EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Jagung SPHP Rp5.000/kg Dipercepat, Satuan Petani ETH: Petani Jagung dan Peternak Harus Sama-Sama Untung

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 9 Oktober 2026. Pemerintah mempercepat penyaluran jagung melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk membantu peternak unggas menghadapi tingginya biaya pakan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan masih tersedia kuota SPHP sekitar...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 9 Oktober 2026. Pemerintah mempercepat penyaluran jagung melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk membantu peternak unggas menghadapi tingginya biaya pakan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan masih tersedia kuota SPHP sekitar 150.000 ton yang akan dipercepat distribusinya sambil pemerintah dan Perum BULOG melanjutkan pengadaan.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang langkah tersebut penting bagi keberlanjutan usaha peternakan rakyat. Namun stabilisasi harga jagung harus dibangun secara seimbang agar peternak memperoleh pakan dengan harga terjangkau tanpa membuat harga jagung di tingkat petani jatuh ketika panen raya.

banner 468x60

Persoalan jagung mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama strategis bagi ketahanan pangan nasional: petani jagung membutuhkan harga jual yang menguntungkan, sedangkan peternak membutuhkan bahan baku pakan yang tidak membuat biaya produksi membengkak.

Jagung SPHP Dipatok Rp5.000 per Kilogram

Perum BULOG menyatakan harga jagung SPHP ditetapkan sebesar Rp5.000 per kilogram secara nasional. Harga tersebut disebut lebih rendah dibandingkan harga jagung di pasar yang dalam perkembangan terakhir berada di sekitar Rp8.000 per kilogram.

Selisih tersebut diharapkan membantu menekan beban biaya pakan bagi peternak unggas, terutama kelompok usaha mikro, kecil dan menengah.

Bagi Satuan Petani ETH, intervensi semacam ini perlu dilakukan secara tepat sasaran.

Jagung SPHP tidak boleh mengacaukan harga jagung petani pada saat sentra produksi memasuki panen. Karena itu pemerintah perlu membedakan dengan jelas antara wilayah yang sedang kekurangan pasokan dan wilayah yang justru mengalami produksi melimpah.

Pada daerah defisit, stok pemerintah dapat berperan sebagai penyangga.

Pada daerah surplus, pemerintah justru perlu memperkuat penyerapan produksi petani.

Dengan pola tersebut, kebijakan tidak memindahkan masalah dari peternak kepada petani.

15.000 Ton Jagung Tiba di Tanjung Perak

BULOG menyatakan sekitar 15.000 ton jagung telah tiba dan menjalani proses bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 5.000 ton diarahkan ke Jawa Timur, 5.000 ton ke Jawa Tengah, dan 5.000 ton ke Jawa Barat serta Banten. Stok BULOG di Lampung juga disebut telah mencapai lebih dari 5.000 ton untuk memenuhi kebutuhan peternak setempat.

Jagung tersebut berasal dari beberapa sentra produksi, antara lain Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.

BULOG juga berkoordinasi dengan Pelindo dan ASDP untuk membantu mempercepat jalur transportasi pangan melalui pelabuhan dan penyeberangan.

Satuan Petani ETH menilai distribusi antarpulau seperti ini menunjukkan bahwa masalah harga pangan dan pakan sering kali bukan sekadar persoalan jumlah produksi nasional.

Komoditas dapat tersedia di Sulawesi atau Nusa Tenggara, tetapi peternak di Jawa tetap menghadapi harga tinggi apabila biaya dan waktu distribusinya terlalu besar.

Karena itu, logistik pangan harus diperlakukan sebagai bagian dari kebijakan produksi, bukan urusan setelah panen semata.

Pemerintah Siapkan Skema Petani Jagung–Koperasi–Peternak

Kementerian Pertanian pada 9 Oktober juga menyampaikan rencana membangun solusi yang lebih permanen dengan menghubungkan petani jagung, koperasi dan peternak dalam satu ekosistem.

Salah satu skema yang sedang didorong adalah peternak atau koperasi memperoleh akses terhadap jagung ketika musim panen dan harga relatif rendah, sementara pembiayaan dapat didukung BULOG dan stok dikelola melalui koperasi. Tujuannya adalah mengurangi persoalan harga pakan yang berulang pada periode tertentu setiap tahun.

Menurut Kementan, pendekatan tersebut diarahkan dari hulu sampai hilir: penguatan bahan baku pakan, kemitraan dengan petani jagung, penyerapan hasil produksi, sampai pengembangan industri pengolahan hasil peternakan.

Satuan Petani ETH memandang arah kebijakan ini lebih strategis dibandingkan hanya melakukan intervensi ketika harga sudah melonjak.

Jika kontrak antara petani jagung dan peternak dibuat sebelum masa tanam dan sebelum musim panen, kedua pihak mempunyai kepastian yang lebih besar.

Petani mengetahui pasar hasil produksinya.

Peternak mengetahui sumber bahan baku pakannya.

Koperasi dapat menjadi pengelola penyimpanan dan transaksi.

Negara cukup masuk untuk menutup kegagalan pasar ketika pasokan dan harga mengalami tekanan ekstrem.

172,1 Ribu Ton Telah Diakses Peternak

Badan Pangan Nasional sebelumnya mencatat realisasi SPHP jagung pakan sampai 2 Oktober 2026 mencapai sekitar 172,1 ribu ton, atau 71,36 persen dari target tahap pertama dan kedua sebesar 241,2 ribu ton.

Program telah diakses peternak di 29 provinsi. Pemerintah kemudian memproses tambahan alokasi sebanyak 150 ribu ton sebagai penguatan SPHP jagung pakan sampai akhir tahun.

Data tersebut menunjukkan intervensi pemerintah cukup besar.

Namun Satuan Petani ETH menilai angka tonase perlu dilengkapi indikator manfaat yang lebih konkret:

apakah biaya pakan peternak turun;

berapa kelompok peternak yang memperoleh jagung;

berapa harga telur dan ayam di tingkat peternak setelah intervensi;

serta bagaimana harga jagung yang diterima petani di wilayah produksi.

Tanpa indikator semacam itu, keberhasilan program hanya terlihat dari berapa banyak jagung yang keluar dari gudang.

Harga Pakan Menentukan Keberlangsungan Peternakan

Jagung merupakan salah satu komponen utama dalam formulasi pakan unggas.

Karena itu, ketika harga jagung naik, biaya produksi telur maupun ayam dapat ikut meningkat.

Dalam kondisi tersebut, peternak kecil paling rentan karena mempunyai modal kerja dan kapasitas penyimpanan pakan yang lebih terbatas.

Namun Satuan Petani ETH mengingatkan bahwa solusi menekan harga jagung serendah mungkin juga bukan jawaban.

Petani jagung membutuhkan harga yang dapat menutup biaya benih, pupuk, pestisida, pengeringan, tenaga kerja dan angkutan.

Indonesia membutuhkan keduanya: petani jagung yang tetap mau menanam dan peternak yang tetap mampu memelihara ternaknya.


Empat Usulan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang

1. Bangun formula harga yang melindungi petani dan peternak.
Pemerintah perlu mempunyai indikator biaya produksi jagung serta biaya pakan peternak sehingga intervensi dilakukan berdasarkan data keekonomian kedua sektor.

2. Perbanyak dryer dan silo di sentra jagung.
Petani harus mempunyai pilihan untuk mengeringkan dan menyimpan jagung sehingga tidak terpaksa menjual murah ketika panen raya. Stok tersebut kemudian dapat dipasarkan kepada koperasi peternak pada periode produksi menurun.

3. Bentuk kontrak langsung petani jagung–koperasi peternak.
Volume, kualitas, kadar air, formula harga, jadwal pengiriman dan pembayaran perlu disepakati sebelum masa panen sehingga kepastian pasar meningkat.

4. Buka data penyaluran SPHP secara berkala.
Publik perlu mengetahui daerah tujuan, volume, jumlah kelompok peternak penerima serta perkembangan harga sebelum dan setelah intervensi.


Petani Jagung dan Peternak Tidak Boleh Dipertentangkan

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung percepatan SPHP jagung sebagai langkah jangka pendek mengurangi tekanan biaya produksi peternak.

Namun kebijakan jangka panjang harus membangun sistem yang membuat persoalan serupa tidak terus berulang setiap tahun.

Saat panen raya, negara dan koperasi perlu menyerap jagung petani pada harga yang layak.

Ketika produksi menurun dan harga naik, cadangan tersebut dapat dilepas kepada peternak dengan harga yang terkendali.

Dengan mekanisme tersebut, harga murah bagi peternak tidak dibangun dari kerugian petani, dan keuntungan petani tidak harus dibayar dengan membengkaknya biaya peternakan.

Satuan Petani ETH memandang keterhubungan antara ladang jagung dan kandang ternak sebagai salah satu fondasi penting ketahanan pangan nasional.

Petani jagung kuat, peternak bertahan, produksi telur dan daging terjaga, serta masyarakat memperoleh pangan dengan harga wajar—itulah rantai ketahanan pangan yang perlu dibangun Indonesia.

banner 336x280
Secret Link