EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Harga Perdagangan Besar Naik 6,76 Persen, Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Pemerintah Jaga Biaya Produksi dan Daya Saing Usaha

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT, 2 OKTOBER 2026 — Kenaikan harga di tingkat perdagangan besar menjadi perhatian penting bagi dunia usaha nasional. Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional September 2026 meningkat 6,76 persen...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT, 2 OKTOBER 2026 — Kenaikan harga di tingkat perdagangan besar menjadi perhatian penting bagi dunia usaha nasional. Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional September 2026 meningkat 6,76 persen secara tahunan, memberi sinyal bahwa tekanan biaya pada rantai produksi dan distribusi masih perlu dicermati oleh pemerintah, pengusaha, UMKM, koperasi, distributor hingga pelaku sektor konstruksi.

BPS dalam rilis 1 Oktober 2026 mencatat IHPB September secara bulanan meningkat 0,62 persen, sedangkan sejak awal tahun naik 5,73 persen. Kenaikan tahunan tertinggi terjadi pada Seksi Bijih Besi dan Mineral; Listrik, Gas, dan Air, sebesar 14,61 persen.

banner 468x60

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga secara tahunan antara lain solar industri, elpiji nonsubsidi, beras biasa, minyak pelumas, dan solar transportasi.

Bagi Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang, perkembangan ini perlu menjadi perhatian karena kenaikan biaya di tingkat perdagangan besar pada akhirnya dapat masuk ke struktur biaya berbagai jenis usaha.

UMKM makanan dapat terkena dampak dari kenaikan harga bahan pangan dan energi. Perusahaan distribusi menghadapi biaya transportasi. Industri menghadapi kenaikan bahan baku dan energi, sementara pelaku konstruksi harus memperhitungkan kenaikan harga material.

Biaya Konstruksi Naik 9,63 Persen

Perhatian khusus perlu diberikan kepada sektor bangunan dan konstruksi.

BPS mencatat IHPB Kelompok Bangunan/Konstruksi September 2026 meningkat 9,63 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut antara lain didorong harga aspal, baja tulangan atau besi beton, semen, batu pecahan, dan pasir.

Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan kondisi Agustus 2026, ketika perubahan IHPB konstruksi secara tahunan tercatat 9,52 persen.

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai perkembangan harga material perlu diperhatikan secara serius, terutama oleh kontraktor kecil dan menengah yang menjalankan pekerjaan berdasarkan kontrak dengan nilai yang telah ditentukan sebelumnya.

Jika harga material meningkat cukup besar setelah kontrak ditandatangani, margin usaha dapat tertekan. Dalam kondisi tertentu, pengusaha juga menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan kualitas pekerjaan atau menanggung kenaikan biaya dari modal perusahaan.

Karena itu, penyusunan kontrak bisnis dan proyek perlu semakin memperhatikan mekanisme perubahan harga sesuai ketentuan yang berlaku.

UMKM Juga Terkena Efek Berantai

Kenaikan harga perdagangan besar tidak hanya menjadi persoalan perusahaan besar.

Warung makan membutuhkan beras dan elpiji. Bengkel menggunakan pelumas. Pengusaha distribusi membutuhkan bahan bakar. Produsen makanan membutuhkan bahan baku sekaligus kemasan. Sementara berbagai UMKM lainnya bergantung pada ongkos logistik untuk memperoleh barang maupun mengirimkan produk kepada konsumen.

Kenaikan beberapa komponen secara bersamaan berpotensi menekan margin keuntungan.

Pelaku usaha kecil juga memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menaikkan harga jual karena konsumen sangat sensitif terhadap perubahan harga.

Asosiasi Pengusaha ETH berpandangan bahwa pemerintah perlu melihat kondisi tersebut dari dua sisi sekaligus: menjaga daya beli konsumen sekaligus memastikan dunia usaha tetap memiliki ruang memperoleh keuntungan yang wajar.

Jika seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada konsumen, daya beli berpotensi tertekan. Namun apabila pengusaha harus menyerap seluruh kenaikan biaya, keberlangsungan usaha dan kemampuan mempertahankan tenaga kerja dapat ikut terdampak.

Asosiasi Pengusaha ETH Ajukan Enam Usulan

Sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial terhadap perkembangan dunia usaha, UMKM dan koperasi, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mengusulkan enam langkah.

Pertama, memperkuat pemantauan harga bahan baku nasional. Pemerintah perlu menyediakan informasi harga bahan baku, energi, material dan logistik yang mudah diakses pelaku usaha. Data tersebut penting untuk penyusunan anggaran dan perencanaan produksi.

Kedua, meningkatkan efisiensi distribusi. Jalur distribusi yang terlalu panjang dapat menambah biaya. Digitalisasi rantai pasok serta hubungan langsung antara produsen, distributor, koperasi dan UMKM perlu terus diperluas.

Ketiga, mendorong pembelian bahan baku secara kolektif melalui koperasi. Pelaku UMKM sering membeli dalam volume kecil sehingga memiliki daya tawar yang terbatas. Koperasi dapat menggabungkan kebutuhan anggotanya agar memperoleh harga yang lebih kompetitif.

Keempat, memperkuat penggunaan produk dalam negeri. Jika bahan baku dan komponen tertentu dapat diproduksi secara kompetitif di Indonesia, peningkatan kapasitas pemasok nasional dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap sumber pasokan eksternal, dengan tetap memperhatikan kualitas dan harga.

Kelima, memperluas pendampingan penghitungan harga pokok produksi bagi UMKM. Banyak usaha kecil menentukan harga berdasarkan kebiasaan pasar tanpa menghitung seluruh biaya secara lengkap. Dalam situasi kenaikan harga, kesalahan perhitungan dapat menyebabkan usaha terlihat ramai tetapi sebenarnya mengalami kerugian.

Keenam, melakukan evaluasi berkala terhadap dampak perubahan harga material terhadap proyek dan kontrak usaha. Evaluasi diperlukan agar penyedia barang dan jasa tetap mampu memenuhi kualitas pekerjaan tanpa menghadapi tekanan biaya yang tidak diperhitungkan sejak awal, dengan tetap mengikuti ketentuan kontrak dan regulasi.

Koperasi Bisa Menjadi Penyangga Biaya

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang melihat koperasi dapat mengambil peran yang lebih besar dalam menghadapi tekanan biaya produksi.

Koperasi pengusaha atau koperasi produsen dapat melakukan pembelian bahan baku secara bersama. Dengan volume lebih besar, koperasi berpotensi memperoleh harga dan persyaratan pembayaran yang lebih baik dibandingkan apabila setiap UMKM melakukan pembelian sendiri-sendiri.

Koperasi juga dapat menyediakan gudang bersama, sarana distribusi, hingga pemasaran bersama.

Dengan pendekatan tersebut, koperasi bukan hanya menjadi tempat menyimpan atau meminjam dana, melainkan menjadi alat ekonomi untuk meningkatkan efisiensi anggotanya.

Dunia Usaha Memerlukan Kepastian

Asosiasi Pengusaha ETH berpandangan dunia usaha dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan harga selama perubahan tersebut dapat dipantau, diperhitungkan dan direspons dengan kebijakan yang tepat.

Yang perlu dihindari adalah kondisi ketika harga bahan baku meningkat sementara pengusaha tidak memperoleh informasi maupun pilihan untuk meningkatkan efisiensi.

Pemerintah, dunia usaha, perbankan, koperasi dan pemerintah daerah karena itu perlu memperkuat koordinasi terutama pada sektor yang mengalami peningkatan biaya cukup tinggi.

Kenaikan IHPB 6,76 persen bukan sekadar angka statistik. Di dalamnya terdapat kenaikan biaya yang harus dihitung oleh pabrik, distributor, kontraktor, pedagang, koperasi dan jutaan UMKM Indonesia.

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong agar kebijakan pengendalian harga tidak hanya berorientasi pada harga akhir di tingkat konsumen, tetapi juga memperhatikan biaya di sepanjang rantai produksi dan distribusi.

Sebab dunia usaha yang sehat membutuhkan keseimbangan: bahan baku tersedia dengan harga wajar, konsumen tetap memiliki daya beli, UMKM memperoleh keuntungan yang layak, dan investasi tetap mempunyai kepastian untuk berkembang.

ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

banner 336x280
Secret Link