Gratia Wirata Laksmi Sidabutar Lulus Sidang Gelar Doktor Dengan Yudisium “TERPUJI
JAKARTA – Bertempat Auditorium Institut Pariwisata Trisakti, Lantai 2, Jl. IKPN Bintaro, Pesanggrahan digelar Sidang Terbuka Promosi Doktor Gratia Wirata Laksmi Sidabutar Program Studi Doktor Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti. Dengan mengangkat Judul Disertasi “Model Pengembangan Glamping Berkarbon Rendah sebagai Strategi...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
JAKARTA – Bertempat Auditorium Institut Pariwisata Trisakti, Lantai 2, Jl. IKPN Bintaro, Pesanggrahan digelar Sidang Terbuka Promosi Doktor Gratia Wirata Laksmi Sidabutar Program Studi Doktor Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti.
Dengan mengangkat Judul Disertasi “Model Pengembangan Glamping Berkarbon Rendah sebagai Strategi Mitigasi Jejak Karbon (Studi Kasus: Bobocabin di Provinsi Jawa Barat)”
Adapun Rektor dan Dewan Penguji Sidang (tim promotor & dewan penguji) yakni, Rektor Institut Pariwisata Trisakti: Fetty Asmaniati, S.E., M.M. Ketua Sidang Terbuka Promosi Doktor: Dr. Surya Fadjar Boediman, M.M.Par, Promotor: Prof. Dr. Myrza Rahmanita, M.Sc, Kopromotor I: Hera Oktadiana, Ph.D., CHE, Kopromotor II sekaligus Ketua Program Studi Doktor Pariwisata: Dr. Rahmat Ingkadijaya, M.M., QCRO. Sedangkan untuk Penguji Internal: Dr. Devita Gantina, M.Par, dan Penguji Eksternal Dr. Taufiq Hidayat, S.Sos., M.M.
Hadir dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Irjen Pol. (Purn) Dr. Drs. Ali Johardi SH, MH Rektor Universitas Krisnadwipayana, Prof. Dr. Topane Gayus Lumbuun, S.H., M.H, Ikatan Alumni Magister Hukum Universitas Kristen Indonesia, serta para Undangan lainnya.
Putri Ketua Umum Ikatan Alumni Magister Hukum Universitas Kristen Indonesia (IKA MIH UKI) Berry Sidabutar dan Miryam Nila Tantri dapat menjawab dengan tenang semua pertanyaan yang disampaikan Tim Penguji dalam sidang tersebut.
Dalam penjelasan Disertasinya Gratia Wirata Laksmi Sidabutar mengupas berangkat dari pemikiran bahwa glamping tidak hanya merupakan bentuk akomodasi berbasis alam, akan tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari sistem dekarbonisasi pariwisata, ujarnya.
Menurut Gratia, Glamping pada umumnya berada di kawasan yang memiliki sensitivitas ekologis, sehingga pengembangannya perlu memperhatikan bagaimana penggunaan lahan, desain bangunan, energi, air, mobilitas, limbah, rantai pasok, hingga keterlibatan masyarakat lokal dapat dikelola dengan jejak karbon yang lebih rendah.
“Dalam penelitian ini saya menggunakan studi kasus Bobocabin di Provinsi Jawa Barat, dengan tiga unit analisis, yaitu Cikole, Ranca Upas, dan Gunung Mas. Ketiganya memberikan variasi karakteristik ekologis, tetapi berada dalam satu organisasi yang sama,” ungkapnya.
Dijelaskan Gratia, bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan glamping berkarbon rendah tidak cukup hanya melalui satu intervensi teknologi, misalnya penggunaan energi terbarukan atau bangunan ramah lingkungan. Pengembangannya harus dilakukan sebagai suatu sistem yang terintegrasi.
Menurutnya, model yang dihasilkan terdiri atas tiga bagian utama dalam sistem internal, yaitu: pertama, Landasan Fondasi, yang mencakup perencanaan ekologis dan desain berdampak rendah; kedua, Inti Dekarbonisasi, yang mencakup operasional rendah karbon, sirkularitas, serta penguatan rantai nilai lokal; dan ketiga, Akuntabilitas, yang mencakup pengukuran, tata kelola, transparansi, dan instrumen pendukung, paparnya.
Disamping itu juga kata Gratia, Sistem internal tersebut kemudian perlu didukung oleh ekosistem berupa Pengarah Dekarbonisasi dan Pengungkit Implementasi, seperti pemerintah, industri, masyarakat, kapasitas sumber daya manusia, dan transformasi perilaku wisatawan. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan penciptaan nilai berkelanjutan, bukan hanya dalam aspek lingkungan, tetapi juga sosial dan ekonomi.
“Jadi, inti disertasi saya adalah bagaimana glamping dapat dikembangkan dari sekadar akomodasi berbasis alam menjadi sistem pariwisata rendah karbon yang terintegrasi dan dapat berkontribusi terhadap mitigasi jejak karbon,” tandasnya.
Bicara masalah Pariwisata kata Gratia gamblang menjelaskan, masa depan pariwisata Indonesia terletak pada kemampuan Bangsa ini untuk menggabungkan pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan penciptaan nilai sosial-budaya secara seimbang.
Untuk itu Gratia berharap hasil penilitian ini dapat menjadi salah satu referensi dalam mendorong pengembangan pariwisata yang lebih rendah karbon, khususnya pada akomodasi berbasis alam.
“Sedangkan bagi Institut Pariwisata Trisakti, saya berharap penelitian ini dapat memperkuat posisi institusi sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan mengenai pariwisata, tetapi juga memberikan solusi terhadap persoalan nyata industri dan destinasi”
“Sebagai dosen di Institut Pariwisata Trisakti, saya juga berharap hasil penelitian ini dapat saya bawa kembali ke dalam proses pendidikan, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep sustainable tourism secara teoritis, tetapi juga mampu melihat bagaimana konsep tersebut diterjemahkan menjadi praktik dan solusi di lapangan”
Untuk itu Gratia berharap, disertasi ini menjadi sebuah titik awal, bukan titik akhir: dari conceptual model menuju operational tool, empirical validation, serta policy and industry application, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi transformasi pariwisata Indonesia menuju pariwisata yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan rendah karbon.
Dalam Sidang Promosi Doktor ini Pimpinan dan Ketua Sidang membacakan hasil yang diperoleh Gratia Wirata Laksmi Sidabutar mendapatkan nilai terbaik lulus dalam sidang Doktor dalam bidang Ilmu Pariwisata dengan Yudisium “TERPUJI”. Gratia Wirata Laksmi Sidabutar Gelar Doktor Institut Pariwisata Trisakti ke 47 atau lulusan ke 5 dari Angkatan ke 4. (**)





