Inflasi September 3,28 Persen, Bulog Salurkan Sekitar 4.000 Ton SPHP per Hari; DPN ETH Minta Harga Pangan Dikawal sampai Tingkat Konsumen
Ketersediaan stok perlu diikuti distribusi yang cepat dan pemerataan titik penjualan agar stabilisasi harga benar-benar dirasakan masyarakat di kota hingga desa. Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.Sabtu, 3 Oktober 2026 | WIB Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menilai...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Ketersediaan stok perlu diikuti distribusi yang cepat dan pemerataan titik penjualan agar stabilisasi harga benar-benar dirasakan masyarakat di kota hingga desa.
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sabtu, 3 Oktober 2026 | WIB
Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menilai perkembangan harga pangan perlu mendapat perhatian berkelanjutan setelah inflasi nasional September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan. Bagi masyarakat, ukuran yang paling langsung terasa bukan hanya angka inflasi nasional, tetapi harga beras, cabai, telur, daging ayam dan kebutuhan pokok lainnya ketika dibeli sehari-hari.
Badan Pusat Statistik dalam rilis 1 Oktober 2026 mencatat inflasi September sebesar 3,28 persen year-on-year, 0,30 persen secara bulanan dan 2,17 persen sepanjang tahun berjalan. Perbedaan antardaerah cukup lebar: inflasi tahunan tingkat provinsi tercatat dari 2,55 persen di Sumatera Selatan hingga 7,59 persen di Sulawesi Utara.
Bank Indonesia pada 2 Oktober menyatakan inflasi masih berada dalam sasaran 2,5±1 persen. Namun, kelompok pangan bergejolak mengalami inflasi 5,03 persen secara tahunan, meningkat dari 4,06 persen pada bulan sebelumnya. BI menyebut cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras dan telur ayam ras sebagai komoditas yang memberi tekanan, antara lain berkaitan dengan gangguan cuaca di sejumlah sentra produksi dan peningkatan biaya input.
Pada sisi pasokan, Perum Bulog menyatakan menyalurkan sekitar 4.000 ton beras SPHP setiap hari, atau sekitar 120 ribu ton per bulan, ke berbagai wilayah. Bulog juga menyatakan distribusi masih perlu dipercepat agar beras yang tersedia dapat segera mencapai pengecer, ritel dan masyarakat hingga desa.
Ketua Umum DPN Elang Tiga Hambalang Safrizal menempatkan keterjangkauan harga di tingkat konsumen sebagai indikator penting. Menurut posisi DPN ETH, stok nasional yang besar harus dapat diterjemahkan menjadi barang yang mudah ditemukan masyarakat dengan harga sesuai ketentuan dan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sekretaris Jenderal DPN Elang Tiga Hambalang Ganda Satria Dharma menegaskan perlunya menghubungkan data stok, distribusi dan harga eceran sehingga pemerintah dapat mengetahui lebih cepat daerah yang mengalami keterlambatan pasokan atau tekanan harga.
DPN ETH mengusulkan empat langkah konkret: pertama, dashboard harga dan stok per kabupaten/kota dengan indikator selisih harga terhadap acuan; kedua, pencatatan waktu pengiriman beras SPHP dari gudang hingga pengecer; ketiga, pemetaan titik penjualan yang kehabisan stok beserta waktu pengisian kembali; dan keempat, evaluasi rutin terhadap harga yang diterima petani agar stabilisasi konsumen tidak mengabaikan keberlanjutan produksi.
Manfaat pendekatan tersebut adalah intervensi dapat lebih tepat wilayah dan mudah diperiksa. Namun, perbedaan ongkos logistik, musim panen, cuaca dan struktur pasar membuat satu kebijakan harga tidak selalu menghasilkan dampak yang sama di setiap daerah. Karena itu, pengawasan perlu berbasis data lokal dan memperhatikan kepentingan konsumen, petani serta pelaku distribusi secara seimbang.
** Inflasi September tercatat 3,28 persen dan Bulog menyalurkan sekitar 4.000 ton beras SPHP per hari; DPN ETH mendorong pemantauan stok, harga dan distribusi sampai tingkat konsumen agar stabilisasi pangan dapat diukur secara nyata.





