Gempa NTT Telan 111 Korban Jiwa, DPN ETH Serukan Solidaritas Nasional dan Percepatan Pemulihan
H. Safrizal dan Ganda Satria Dharma: Penanganan Jangan Berhenti pada Masa Darurat, Pemulihan Rumah, Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Warga Harus Dikawal Hambalang, 29 AGUSTUS 2026 — Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Elang Tiga Hambalang (ETH) menyerukan solidaritas nasional untuk membantu masyarakat...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
H. Safrizal dan Ganda Satria Dharma: Penanganan Jangan Berhenti pada Masa Darurat, Pemulihan Rumah, Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Warga Harus Dikawal
Hambalang, 29 AGUSTUS 2026 — Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Elang Tiga Hambalang (ETH) menyerukan solidaritas nasional untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga perkembangan terbaru bahwa korban meninggal dunia akibat gempa tersebut tercatat 111 orang. BMKG juga telah merekam sedikitnya 8.794 kali gempa susulan, dengan kekuatan berkisar magnitudo 1,0 hingga 6,2. Sebanyak 152 di antaranya dirasakan masyarakat. ([ANTARA News Sumatera Barat][1])
Pemerintah Provinsi NTT memperpanjang masa tanggap darurat selama 14 hari, mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026, karena aktivitas gempa susulan masih berlangsung dan kebutuhan masyarakat terdampak tetap besar. ([ANTARA News Sumatera Barat][1])
DPN ETH menilai bencana tersebut harus menjadi perhatian seluruh elemen bangsa karena dampaknya tidak hanya menyangkut korban jiwa, tetapi juga tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, perekonomian keluarga dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
H. SAFRIZAL: NTT TIDAK BOLEH BERJUANG SENDIRIAN
Ketua Umum DPN Elang Tiga Hambalang, H. Safrizal, menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya.
Menurutnya, bencana sebesar ini membutuhkan kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, BNPB, kementerian/lembaga, organisasi masyarakat, dunia usaha dan seluruh masyarakat Indonesia.
“Duka masyarakat NTT adalah duka Indonesia. Saudara-saudara kita yang kehilangan keluarga, rumah dan sumber penghidupan tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Negara dan seluruh elemen masyarakat harus hadir sampai proses pemulihan benar-benar selesai.”
H. Safrizal menilai penanganan bencana tidak boleh hanya kuat pada masa awal tanggap darurat, tetapi harus memiliki peta jalan pemulihan yang jelas.
Menurutnya, kebutuhan pengungsi seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, sanitasi dan tempat tinggal sementara tetap harus menjadi prioritas, sekaligus mulai mempersiapkan rekonstruksi permukiman dan fasilitas umum.
175 RIBU LEBIH WARGA MASIH MENGUNGSI
BNPB mencatat jumlah warga yang masih berada dalam pengungsian mencapai sekitar 175.909 jiwa. Sebagian warga telah mulai kembali ke rumah setelah kondisi dinilai memungkinkan, tetapi banyak masyarakat masih membutuhkan fasilitas pengungsian, logistik, air bersih, MCK, dapur umum dan pelayanan kesehatan. ([ANTARA News Sumatera Barat][1])
Korban meninggal terbanyak dilaporkan berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 45 orang, disusul Manggarai Timur 38 orang dan Nagekeo 13 orang. ([ANTARA News Sumatera Barat][1])
DPN ETH meminta distribusi bantuan dilakukan berdasarkan data kebutuhan lapangan sehingga tidak menumpuk di satu lokasi sementara wilayah lain mengalami kekurangan.
GANDA SATRIA DHARMA: TRANSPARANSI BANTUAN HARUS DIJAGA
Sekretaris Jenderal DPN Elang Tiga Hambalang, Ganda Satria Dharma, menegaskan bahwa besarnya dukungan masyarakat terhadap korban bencana harus dibarengi transparansi dan koordinasi yang baik.
“Setiap bantuan adalah amanah masyarakat. Karena itu distribusinya harus tercatat, terbuka, tepat sasaran dan benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas dan masyarakat di wilayah sulit dijangkau.”
Ganda Satria Dharma mengatakan koordinasi menjadi sangat penting karena kebutuhan masyarakat akan berubah seiring bergesernya fase penanganan dari tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.
Menurutnya, ketika kebutuhan makanan darurat mulai stabil, pemerintah harus mulai memastikan ketersediaan tempat tinggal, sekolah, pelayanan kesehatan, pekerjaan dan pemulihan usaha masyarakat.
ETH SOROT PENDIDIKAN MAHASISWA TERDAMPAK
DPN ETH juga mengapresiasi kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang menyiapkan pembebasan atau pengurangan Uang Kuliah Tunggal bagi sekitar 4.000 hingga 5.000 mahasiswa terdampak gempa NTT. ([ANTARA News Jambi][2])
Menurut ETH, kebijakan tersebut penting untuk mencegah mahasiswa dari keluarga terdampak bencana terpaksa menghentikan pendidikan akibat kehilangan kemampuan ekonomi.
DPN ETH berharap perhatian serupa juga diberikan kepada siswa pendidikan dasar dan menengah, termasuk penyediaan sekolah sementara, perlengkapan belajar dan pemulihan fasilitas pendidikan yang rusak.
RUMAH TAHAN GEMPA HARUS MENJADI BAGIAN REKONSTRUKSI
DPN Elang Tiga Hambalang menilai rekonstruksi pascabencana tidak seharusnya sekadar membangun kembali bangunan dengan pola lama.
Pemerintah perlu memperkuat penggunaan teknologi dan standar konstruksi tahan gempa, khususnya di wilayah dengan risiko seismik tinggi.
ETH mendorong pemerintah, perguruan tinggi, BRIN, kementerian teknis dan dunia usaha untuk bekerja sama mengembangkan rumah yang aman, terjangkau dan sesuai kondisi masyarakat setempat.
ETH AJAK SELURUH SAYAP ORGANISASI BERGERAK
DPN Elang Tiga Hambalang mengajak seluruh jaringan dan unit organisasi ETH untuk menunjukkan solidaritas kemanusiaan melalui kegiatan yang terkoordinasi.
Bantuan yang dihimpun harus diarahkan berdasarkan kebutuhan resmi dari BNPB, BPBD atau pemerintah daerah agar tidak terjadi salah sasaran.
DPN ETH menilai terdapat beberapa langkah yang menjadi prioritas:
- bantuan pangan dan air bersih;
- obat-obatan serta pelayanan kesehatan;
- kebutuhan bayi, anak-anak, perempuan dan lansia;
- tenda dan fasilitas sanitasi;
- dukungan pendidikan bagi siswa dan mahasiswa;
- pemulihan rumah dan fasilitas umum;
- pendampingan UMKM dan masyarakat yang kehilangan mata pencaharian;
- dukungan psikososial bagi penyintas.
ETH: JANGAN LUPAKAN MASYARAKAT SETELAH BERITA MEREDA
H. Safrizal dan Ganda Satria Dharma mengingatkan bahwa tantangan terbesar penanganan bencana sering muncul ketika perhatian media mulai berkurang.
DPN ETH meminta pemerintah memastikan program rehabilitasi dan rekonstruksi tidak kehilangan momentum setelah masa tanggap darurat selesai.
“Ketika kamera dan pemberitaan mulai meninggalkan lokasi bencana, masyarakat masih harus membangun kembali kehidupannya. Di situlah negara dan seluruh elemen bangsa justru harus semakin hadir,” demikian sikap DPN ETH.
DPN Elang Tiga Hambalang menyatakan siap mendorong solidaritas kemanusiaan dan mengajak masyarakat Indonesia menjaga semangat gotong royong bagi warga terdampak bencana di NTT.
DARI HAMBALANG UNTUK INDONESIA
NTT TIDAK SENDIRI — INDONESIA HADIR
Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH)
Ketua Umum: H. Safrizal
Sekretaris Jenderal: Ganda Satria Dharma





