Majelis Zikir dan Sholawat sebagai roh perjuangan Elang Tiga Hambalang
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Selasa, 22 September 2026 Pembentukan Majelis Zikir dan Sholawat Elang Tiga Hambalang bukan sekadar menghadirkan kegiatan keagamaan di tengah organisasi. Lebih dari itu, majelis ini merupakan ikhtiar untuk menempatkan nilai spiritual, moral, persaudaraan, dan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Selasa, 22 September 2026 Pembentukan Majelis Zikir dan Sholawat Elang Tiga Hambalang bukan sekadar menghadirkan kegiatan keagamaan di tengah organisasi. Lebih dari itu, majelis ini merupakan ikhtiar untuk menempatkan nilai spiritual, moral, persaudaraan, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian penting dalam perjalanan Elang Tiga Hambalang.
Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang di bawah kepemimpinan Ketua Umum Dedy Syafrizal dan Sekretaris Jenderal Ganda Satria Dharma memandang bahwa organisasi yang kuat tidak cukup hanya dibangun melalui struktur, program kerja, dan konsolidasi. Kekuatan organisasi juga harus bertumpu pada karakter, akhlak, rasa persaudaraan, serta kesadaran bahwa setiap amanah harus dipertanggungjawabkan secara moral.
Atas dasar itulah Majelis Zikir dan Sholawat Elang Tiga Hambalang hadir sebagai wadah pembinaan spiritual sekaligus ruang silaturahmi bagi seluruh keluarga besar organisasi dan masyarakat.
Menjaga perjuangan tetap memiliki kompas moral
Elang Tiga Hambalang bergerak dalam berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan. Dalam perjalanan tersebut, organisasi dapat berhadapan dengan perbedaan pandangan, kepentingan, maupun dinamika yang tidak sederhana.
Karena itu, diperlukan sebuah kompas moral agar setiap langkah organisasi tidak kehilangan arah.
Majelis Zikir dan Sholawat diharapkan menjadi salah satu benteng spiritual yang mengingatkan seluruh jajaran bahwa perjuangan tidak boleh dilepaskan dari nilai ketuhanan, kejujuran, tanggung jawab, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap sesama.
Semangat tersebut tercermin dalam nilai:
“Mendekat kepada Allah, Menebar Sholawat, Memperkuat Persatuan.”
Bagi Elang Tiga Hambalang, kalimat tersebut bukan semata slogan. Nilai itu harus diterjemahkan dalam perilaku organisasi: semakin kuat secara kelembagaan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Zikir dan sholawat sebagai ruang pemersatu
Salah satu tantangan organisasi besar adalah menjaga hubungan antarpengurus dan anggota agar tidak hanya terikat oleh struktur dan jabatan.
Majelis Zikir dan Sholawat menawarkan pendekatan yang berbeda. Di dalam majelis, jabatan bukanlah pembatas. Ketua, pengurus, anggota, relawan, ulama, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum dapat duduk bersama dalam zikir, sholawat, doa, dan silaturahmi.
Perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk terpecah. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan dan kerja bersama.
Karena itu, majelis diharapkan menjadi ruang yang mampu memperkuat ukhuwah, merawat solidaritas, dan menghilangkan sekat sosial di lingkungan organisasi.
Dzikir, Sholawat, Ikhtiar untuk Negeri
Elang Tiga Hambalang memandang pengabdian terhadap bangsa tidak berhenti pada pernyataan ataupun kegiatan seremonial.
Pengabdian membutuhkan kerja nyata. Namun, ikhtiar manusia juga perlu disertai doa.
Semangat inilah yang dirangkum dalam tagline:
“Dzikir, Sholawat, Ikhtiar untuk Negeri.”
Melalui majelis ini, keluarga besar Elang Tiga Hambalang dapat bersama-sama berdoa untuk keselamatan masyarakat, persatuan bangsa, kedamaian, serta kemajuan Indonesia.
Pada saat yang sama, doa harus berjalan beriringan dengan tindakan sosial yang nyata.
Majelis tidak boleh berhenti pada kegiatan ritual. Kehadirannya harus dapat dirasakan masyarakat melalui kegiatan sosial-keagamaan, kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu, bantuan kemanusiaan, pendidikan keagamaan, serta kegiatan lain yang memberikan manfaat langsung.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, majelis juga dapat menjadi ruang untuk mendoakan agar penyelenggaraan pemerintahan dan program pembangunan nasional berjalan dengan baik, membawa kesejahteraan masyarakat, serta mengarah pada cita-cita Indonesia Emas 2045.
Majelis sebagai ruang musyawarah
Nilai spiritual juga harus melahirkan budaya organisasi yang sehat. Karena itu, Majelis Zikir dan Sholawat dapat dikembangkan sebagai ruang silaturahmi sekaligus musyawarah.
Persoalan organisasi tidak selalu harus diselesaikan melalui pendekatan formal. Ada kalanya dialog dalam suasana persaudaraan justru membuka jalan bagi penyelesaian yang lebih baik.
Prinsip syura atau musyawarah menjadi penting agar keputusan tidak hanya datang dari atas, tetapi juga mempertimbangkan aspirasi anggota.
Majelis dapat menjadi tempat bertemunya gagasan, aspirasi, dan nasihat. Dengan demikian, hubungan antara pimpinan dan anggota semakin terbuka sekaligus memperkuat akuntabilitas organisasi.
Menghadirkan Islam yang damai dan bermanfaat
Majelis Zikir dan Sholawat Elang Tiga Hambalang juga harus membawa semangat rahmatan lil ‘alamin.
Artinya, kehadirannya harus menghadirkan keteduhan, bukan pertentangan; mempererat persaudaraan, bukan menciptakan sekat; serta memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial.
Majelis dapat menjadi jembatan yang mempertemukan ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, pengurus organisasi, dan berbagai unsur masyarakat dalam kegiatan yang positif.
Spiritualitas harus melahirkan kepedulian.
Zikir harus memperhalus hati. Sholawat harus memperkuat kecintaan dan keteladanan. Doa harus mendorong ikhtiar. Sementara organisasi harus menerjemahkan semuanya menjadi pengabdian.
Bukan sekadar membangun citra
Keberadaan majelis yang aktif memang dapat memberikan dampak positif terhadap citra Elang Tiga Hambalang di mata masyarakat. Namun, citra seharusnya menjadi akibat, bukan tujuan utama.
Kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan semata. Kepercayaan lahir ketika masyarakat melihat konsistensi antara nilai yang disampaikan dengan tindakan yang dilakukan.
Karena itu, keberhasilan Majelis Zikir dan Sholawat Elang Tiga Hambalang nantinya tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya kegiatan atau jumlah jamaah yang hadir. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana majelis mampu membentuk karakter anggota, mempererat persaudaraan, membantu masyarakat, serta menjaga organisasi tetap berjalan dalam koridor moral dan kemanusiaan.
Menjadi roh dan pengikat organisasi
Pada akhirnya, Majelis Zikir dan Sholawat Elang Tiga Hambalang diharapkan menjadi salah satu roh yang mengikat perjalanan organisasi.
Ketua Umum Elang Tiga Hambalang Dedy Syafrizal dan Sekretaris Jenderal Ganda Satria Dharma membawa gagasan bahwa kekuatan organisasi harus dibangun secara seimbang: kuat dalam struktur, solid dalam persaudaraan, nyata dalam pengabdian, serta kokoh dalam nilai spiritual dan moral.
Elang Tiga Hambalang tidak hanya membutuhkan anggota yang aktif, tetapi juga manusia-manusia yang memiliki integritas, kepedulian, dan kesadaran bahwa kekuatan organisasi harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan masyarakat.
Karena pada akhirnya, kebesaran sebuah organisasi bukan hanya ditentukan oleh seberapa luas jaringannya, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dari keberadaannya.
Itulah semangat yang hendak dibangun melalui Majelis Zikir dan Sholawat Elang Tiga Hambalang:
“Mendekat kepada Allah, Menebar Sholawat, Memperkuat Persatuan.”
“Dzikir, Sholawat, Ikhtiar untuk Negeri.”
Redaksi: Elang Tiga Global News
Editor: Bambang





