EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi RI Jadi 5,2 Persen, DPN ETH: Jangan Puas PDB Tumbuh Jika Dompet Rakyat Belum Ikut Menguat

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Bank Dunia kini lebih optimistis terhadap ekonomi Indonesia. Namun pertumbuhan 5,2 persen baru berarti bagi rakyat jika berubah menjadi pekerjaan, penghasilan yang lebih baik, harga kebutuhan yang terjangkau, serta peluang usaha yang semakin luas. Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 7...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Bank Dunia kini lebih optimistis terhadap ekonomi Indonesia. Namun pertumbuhan 5,2 persen baru berarti bagi rakyat jika berubah menjadi pekerjaan, penghasilan yang lebih baik, harga kebutuhan yang terjangkau, serta peluang usaha yang semakin luas.

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

banner 468x60

7 Oktober 2026 — Optimisme terhadap perekonomian Indonesia mendapat dorongan baru. Bank Dunia (World Bank) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,2 persen, atau naik 0,5 poin persentase dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen.

Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan Indonesia bertahan di sekitar 5,2 persen pada 2027. Revisi tersebut antara lain didorong perkiraan bahwa dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian Indonesia tidak seberat perkiraan sebelumnya.

Angka tersebut bahkan berada di atas proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik yang menurut laporan terbaru Bank Dunia mencapai sekitar 4,5 persen pada 2026.

Bagi Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH), kabar tersebut patut diapresiasi.

Namun pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti menjadi angka yang terdengar baik dalam konferensi pers.

Pertumbuhan harus mempunyai alamat: rumah tangga rakyat.


Semester I Tumbuh 5,4 Persen, Permintaan Domestik Jadi Kekuatan

Bank Dunia mencatat ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,4 persen pada semester pertama 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,1 persen sepanjang 2025.

Pertumbuhan tersebut ditopang penguatan konsumsi swasta dan belanja pemerintah. Permintaan domestik dinilai menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi Indonesia dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan yang lebih banyak memperoleh dorongan dari lonjakan aktivitas ekspor terkait kecerdasan artifisial atau AI.

Bank Dunia menilai Indonesia relatif lebih sedikit terekspos terhadap AI boom dibandingkan Malaysia, Filipina, Thailand ataupun Vietnam.

Namun posisi tersebut tidak semestinya dianggap sebagai kelemahan permanen.

AI justru dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas UMKM, industri, pertanian, pelayanan publik hingga ekonomi digital apabila didukung infrastruktur, keterampilan tenaga kerja, energi, pembiayaan dan iklim usaha yang memadai.

Safrizal: Pertumbuhan Harus Terlihat di Meja Makan Rakyat

Menanggapi proyeksi tersebut, Safrizal, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang, dalam naskah pernyataan DPN ETH untuk publikasi menilai kenaikan proyeksi Bank Dunia merupakan sinyal positif terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.

Namun ia menegaskan pemerintah jangan terjebak dalam euforia angka.

“Pertumbuhan 5,2 persen adalah kabar baik dan harus kita apresiasi. Tetapi rakyat tidak membeli beras menggunakan angka PDB. Rakyat menilai ekonomi dari apakah pekerjaannya aman, pendapatannya naik, harga kebutuhan bisa dijangkau, anaknya dapat sekolah dan usahanya mempunyai pembeli.”

Menurut Safrizal, pertumbuhan ekonomi nasional harus diuji melalui kualitas kehidupan masyarakat.

“Jangan sampai ekonomi tumbuh di laporan, tetapi masyarakat merasa pengeluaran rumah tangganya semakin berat. Jangan sampai investasi meningkat tetapi kesempatan kerja berkualitas tidak ikut bertambah. Pertumbuhan harus turun dari tabel statistik dan masuk ke dompet rakyat.”


Ada Lampu Kuning di Balik Angka 5,2 Persen

Optimisme Bank Dunia bukan berarti ekonomi Indonesia bebas risiko.

Laporan terbaru Bank Dunia juga mencatat sejumlah indikator yang perlu dicermati.

Pertama, aktivitas manufaktur sempat melemah. PMI manufaktur tercatat pada level 49,3 pada Agustus 2026, yakni berada di bawah ambang 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.

Kedua, kepercayaan konsumen sempat turun menjadi 116,8 pada Juli 2026.

Ketiga, Bank Dunia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia dapat melebar menjadi sekitar 1,5 persen PDB pada 2026.

Bank Dunia juga mengingatkan bahwa ketika stimulus fiskal mulai berkurang, pertumbuhan Indonesia ke depan akan semakin membutuhkan investasi swasta yang kuat.

DPN ETH menilai catatan tersebut tidak boleh dikesampingkan.

Pertumbuhan ekonomi yang sehat bukan hanya harus tinggi, tetapi juga tahan terhadap guncangan.


Safrizal: Jangan Bakar Mesin Ekonomi dengan Bahan Bakar yang Tidak Bisa Dipakai Selamanya

Safrizal menilai belanja pemerintah memang mempunyai fungsi penting dalam menjaga momentum ekonomi.

Namun dalam jangka panjang, negara tidak dapat terus-menerus menjadikan ekspansi fiskal sebagai satu-satunya mesin penggerak.

“Belanja pemerintah dapat menjadi starter ketika ekonomi membutuhkan dorongan. Tetapi mesin utama ekonomi nasional harus tetap datang dari produktivitas masyarakat, investasi swasta, industri yang kompetitif, UMKM yang berkembang, ekspor bernilai tambah dan lapangan kerja produktif.”

Menurut Safrizal, pemerintah harus memperhatikan kualitas setiap rupiah stimulus.

“Kalau pemerintah mengeluarkan Rp1 triliun, pertanyaan publik tidak boleh berhenti pada apakah uang itu habis dibelanjakan. Kita harus bertanya: berapa lapangan kerja tercipta, berapa UMKM tumbuh, berapa pendapatan masyarakat meningkat dan berapa nilai ekonomi baru yang lahir?”

Jangan Sampai Investasi Besar tetapi Lapangan Kerja Tipis

DPN ETH menilai salah satu pekerjaan penting pemerintah adalah memastikan investasi mempunyai hubungan yang semakin kuat dengan penciptaan lapangan kerja.

Tidak semua investasi mempunyai kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sama.

Karena itu, pemerintah perlu membedakan investasi yang besar secara nominal dengan investasi yang menghasilkan efek ekonomi luas.

Safrizal mengatakan:

“Indonesia membutuhkan investasi triliunan rupiah, tetapi rakyat membutuhkan pekerjaan. Jangan hanya berlomba mengumumkan nilai investasi. Umumkan juga berapa tenaga kerja Indonesia yang terserap, berapa UMKM menjadi pemasok dan seberapa besar teknologi atau keterampilan berpindah kepada bangsa kita.”


Ganda Satria Dharma: Jangan Hanya Punya Target Pertumbuhan, Punya Juga Target Siapa yang Menikmatinya

Pernyataan tersebut dipertegas oleh Ganda Satria Dharma, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang.

Menurut Ganda, pemerintah perlu menyandingkan indikator PDB dengan indikator yang lebih dekat terhadap kehidupan rakyat.

“Kalau pertumbuhan ditargetkan 5,2 persen, pemerintah juga harus menunjukkan indikator pendamping: berapa pekerjaan baru tercipta, bagaimana perkembangan upah riil, bagaimana daya beli kelompok bawah, berapa UMKM naik kelas dan wilayah mana yang belum menikmati pertumbuhan.”

Ganda menilai transparansi tersebut penting agar masyarakat dapat memahami apakah pertumbuhan ekonomi tersebar atau terkonsentrasi.

“Angka nasional bisa terlihat bagus tetapi menyembunyikan ketimpangan antarwilayah dan antarkelompok masyarakat. Pemerintah harus berani membuka peta pertumbuhan sampai daerah sehingga bisa diketahui siapa yang maju dan siapa yang tertinggal.”


Rupiah Menguat Pagi Ini, tetapi Tekanan Eksternal Tetap Harus Dijaga

Dinamika global tetap menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan.

Pada pembukaan perdagangan 7 Oktober 2026, rupiah tercatat menguat 33 poin atau sekitar 0,18 persen menjadi Rp17.866 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.899 per dolar AS.

Penguatan jangka pendek tersebut merupakan perkembangan positif.

Namun DPN ETH menilai kurs rupiah yang masih berada di kisaran Rp17 ribuan per dolar AS memperlihatkan pentingnya menjaga fundamental ekonomi, cadangan devisa, inflasi, investasi dan kepercayaan pasar.

Bank Dunia sendiri mencatat pada awal 2026 terdapat tekanan pasar dan aliran modal keluar. Pemerintah dan Bank Indonesia kemudian mengambil berbagai langkah stabilisasi, termasuk kebijakan di sektor keuangan dan moneter.

Ganda Satria Dharma mengatakan:

“Pertumbuhan tidak boleh dibangun dengan mengabaikan stabilitas. Kita membutuhkan ekonomi yang cepat tetapi juga mempunyai rem, sabuk pengaman dan fondasi yang kuat. Fiskal, inflasi, rupiah, transaksi berjalan dan investasi harus dibaca dalam satu dashboard risiko nasional.”


DPN ETH Dorong 7 Agenda Agar Pertumbuhan Benar-Benar Turun ke Rakyat

Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah menjadikan peningkatan proyeksi Bank Dunia sebagai momentum mempercepat tujuh agenda ekonomi.

Pertama — Jadikan penciptaan pekerjaan sebagai indikator utama pertumbuhan.
Setiap kebijakan investasi, hilirisasi dan insentif industri harus menyertakan target penyerapan tenaga kerja.

Kedua — Lindungi daya beli masyarakat.
Pengendalian harga pangan, transportasi dan kebutuhan dasar harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan.

Ketiga — Perkuat investasi swasta.
Kepastian hukum, perizinan, energi, logistik, pembiayaan serta konsistensi regulasi harus dibenahi agar investasi jangka panjang meningkat.

Keempat — Perbesar keterlibatan UMKM dalam rantai ekonomi nasional.
Proyek pemerintah dan investasi besar perlu membuka ruang bagi produk serta pemasok domestik.

Kelima — Dorong industri bernilai tambah dan produktivitas.
Hilirisasi tidak boleh hanya berhenti pada pengolahan awal bahan mentah, tetapi harus bergerak menuju manufaktur dan teknologi yang lebih tinggi.

Keenam — Persiapkan tenaga kerja menghadapi AI.
Pendidikan vokasi, reskilling dan upskilling harus diperluas agar teknologi meningkatkan produktivitas, bukan meninggalkan jutaan pekerja.

Ketujuh — Bangun dashboard “Pertumbuhan untuk Rakyat”.
Publik perlu dapat melihat hubungan antara pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, upah, kemiskinan, UMKM, investasi dan kondisi setiap daerah.

AI Jangan Hanya Menjadi Bisnis Teknologi Besar

Bank Dunia dalam laporan regional terbarunya menekankan bahwa AI dapat membantu meningkatkan produktivitas dan menciptakan pekerjaan yang lebih baik apabila negara-negara Asia Timur dan Pasifik memperkuat infrastruktur digital, energi, kemampuan tenaga kerja dan akses pembiayaan.

DPN ETH meminta Indonesia tidak terlambat mengambil peluang tersebut.

Namun Ganda mengingatkan transformasi AI jangan hanya menguntungkan perusahaan teknologi besar.

“Kalau AI hanya dipakai perusahaan besar di kota besar, kesenjangannya justru bisa bertambah. Petani harus bisa menggunakannya untuk produktivitas, UMKM untuk pemasaran, puskesmas untuk pelayanan, pemerintah daerah untuk administrasi dan siswa untuk pendidikan.”

Menurutnya, pemerintah harus mempunyai strategi adopsi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia, termasuk penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah serta teknologi berbiaya terjangkau.

Safrizal: Ekonomi yang Hebat Harus Menghasilkan Rakyat yang Lebih Kuat

Safrizal menegaskan kenaikan proyeksi pertumbuhan harus dijadikan momentum, bukan sekadar bahan perayaan.

“Kalau Bank Dunia lebih optimistis kepada Indonesia, maka kita sendiri harus menggunakan kepercayaan itu untuk bekerja lebih keras. Tetapi target akhirnya jangan sekadar mengejar angka lima koma sekian persen. Target kita harus masyarakat Indonesia yang lebih kuat secara ekonomi.”

Ia menilai pembangunan harus membuat masyarakat semakin mampu berdiri dengan pendapatan dan produktivitasnya sendiri.

“Pertumbuhan terbaik bukan ketika pemerintah terus-menerus harus membagikan bantuan kepada semakin banyak orang. Pertumbuhan terbaik adalah ketika semakin banyak rakyat memperoleh pekerjaan, usaha berkembang dan akhirnya tidak lagi membutuhkan bantuan karena kehidupannya sudah lebih sejahtera.”

Ganda Satria Dharma mempertegas:

“Setiap satu persen pertumbuhan mempunyai cerita manusia di belakangnya. Pemerintah harus memastikan cerita itu tentang pekerja yang mendapatkan pekerjaan, petani yang memperoleh harga layak, UMKM yang naik kelas dan keluarga yang kehidupannya membaik.”

Bank Dunia telah menaikkan proyeksinya.

Itu merupakan sinyal kepercayaan yang positif terhadap perekonomian Indonesia.

Tetapi bagi DPN Elang Tiga Hambalang, angka 5,2 persen bukan garis finis.

Justru dari angka itulah pertanyaan publik dimulai:

Siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?

Berapa lapangan kerja yang tercipta?

Apakah penghasilan masyarakat ikut naik?

Dan apakah keluarga Indonesia benar-benar merasa hidupnya lebih baik?

Sebab ekonomi nasional tidak semestinya hanya tumbuh di layar statistik.

Ekonomi harus tumbuh di pabrik, sawah, pasar, warung, tempat kerja—dan akhirnya terasa di dompet rakyat.

banner 336x280
Secret Link