Kredit UMKM Baru Tumbuh 1,62 Persen, ETH Dorong “Bankable Clinic” Buka Akses Modal Pengusaha
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 25 September 2026 Akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil dan menengah kembali menjadi perhatian dunia usaha. Data resmi terbaru Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan kredit UMKM per Juli 2026 tumbuh 1,62 persen secara tahunan, membaik...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 25 September 2026 Akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil dan menengah kembali menjadi perhatian dunia usaha. Data resmi terbaru Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan kredit UMKM per Juli 2026 tumbuh 1,62 persen secara tahunan, membaik dari 1,05 persen pada Juni, tetapi masih jauh di bawah pertumbuhan kredit korporasi yang mencapai 22,10 persen yoy.
Pada periode yang sama, kredit investasi perbankan tumbuh 25,13 persen, kredit modal kerja 11,04 persen, sedangkan Dana Pihak Ketiga meningkat 11,21 persen menjadi sekitar Rp10.336 triliun. Data tersebut menunjukkan kapasitas intermediasi perbankan tetap kuat, tetapi pertumbuhan pembiayaan UMKM masih perlu dipercepat.
Pembiayaan UMKM Hampir Rp2.000 Triliun
OJK sebelumnya mencatat total pembiayaan UMKM lintas sektor jasa keuangan hingga Juni 2026 mencapai Rp1.948,72 triliun, tumbuh 2,18 persen secara tahunan. Perbankan masih mendominasi dengan porsi 82,44 persen, disusul sektor perusahaan pembiayaan, modal ventura, lembaga keuangan mikro dan lembaga jasa keuangan lainnya sebesar 17,50 persen, serta pasar modal 0,06 persen. Kredit UMKM melalui perbankan sendiri mencapai Rp1.519,35 triliun.
OJK juga telah menerapkan POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM, yang ditujukan untuk menyederhanakan proses pembiayaan. Regulator juga membentuk Working Group percepatan pembiayaan UMKM bersama kementerian, lembaga dan industri jasa keuangan.
ETH: Banyak Usaha Layak, Tetapi Belum Bankable
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai persoalan akses modal tidak selalu disebabkan oleh tidak tersedianya dana. Banyak pengusaha memiliki usaha produktif, tetapi belum mampu memenuhi standar administrasi dan analisis yang dibutuhkan lembaga keuangan.
“Banyak UMKM mempunyai produk, pelanggan dan kegiatan usaha yang nyata, tetapi belum memiliki laporan keuangan, pencatatan arus kas dan proposal pembiayaan yang memadai. Akibatnya, usaha yang sebenarnya potensial belum dapat dinilai secara optimal oleh perbankan.”
ETH menilai asosiasi pengusaha harus mengambil peran aktif mempersiapkan pelaku usaha sebelum mereka mengajukan pembiayaan.
“Jangan hanya mengatakan UMKM harus mendapatkan kredit. Pengusahanya juga harus dipersiapkan menjadi bankable. ETH ingin mempertemukan usaha yang sehat dengan sumber pembiayaan yang tepat.”
ETH Dorong Pembentukan Bankable Clinic
Sebagai langkah konkret, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pembentukan ETH Bankable Clinic & Financing Desk.
Program tersebut dapat membantu pengusaha menyiapkan:
- legalitas dan profil perusahaan;
- pencatatan omzet dan transaksi;
- laporan laba-rugi serta arus kas;
- kebutuhan modal kerja atau investasi;
- proyeksi kemampuan pembayaran;
- dokumen dan proposal pembiayaan; serta
- pemilihan produk pembiayaan yang sesuai dengan karakter usaha.
Setelah melalui proses tersebut, pengusaha yang dinilai siap dapat diarahkan mengikuti financing business matching dengan bank, BPR, bank syariah, perusahaan pembiayaan maupun sumber pendanaan resmi lainnya.
Teknologi Keuangan Juga Buka Alternatif
Selain perbankan, OJK mencatat pembiayaan industri pinjaman daring atau fintech lending kepada UMKM mencapai Rp35,12 triliun pada Juni 2026, tumbuh 23,25 persen secara tahunan. Angka tersebut setara sekitar 33,41 persen dari total pembiayaan industri pinjaman daring.
OJK menilai inovasi teknologi sektor keuangan dapat memperluas akses pembiayaan kepada pelaku usaha yang sebelumnya belum terjangkau layanan keuangan konvensional, dengan tetap memperhatikan keamanan, keberlanjutan dan perlindungan konsumen.
ETH mengingatkan pengusaha agar menggunakan lembaga pembiayaan resmi dan diawasi OJK, serta menghitung kemampuan membayar sebelum mengambil pinjaman.
Dari Akses Modal Menjadi Pertumbuhan Usaha
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai keberhasilan pembiayaan UMKM harus diukur bukan hanya dari jumlah kredit yang disalurkan, tetapi dari dampaknya terhadap produksi dan ekspansi usaha.
“Modal harus menghasilkan omzet, peningkatan kapasitas produksi, pembelian mesin, pembukaan pasar dan lapangan kerja. Pembiayaan yang sehat bukan sekadar pencairan kredit, tetapi harus membuat perusahaan menjadi lebih kuat.”
ETH mendorong kolaborasi dengan perbankan dan lembaga jasa keuangan untuk membuat skema pendampingan dari usaha belum bankable → pembenahan administrasi → analisis kebutuhan modal → business matching → pembiayaan → monitoring perkembangan usaha.
Dengan pendekatan tersebut, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang berharap semakin banyak UMKM dan pengusaha daerah dapat memperoleh modal secara sehat sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan perusahaannya.
ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
25 September 2026





