Kg — Satuan Nelayan ETH: Nelayan Harus Tahu Harga Ikannya Sebelum Menjual

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Edisi Jumat, 18 September 2026 | Hambalang Data harga ikan terbaru di Pelabuhan Perikanan Pantai Bulu menunjukkan selisih harga antarkomoditas sangat lebar. Satuan Nelayan ETH mendorong keterbukaan harga dari kapal, pelelangan, pedagang hingga konsumen agar nelayan tidak selalu berada pada...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Edisi Jumat, 18 September 2026 | Hambalang Data harga ikan terbaru di Pelabuhan Perikanan Pantai Bulu menunjukkan selisih harga antarkomoditas sangat lebar. Satuan Nelayan ETH mendorong keterbukaan harga dari kapal, pelelangan, pedagang hingga konsumen agar nelayan tidak selalu berada pada posisi tawar paling lemah.

HAMBALANG, 18 September 2026 — Transparansi harga kembali menjadi persoalan penting bagi ekonomi nelayan Indonesia. Data resmi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bulu, Jawa Timur, yang diperbarui Jumat, 18 September 2026 menunjukkan harga sejumlah komoditas hasil tangkapan nelayan berbeda sangat lebar.

banner 468x60

Pada kelompok alat tangkap purse seine/PCPK, udang tercatat Rp150.000 per kilogram, tenggiri Rp55.000, cumi-cumi Rp45.000, bawal hitam Rp35.000, kembung dan selar Rp25.000, tongkol Rp24.000, layang Rp23.000, alu-alu Rp18.000 serta layur Rp13.000 per kilogram.

Angka tersebut merupakan data harga di PPP Bulu, bukan harga nasional dan tidak otomatis sama dengan harga yang diterima nelayan di seluruh Indonesia.

Namun bagi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, data ini membuka persoalan yang jauh lebih besar:

Apakah nelayan mengetahui harga pasar sebenarnya sebelum ikan mereka dijual?

IKAN SAMA, POSISI TAWAR BISA BERBEDA

Dalam rantai perdagangan hasil laut, nelayan sering berada dalam posisi yang harus mengambil keputusan dengan cepat.

Ikan baru turun dari kapal.

Es mulai berkurang.

Biaya melaut harus segera ditutup.

Utang perbekalan menunggu pembayaran.

Dalam kondisi seperti itu, nelayan tidak selalu mempunyai kemampuan menahan barang dan menunggu harga yang lebih baik.

Akibatnya, informasi harga menjadi sangat menentukan.

Orang yang mengetahui harga mempunyai kekuatan untuk menawar. Orang yang tidak mengetahui harga lebih mudah menerima angka yang diberikan pembeli.

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai keterbukaan harga bukan masalah kecil.

Itu adalah instrumen perlindungan ekonomi nelayan.

TENGGIRI RP55 RIBU, TONGKOL RP24 RIBU — TAPI BERAPA YANG DITERIMA NELAYAN?

Data PPP Bulu untuk 18 September juga mencatat layang Rp23.000/kg, tembang Rp11.000, teri Rp10.000 dan selar kuning Rp9.000 pada kelompok purse seine. Pada kategori alat tangkap JTK, harga yang tercatat antara lain cumi-cumi Rp40.000/kg, kerapu Rp25.000, pari Rp22.000, kurisi Rp18.000 dan kuniran Rp4.000/kg.

Perbedaan harga tersebut wajar karena jenis ikan, kualitas, ukuran, musim, alat tangkap dan kondisi pasar memang berbeda.

Namun pertanyaan lain perlu dibuka:

Berapa harga ikan ketika pertama kali dibeli dari nelayan?

Berapa harga setelah masuk pengepul?

Berapa harga di pasar grosir?

Dan berapa harga yang akhirnya dibayar konsumen?

Jika informasi tersebut dapat dibandingkan secara terbuka, nelayan akan semakin memahami posisi mereka dalam rantai nilai.

HARGA IKAN JANGAN MENJADI INFORMASI MILIK PEDAGANG SAJA

KKP kini memiliki Portal Bursa Ikan yang memuat informasi mengenai harga komoditas dan tren pasar di tingkat produsen, grosir maupun konsumen. Portal tersebut dikelola oleh Direktorat Pemasaran, Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan.

Satuan Nelayan ETH memandang sistem seperti ini harus semakin didekatkan kepada masyarakat nelayan.

Jangan sampai data tersedia secara digital, tetapi nelayan di dermaga tidak pernah melihatnya.

Harga harian seharusnya dapat dipasang secara terbuka melalui:

papan harga di TPI, layar informasi pelabuhan, grup WhatsApp nelayan, aplikasi sederhana, koperasi hingga penyuluh perikanan.

Sebelum ikan ditimbang dan dilepas kepada pembeli, nelayan seharusnya sudah mengetahui kisaran harga pasar.

NELAYAN JANGAN DIPAKSA MENJUAL KARENA IKAN TIDAK BISA MENUNGGU

Masalah harga tidak bisa dilepaskan dari fasilitas penyimpanan.

Nelayan yang memiliki akses terhadap es dan cold storage mempunyai pilihan lebih besar daripada nelayan yang harus menjual seluruh tangkapannya beberapa jam setelah kapal merapat.

Karena itu keterbukaan harga harus berjalan bersama pembangunan:

pabrik es, cold storage, tempat pelelangan yang sehat, transportasi berpendingin dan koperasi pemasaran.

Tanpa fasilitas tersebut, informasi harga saja belum cukup.

Nelayan mungkin tahu harga sedang rendah, tetapi tetap tidak mempunyai kemampuan menunda penjualan.

Di sinilah infrastruktur menjadi bagian dari posisi tawar.

HARGA TINGGI DI PASAR BELUM TENTU BERARTI NELAYAN UNTUNG BESAR

Masyarakat sering melihat ikan dijual mahal di pasar atau restoran lalu beranggapan nelayan memperoleh keuntungan yang sama besarnya.

Realitas rantai distribusi lebih kompleks.

Sebelum ikan sampai kepada konsumen, terdapat biaya:

pengangkutan, es, penyimpanan, sortir, kehilangan mutu, pengolahan, sewa tempat dan margin perdagangan.

Namun Satuan Nelayan ETH menilai rantai tersebut tetap perlu transparan.

Jangan sampai ketika harga konsumen naik, kenaikan itu tidak pernah kembali ke nelayan.

Sebaliknya, ketika harga turun, jangan sampai nelayan selalu menjadi pihak pertama yang diminta menanggung penurunan.

EKSPOR PERIKANAN BESAR, POSISI PRODUSEN HARUS IKUT KUAT

KKP melaporkan nilai ekspor produk perikanan Indonesia pada Januari–Juni 2026 mencapai sekitar USD3 miliar atau diperkirakan Rp52,6 triliun, dengan komoditas unggulan antara lain udang vaname, tuna, tenggiri, cakalang, cumi-sotong-gurita, kerapu serta kepiting-rajungan.

Angka ekspor tersebut menunjukkan hasil laut Indonesia memiliki nilai ekonomi sangat besar.

Tetapi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai keberhasilan perdagangan perikanan juga harus dilihat dari bagian ekonomi yang kembali kepada produsen di tingkat pertama.

Ekspor naik harus menjadi peluang bagi pendapatan nelayan ikut naik.

Bukan hanya volume perdagangan yang tumbuh.

SATUAN NELAYAN ETH DORONG “PAPAN HARGA IKAN NASIONAL”

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong agar pemerintah mengembangkan keterbukaan harga yang semakin mudah dipakai nelayan.

Idealnya, nelayan dapat mengetahui harga komoditas utama di berbagai pelabuhan hanya melalui satu sistem sederhana.

Misalnya:

Tongkol hari ini berapa di Cirebon?

Tenggiri berapa di Jawa Timur?

Cumi berapa di Aceh?

Udang berapa di Sulawesi?

Dengan begitu nelayan, koperasi dan kelompok usaha dapat membandingkan pasar dan mengambil keputusan lebih baik.

Data pemerintah sudah tersedia di sejumlah kanal.

Tantangannya adalah membuat data tersebut benar-benar dipakai nelayan.

KOPERASI NELAYAN HARUS MENJADI PENYANGGA HARGA

Koperasi juga dapat mengambil peran besar.

Jika nelayan menjual sendiri-sendiri dalam kondisi membutuhkan uang cepat, daya tawarnya relatif lemah.

Jika hasil tangkapan dikumpulkan, disortir, disimpan dan dipasarkan bersama, posisi tawar dapat meningkat.

Satuan Nelayan ETH mendorong koperasi nelayan tidak hanya mengurus administrasi anggota.

Koperasi harus masuk ke jantung persoalan ekonomi:

membeli hasil nelayan dengan harga wajar, menyediakan es dan BBM, mencari pembeli, mengelola cold storage dan membuka akses pasar.

Koperasi yang kuat dapat membantu memotong rantai distribusi yang terlalu panjang.

JANGAN HANYA CATAT HARGA — CATAT SIAPA YANG MENIKMATI NILAINYA

Bagi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, data harga ikan harus menjadi alat untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar.

Berapa bagian yang diterima nelayan?

Berapa biaya produksi mereka?

Berapa margin di setiap mata rantai?

Apakah nelayan memiliki alternatif pembeli?

Dan apakah harga ikan cukup untuk menutup biaya BBM, es, perbekalan dan tenaga kerja?

Harga ikan Rp55 ribu per kilogram tidak otomatis berarti nelayan sejahtera jika ongkos untuk mendapatkannya juga terus meningkat.

NELAYAN HARUS TAHU HARGA SEBELUM IKAN TURUN DARI KAPAL

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai perdagangan hasil laut yang sehat harus dimulai dari informasi yang terbuka.

Nelayan tidak boleh menjadi orang terakhir yang mengetahui nilai ikan yang mereka tangkap sendiri.

Sebelum jaring dilempar, nelayan sudah menanggung biaya.

Ketika kapal kembali, nelayan sudah menanggung risiko.

Ketika ikan dijual, nelayan berhak mendapatkan informasi harga yang adil.

Karena itu, Satuan Nelayan ETH akan terus mendorong keterbukaan harga, penguatan TPI, koperasi, rantai dingin dan akses pasar agar masyarakat nelayan mempunyai daya tawar lebih kuat.

IKANNYA DITANGKAP NELAYAN — HARGANYA JANGAN DITENTUKAN TANPA NELAYAN

SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG

“KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT”

Hambalang, Jumat, 18 September 2026

banner 336x280