KKP Bidik 40 Ribu Titik Mini RAS, Satuan Nelayan ETH: Produksi Boleh Naik, Jangan Sampai Harga Ikan Nelayan Justru Tertekan
Edisi Jumat, 18 September 2026 | Hambalang Satu titik Mini RAS disebut mampu menghasilkan sekitar 30 ton ikan per tahun. Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 40 ribu titik hingga 2029. Satuan Nelayan ETH menilai peningkatan produksi harus dibarengi perluasan pasar agar...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Edisi Jumat, 18 September 2026 | Hambalang Satu titik Mini RAS disebut mampu menghasilkan sekitar 30 ton ikan per tahun. Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 40 ribu titik hingga 2029. Satuan Nelayan ETH menilai peningkatan produksi harus dibarengi perluasan pasar agar nelayan tangkap dan pembudidaya sama-sama mendapat manfaat.
HAMBALANG, 18 September 2026 — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan program budi daya ikan berbasis Mini Recirculating Aquaculture System (Mini RAS) di desa-desa untuk meningkatkan produksi perikanan sekaligus membentuk ekosistem usaha baru di tingkat masyarakat.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan program tersebut akan dikembangkan terutama di wilayah daratan atau daerah yang jauh dari pesisir. Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 40.000 titik Mini RAS secara nasional hingga 2029.
Bagi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, peningkatan produksi merupakan peluang besar bagi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Tetapi ada pertanyaan yang tidak boleh ditunda:
Kalau produksi ikan meningkat besar-besaran, apakah pasarnya juga bertambah besar?
Karena bila produksi bertambah sementara pasar tidak berkembang seimbang, harga di tingkat produsen dapat menghadapi tekanan.
Dan yang paling pertama merasakan tekanan harga biasanya adalah mereka yang berada di tingkat produksi.
SATU TITIK DISEBUT BISA HASILKAN 30 TON IKAN SETAHUN
Trenggono menyebut satu titik Mini RAS diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 30 ton ikan budi daya per tahun. Untuk Jawa Barat saja, pemerintah menargetkan sekitar 5.000 titik, yang secara matematis oleh KKP diproyeksikan menghasilkan sekitar 150.000 ton ikan per tahun.
Dengan asumsi harga sekitar Rp20.000 per kilogram yang digunakan Menteri KP dalam ilustrasinya, nilai ekonomi produksi Mini RAS di Jawa Barat disebut berpotensi mencapai sekitar Rp3 triliun per tahun.
Angka tersebut menunjukkan skala program yang sangat besar.
Namun Satuan Nelayan ETH mengingatkan satu hal:
Produksi besar tidak otomatis berarti pendapatan produsen besar.
Semuanya akan sangat bergantung pada:
harga pakan,
harga benih,
biaya listrik,
angka kematian ikan,
biaya operasional,
serta yang paling penting,
harga jual ketika ikan dipanen.
JANGAN BANGUN 40 RIBU TITIK TANPA MEMBANGUN 40 RIBU JALUR PASAR
Pemerintah menjelaskan Mini RAS tidak hanya diposisikan sebagai teknologi budidaya, tetapi sebagai sistem yang diharapkan membentuk rantai industri mulai dari benih, pakan, produksi hingga pengolahan hasil perikanan.
Konsep tersebut dapat memperkuat ekonomi desa.
Tetapi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai pembangunan sarana produksi harus berjalan bersama pembangunan pasar.
Siapa yang membeli hasil panennya?
Apakah supermarket?
Pasar tradisional?
Industri pengolahan?
Program pemerintah?
Hotel dan restoran?
Atau eksportir?
Jika jawaban terhadap pertanyaan itu belum jelas, peningkatan produksi justru bisa menciptakan persoalan baru.
Ikan banyak, pembeli sedikit, harga turun.
Karena itu pasar harus dibangun sejak program dimulai, bukan setelah panen melimpah.
NELAYAN TANGKAP JUGA HARUS DIPERHITUNGKAN
Mini RAS adalah program budidaya.
Tetapi dampaknya dapat masuk ke pasar ikan yang sama dengan hasil tangkapan nelayan.
Ikan budidaya dan ikan laut memang mempunyai karakter pasar berbeda.
Namun pada tingkat konsumen, keduanya tetap bersaing untuk mendapatkan uang belanja masyarakat.
Satuan Nelayan ETH menilai pemerintah perlu memetakan kemungkinan perubahan pasar secara serius.
Jika produksi ikan budidaya bertambah ratusan ribu ton, bagaimana pengaruhnya terhadap harga komoditas ikan tangkap?
Apakah konsumsi masyarakat ikut meningkat?
Apakah pasar ekspor bertambah?
Apakah pengolahan ikan berkembang?
Pertanyaan seperti ini harus dijawab melalui perencanaan pasar yang terukur.
Jangan sampai program untuk memperkuat satu kelompok produsen tanpa sengaja menekan kelompok produsen lainnya.
40 RIBU TITIK BERARTI KEBUTUHAN PAKAN DAN BENIH JUGA BESAR
KKP menyatakan ekosistem Mini RAS dirancang mencakup industri benih, pakan, budidaya hingga pengolahan.
Itu berarti keberhasilan program juga akan ditentukan oleh ketersediaan input produksi.
Satuan Nelayan ETH memandang persoalan ini penting karena biaya pakan dapat menjadi salah satu komponen terbesar dalam usaha budidaya.
Jika pembudidaya terlalu bergantung pada satu atau dua pemasok pakan, posisi tawar mereka dapat menjadi lemah.
Begitu pula dengan benih.
Mutu benih akan menentukan produktivitas.
Karena itu harus ada:
standar kualitas, transparansi harga, pengawasan distribusi dan kompetisi usaha yang sehat.
Jangan sampai program besar justru menciptakan ketergantungan baru kepada pemasok tertentu.
LISTRIK DAN AIR MENJADI URAT NADI MINI RAS
Berbeda dengan kolam konvensional, sistem RAS bergantung pada sirkulasi air dan teknologi pendukung.
Artinya, ketersediaan listrik dan perawatan mesin menjadi faktor penting.
Jika listrik padam terlalu lama atau pompa mengalami kerusakan, produksi dapat terganggu.
Satuan Nelayan ETH menilai setiap lokasi Mini RAS perlu memiliki perhitungan yang jelas mengenai:
kebutuhan listrik, biaya bulanan, sumber air, cadangan listrik, teknisi, suku cadang dan biaya perawatan.
Jangan sampai teknologi terlihat modern ketika diresmikan tetapi kesulitan beroperasi beberapa bulan kemudian.
DESA JANGAN HANYA JADI LOKASI, MASYARAKAT HARUS JADI PELAKU
Trenggono mengatakan Mini RAS akan dikembangkan di desa dan diarahkan membentuk ekosistem industri perikanan setempat.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai masyarakat desa harus berada di pusat program.
Mereka jangan hanya menjadi pekerja.
Masyarakat harus mendapat kesempatan menjadi:
pemilik usaha, anggota koperasi, pengelola produksi, pemasok, pengolah hingga pelaku pemasaran.
Jika teknologi datang dari luar, modal datang dari luar, pengelola datang dari luar dan pasar dikuasai pihak luar, maka manfaat ekonomi yang tinggal di desa bisa menjadi kecil.
Program nasional harus menciptakan kepemilikan ekonomi masyarakat, bukan sekadar lokasi produksi.
SATUAN NELAYAN ETH DORONG TRANSPARANSI PENERIMA PROGRAM
Target 40 ribu titik berarti akan ada ribuan lokasi dan kelompok penerima.
Karena itu Satuan Nelayan ETH mendorong pemerintah membuka data program secara bertahap.
Publik perlu mengetahui:
desa penerima, kapasitas setiap lokasi, nilai investasi, siapa pengelola, sumber pembiayaan, jenis ikan yang dibudidayakan, target produksi dan siapa pembeli hasilnya.
Keterbukaan penting agar masyarakat dapat mengawasi distribusi program.
Jangan sampai lokasi dipilih hanya karena kedekatan tertentu atau tidak sesuai kebutuhan pasar.
JANGAN HANYA HITUNG TONASE — HITUNG LABA BERSIH MASYARAKAT
Program besar sering dinilai dari jumlah produksi.
Berapa ton ikan dihasilkan?
Berapa kolam dibangun?
Berapa titik selesai?
Bagi Satuan Nelayan ETH, itu belum cukup.
Yang jauh lebih penting adalah:
berapa pendapatan bersih masyarakat setelah semua biaya dibayar?
Apakah mereka untung?
Apakah usaha bertahan setelah bantuan pemerintah selesai?
Apakah cicilan modal dapat dibayar?
Apakah pembudidaya dapat menjual dengan harga wajar?
Dan apakah tenaga kerja lokal mendapatkan penghasilan layak?
Produksi tinggi tetapi rugi bukan keberhasilan.
PASAR IKAN HARUS DIPERLUAS, BUKAN PRODUSEN YANG DIBIARKAN BEREBUT
Dengan target puluhan ribu titik, peningkatan produksi dapat menjadi sangat besar bila seluruh program berjalan sesuai rencana.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah memperluas permintaan bersamaan dengan peningkatan produksi.
Peluangnya dapat datang dari:
pengolahan,
ekspor,
pasar modern,
program pangan,
hotel-restoran-katering,
hingga diversifikasi produk olahan.
Dengan begitu budidaya berkembang tanpa harus menciptakan perang harga di tingkat produsen.
Nelayan tangkap tidak perlu berhadapan dengan pembudidaya.
Keduanya sama-sama produsen pangan.
Yang harus diperbesar adalah pasarnya.
SATUAN NELAYAN ETH: PRODUKSI NAIK, PENDAPATAN JUGA HARUS NAIK
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang memandang Mini RAS sebagai program yang mempunyai potensi besar untuk menciptakan lapangan kerja dan memperkuat produksi pangan.
Namun program ini harus dikawal dari sisi ekonomi.
Jangan hanya mengejar:
40 ribu titik.
Jangan hanya mengejar:
30 ton per lokasi.
Jangan hanya mengejar:
triliunan rupiah nilai produksi.
Yang harus dipastikan adalah:
harga tetap sehat, pasar tersedia dan pendapatan produsen benar-benar meningkat.
Karena tujuan akhir pembangunan perikanan bukan menghasilkan ikan sebanyak-banyaknya.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan masyarakat perikanan yang semakin sejahtera.
SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
“KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT”
Hambalang, Jumat, 18 September 2026





