EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Nasional

Kementan Targetkan Produksi Kedelai 3 Ton per Hektare, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang Desak Jaminan Benih Unggul, Perlindungan Harga dan Kepastian Pasar

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Petani | Tanaman Pangan | Kedelai | Benih Unggul | Ketahanan Pangan Nasional Jumat, 6 November 2026 Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Kementerian Pertanian Republik Indonesia mempercepat peningkatan produksi kedelai nasional melalui program pengembangan lahan seluas 50.000 hektare pada 2026....

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Petani | Tanaman Pangan | Kedelai | Benih Unggul | Ketahanan Pangan Nasional

Jumat, 6 November 2026

banner 468x60

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Kementerian Pertanian Republik Indonesia mempercepat peningkatan produksi kedelai nasional melalui program pengembangan lahan seluas 50.000 hektare pada 2026.

Pemerintah menargetkan produktivitas kedelai mencapai 3 ton per hektare, meningkat dari produktivitas yang saat ini masih berada pada kisaran 1,6–1,8 ton per hektare.

Dengan target tersebut, program pengembangan kedelai berpotensi menghasilkan sekitar 150.000 ton apabila seluruh lahan sasaran berhasil ditanami dan mencapai produktivitas yang direncanakan.

Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet menyampaikan kebijakan tersebut saat menghadiri gerakan tanam kedelai di Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada 3 November 2026.

Kementerian Pertanian juga menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam pengembangan teknologi budidaya dan penguatan produksi dari hulu hingga hilir.

DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung program pemerintah mengurangi ketergantungan impor kedelai. Namun, organisasi meminta agar peningkatan produksi diikuti perlindungan harga, ketersediaan benih unggul, pendampingan usaha, serta jaminan pemasaran hasil panen.


Ketergantungan Impor Kedelai Menjadi Tantangan Ketahanan Pangan Nasional

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional kembali menghadapi tantangan besar. Indonesia masih membutuhkan pasokan kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan pangan, terutama produsen tahu dan tempe yang menjadi bagian penting konsumsi masyarakat.

Di tengah tingginya kebutuhan tersebut, pemerintah mempercepat pengembangan produksi kedelai dalam negeri melalui peningkatan produktivitas, penerapan teknologi pertanian, dan penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi.

Dewan Pimpinan Nasional Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa percepatan produksi kedelai merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi petani Indonesia.

Namun, keberhasilan program harus memberikan keuntungan yang layak kepada masyarakat yang terlibat langsung dalam kegiatan produksi.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Pertanian pada 4 November 2026, pemerintah menargetkan pengembangan kedelai melalui program bantuan seluas 50.000 hektare.

Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet menjelaskan bahwa pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas kedelai nasional dari kisaran 1,6–1,8 ton per hektare menjadi 3 ton per hektare.

Apabila target tersebut tercapai, program pengembangan berpotensi menghasilkan sekitar 150.000 ton kedelai.

Angka tersebut masih merupakan potensi produksi berdasarkan target luas lahan dan produktivitas, bukan realisasi hasil panen.

Grobogan dipilih menjadi salah satu lokasi awal pengembangan karena mempunyai sejarah panjang sebagai sentra produksi kedelai nasional.

Pemerintah menilai wilayah tersebut memiliki potensi untuk menjadi contoh penerapan teknologi budidaya yang dapat dikembangkan pada wilayah lain.

Kementan Gandeng UGM untuk Mengembangkan Teknologi Kedelai

Peningkatan produksi kedelai tidak hanya dilakukan melalui perluasan penanaman.

Kementerian Pertanian juga menggandeng Universitas Gadjah Mada untuk mengembangkan teknologi dan pendampingan budidaya.

Kolaborasi tersebut mencakup penerapan teknologi, peningkatan kapasitas petani, penguatan kelembagaan, serta pengelolaan hasil produksi.

UGM turut mengembangkan pendekatan teknologi Saekedelai yang mengintegrasikan pengelolaan agribisnis kedelai dari kegiatan budidaya hingga pemasaran.

Pemerintah berharap penguatan teknologi dapat membantu petani meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Selain penyediaan benih unggul, pemerintah juga menyiapkan dukungan alat dan mesin pertanian serta sarana pascapanen.

Khusus Kabupaten Grobogan, pengembangan kedelai ditargetkan mencapai 5.025 hektare.

Dengan asumsi produktivitas 3 ton per hektare, potensi produksinya diperkirakan mencapai sekitar 15.000 ton.

Namun, pencapaian target tersebut tetap bergantung pada kondisi lahan, iklim, ketersediaan sarana produksi, keberhasilan budidaya, dan hasil panen aktual.

Impor Kedelai Masih Menjadi Tantangan

Berdasarkan informasi UGM yang dipublikasikan pada 4 November 2026, Kementerian Pertanian memperkirakan impor kedelai Indonesia sepanjang 2026 mencapai 2,5–2,6 juta ton.

Realisasi impor hingga awal November dilaporkan berada pada kisaran 1,9 juta ton.

Besarnya kebutuhan impor tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi kedelai dalam negeri membutuhkan strategi berkelanjutan.

Dengan potensi produksi 150.000 ton dari program bantuan seluas 50.000 hektare, program pemerintah dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pasokan domestik.

Namun, peningkatan tersebut belum cukup untuk menggantikan seluruh kebutuhan impor nasional.

Karena itu, pengembangan kedelai perlu dilakukan secara bertahap melalui peningkatan produktivitas, efisiensi usaha, perbaikan kualitas, dan penguatan sistem pemasaran.

DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor.

Organisasi memandang bahwa keberhasilan pembangunan pertanian harus didasarkan pada peningkatan kemampuan produksi nasional yang disertai kesejahteraan petani.

Satuan Petani ETH Minta Pemerintah Menjamin Ketersediaan Benih Unggul

Salah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas kedelai adalah penggunaan benih yang bermutu dan sesuai dengan kondisi wilayah.

Petani membutuhkan benih yang mempunyai daya tumbuh baik, potensi produktivitas tinggi, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan budidaya.

Selain itu, ketersediaan pupuk, air, dan pendampingan teknis menjadi bagian penting dalam keberhasilan produksi.

DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa program bantuan benih harus dilaksanakan secara transparan dan tepat waktu.

Penyaluran bantuan perlu mempertimbangkan jadwal tanam agar benih dapat dimanfaatkan dalam kondisi yang sesuai.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa petani memperoleh informasi mengenai karakteristik benih, kebutuhan pemupukan, pengendalian hama, dan teknik budidaya yang tepat.

Bantuan sarana produksi yang tidak disertai pendampingan berisiko menghasilkan manfaat yang tidak optimal.

Karena itu, penyuluh pertanian, kelompok tani, lembaga penelitian, dan organisasi masyarakat perlu dilibatkan sesuai kapasitas masing-masing.

Perlindungan Harga dan Kepastian Pasar Tidak Boleh Diabaikan

Peningkatan produksi kedelai harus diikuti kepastian pemasaran hasil panen.

Petani membutuhkan informasi mengenai harga pembelian, standar mutu, biaya produksi, serta peluang memperoleh keuntungan.

Tanpa kepastian pasar, peningkatan produktivitas belum tentu meningkatkan kesejahteraan petani.

DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa pemerintah perlu memperkuat hubungan antara petani kedelai, koperasi, dan industri pengolahan tahu serta tempe.

Hubungan usaha tersebut harus dilaksanakan melalui mekanisme perdagangan yang transparan.

Petani perlu memperoleh kejelasan mengenai standar kualitas, volume pembelian, harga yang disepakati, dan waktu pembayaran.

Selain itu, pemerintah perlu mengevaluasi biaya produksi kedelai lokal agar kebijakan pengembangan dapat mempertimbangkan daya saing terhadap produk impor.

Penguatan industri pengolahan dalam negeri juga perlu memberikan peluang bagi penyerapan hasil produksi petani lokal yang memenuhi persyaratan.

Pengembangan Kedelai Tidak Boleh Mengganggu Produksi Padi

Kementerian Pertanian menegaskan bahwa pengembangan kedelai tidak harus dilakukan melalui pembukaan lahan baru yang berpotensi mengurangi produksi padi.

Pemerintah mendorong optimalisasi pola tanam, termasuk pergiliran tanaman dan tumpangsari dengan komoditas lain apabila sesuai dengan kondisi lahan.

DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung pendekatan tersebut.

Pengembangan kedelai perlu memperhatikan keseimbangan antara peningkatan produksi komoditas dan perlindungan lahan pertanian pangan.

Penentuan lokasi pengembangan harus mempertimbangkan ketersediaan air, kesesuaian tanah, kalender tanam, serta kondisi ekonomi petani.

Dengan demikian, peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan tanpa mengurangi kemampuan petani menghasilkan komoditas pangan lainnya.

Ganda Satria Dharma: Kemandirian Kedelai Harus Meningkatkan Kesejahteraan Petani Indonesia

Wakil Pembina Satuan Petani Elang Tiga Hambalang, Ganda Satria Dharma, menempatkan peningkatan kemandirian produksi kedelai sebagai salah satu prioritas penting dalam mendukung pembangunan ketahanan pangan nasional.

Pengembangan produksi kedelai harus dilaksanakan melalui kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada petani.

Peningkatan produktivitas perlu diikuti kepastian pemasaran dan perlindungan terhadap keberlangsungan usaha masyarakat.

Ganda Satria Dharma juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani agar mereka mampu memperoleh akses sarana produksi, teknologi, pembiayaan, dan informasi pasar secara lebih baik.

Koperasi dan kelompok tani dapat menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan produksi serta meningkatkan posisi tawar petani dalam melakukan kerja sama perdagangan.

Pemerintah perlu memastikan bahwa program bantuan benih, sarana produksi, serta pendampingan teknologi benar-benar diterima masyarakat sesuai persyaratan dan kebutuhan.

Selain itu, pengembangan kedelai nasional membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri pengolahan, koperasi, dan organisasi masyarakat.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut harus diarahkan untuk membangun sistem produksi yang efisien, transparan, dan berkelanjutan.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung upaya pemerintah memperkuat produksi pangan nasional.

Namun, pelaksanaan program harus disertai pengawasan dan evaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani.

Keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup hanya dilihat dari peningkatan luas tanam dan produksi, melainkan juga dari meningkatnya pendapatan bersih, kemampuan usaha, dan kesejahteraan masyarakat pertanian.

Satuan Petani ETH Dorong Klinik Tani untuk Mendampingi Petani Kedelai

DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendorong pengembangan Klinik Tani sebagai salah satu sarana pendampingan masyarakat dalam meningkatkan produktivitas kedelai.

Klinik Tani dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, penyuluh, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian.

Pelayanan yang dapat dikembangkan antara lain konsultasi pemilihan benih, pengelolaan tanah, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, penggunaan teknologi budidaya, dan penanganan pascapanen.

Selain pelayanan teknis, Klinik Tani dapat membantu masyarakat memperoleh informasi mengenai program bantuan pemerintah, akses pembiayaan resmi, serta peluang pemasaran.

Program tersebut perlu dilaksanakan melalui mekanisme kerja sama yang jelas dan sesuai kewenangan masing-masing lembaga.

Pengembangan Klinik Tani diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani mengelola usaha secara produktif dan berkelanjutan.

Empat Rekomendasi Satuan Petani Elang Tiga Hambalang

1. Perkuat Penyediaan Benih Unggul dan Transparansi Bantuan

Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan benih kedelai bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi wilayah.

Penyaluran bantuan harus dilaksanakan berdasarkan data penerima yang telah diverifikasi.

Pemerintah juga perlu memperkuat pengawasan mutu benih serta ketepatan waktu distribusi agar bantuan dapat digunakan sesuai kalender tanam.

2. Bangun Kepastian Pasar dan Perlindungan Harga Hasil Panen

Pemerintah perlu memfasilitasi kerja sama antara petani, koperasi, industri tahu dan tempe, serta pelaku perdagangan kedelai.

Kemitraan perlu memberikan kejelasan mengenai harga, standar mutu, volume pembelian, dan mekanisme pembayaran.

Kebijakan perdagangan harus mempertimbangkan biaya produksi petani dalam negeri serta kebutuhan bahan baku industri pengolahan.

3. Perkuat Pendampingan Teknologi melalui Klinik Tani

Kementerian Pertanian bersama perguruan tinggi, penyuluh, dan organisasi masyarakat perlu memperluas pendampingan penerapan teknologi budidaya kedelai.

Pendampingan dapat mencakup pengelolaan pola tanam, pemupukan, pengendalian hama, pengelolaan biaya produksi, dan penanganan hasil panen.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendorong pengembangan Klinik Tani sebagai salah satu sarana pelayanan pendukung melalui kerja sama dengan lembaga terkait.

4. Laksanakan Evaluasi Program Berdasarkan Hasil Panen dan Pendapatan Petani

Pemerintah perlu mempublikasikan perkembangan pelaksanaan program pengembangan kedelai secara berkala.

Evaluasi perlu mencakup luas tanam terealisasi, produktivitas aktual, kualitas hasil, penggunaan sarana produksi, biaya usaha, dan pendapatan bersih petani.

Hasil evaluasi tersebut harus digunakan sebagai dasar perbaikan program dan pengembangan kedelai pada wilayah lainnya.

Satuan Petani ETH Berkomitmen Mendukung Kemandirian Pangan Nasional

DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa peningkatan produksi kedelai merupakan salah satu bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ketergantungan terhadap impor perlu dikurangi secara bertahap melalui peningkatan kemampuan produksi dalam negeri yang didukung teknologi, benih unggul, pembiayaan, dan kepastian pemasaran.

Namun, pembangunan pertanian harus tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat.

Petani merupakan pelaku utama dalam penyediaan bahan pangan nasional yang membutuhkan kepastian usaha serta perlindungan ekonomi.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan kemandirian pertanian Indonesia.

Sebagai organisasi masyarakat yang menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen, objektif, dan konstruktif, Satuan Petani ETH akan terus mendorong pelaksanaan program yang transparan, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Melalui penguatan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, industri, serta kelompok tani, pengembangan kedelai nasional diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.

Ketahanan pangan nasional yang kuat harus dibangun melalui petani yang produktif, mandiri, terlindungi, dan sejahtera.


Pihak Terkait

Kementerian Pertanian Republik Indonesia; Direktorat Jenderal Tanaman Pangan; Universitas Gadjah Mada; Pemerintah Provinsi Jawa Tengah; Pemerintah Kabupaten Grobogan; Dinas Pertanian; penyuluh pertanian; kelompok tani; koperasi pertanian; serta industri pengolahan tahu dan tempe.

DEWAN PIMPINAN NASIONAL
SATUAN PETANI ELANG TIGA HAMBALANG

BERSATU • BERJUANG • SEJAHTERA

banner 336x280
Secret Link