Manufaktur Nasional Tetap Ekspansi di Level 51,93, Asosiasi Pengusaha ETH Dorong UMKM Masuk Lebih Dalam ke Rantai Pasok Industri
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT, 3 OKTOBER 2026 — Industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan aktivitas ekspansif pada September 2026. Namun perlambatan Indeks Kepercayaan Industri menjadi sinyal bahwa pemerintah dan dunia usaha perlu menjaga permintaan, kelancaran distribusi, biaya produksi, serta memperkuat...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT, 3 OKTOBER 2026 — Industri manufaktur Indonesia masih menunjukkan aktivitas ekspansif pada September 2026. Namun perlambatan Indeks Kepercayaan Industri menjadi sinyal bahwa pemerintah dan dunia usaha perlu menjaga permintaan, kelancaran distribusi, biaya produksi, serta memperkuat keterlibatan UMKM dan industri kecil sebagai pemasok sektor manufaktur nasional.
Kementerian Perindustrian mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2026 berada pada level 51,93, turun 0,37 poin dibandingkan Agustus yang tercatat 52,30. Meski melambat, angka di atas 50 menunjukkan aktivitas industri secara keseluruhan masih berada dalam fase ekspansi.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 15 subsektor berada dalam zona ekspansi, sedangkan delapan subsektor mengalami kontraksi. Subsektor yang masih ekspansif tersebut memberikan kontribusi sekitar 84,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2026.
Bagi Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang, kondisi tersebut patut dijaga sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara industri besar, industri kecil, UMKM, koperasi dan pemasok lokal.
Pertumbuhan manufaktur akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih luas apabila peningkatan produksi industri besar juga menciptakan pesanan bagi perusahaan kecil dan menengah di dalam negeri.
Pesanan Masih Ekspansif, Produksi Perlu Dijaga
Data Kemenperin menunjukkan indeks pesanan September berada pada 53,40, meningkat dari 53,13 pada bulan sebelumnya. Sementara indeks produksi tercatat 53,78, meskipun turun 1,32 poin. Indeks persediaan masih berada dalam zona kontraksi pada level 45,45.
Asosiasi Pengusaha ETH memandang kombinasi data tersebut perlu dicermati secara menyeluruh.
Pesanan yang masih berada dalam zona ekspansi merupakan sinyal positif bahwa permintaan belum berhenti. Namun dunia usaha tetap perlu memastikan produksi dapat berjalan efisien dan rantai pasok tidak mengalami gangguan.
Ketersediaan bahan baku, biaya transportasi, energi, kelancaran logistik serta kepastian pasar menjadi faktor penting bagi perusahaan untuk menentukan kapasitas produksinya.
Bagi UMKM pemasok, perubahan produksi perusahaan besar juga dapat mempunyai dampak langsung. Apabila industri mengurangi produksi, permintaan terhadap kemasan, komponen, transportasi, katering, perawatan mesin hingga berbagai jasa penunjang dapat ikut mengalami penurunan.
Karena itu, menjaga industri manufaktur bukan semata-mata persoalan perusahaan besar, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan banyak usaha kecil yang berada di sekelilingnya.
Industri Ekspor dan Domestik Sama-Sama Masih Tumbuh
Kemenperin juga mencatat IKI industri yang berorientasi ekspor berada pada 52,60, sedangkan industri berorientasi pasar domestik mencapai 50,94. Keduanya masih berada dalam zona ekspansi, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai keseimbangan pasar dalam negeri dan ekspor sangat penting bagi ketahanan industri nasional.
Pasar domestik yang kuat memberikan basis penjualan kepada industri ketika pasar global mengalami tekanan. Pada saat bersamaan, ekspor memberi kesempatan memperbesar volume produksi sekaligus memperoleh devisa.
Karena itu, kebijakan industri menurut Asosiasi perlu mempunyai dua arah: memperkuat kemampuan produk nasional menguasai pasar dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saing untuk memasuki pasar internasional.
Jangan Biarkan UMKM Hanya Menonton Pertumbuhan Industri
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai salah satu pekerjaan besar Indonesia adalah meningkatkan keterlibatan UMKM dan industri kecil dalam rantai pasok manufaktur.
Di sekitar kawasan industri terdapat ribuan pengusaha yang sebenarnya berpotensi menyediakan barang maupun jasa.
Mulai dari komponen sederhana, kemasan, furnitur, alat keselamatan kerja, seragam, makanan, transportasi, perawatan mesin, jasa kebersihan hingga kebutuhan operasional lainnya.
Namun tidak semua UMKM mampu masuk sebagai pemasok karena persoalan kapasitas, sertifikasi, konsistensi kualitas, pembukuan, modal kerja ataupun belum mengetahui prosedur pengadaan perusahaan besar.
Asosiasi berpandangan bahwa masalah tersebut tidak cukup diselesaikan melalui pelatihan umum.
UMKM perlu dipertemukan secara langsung dengan perusahaan yang benar-benar membutuhkan produk mereka.
Asosiasi Pengusaha ETH Ajukan Enam Usulan
Sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dunia usaha yang konstruktif, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mengajukan enam usulan untuk memperkuat industri nasional sekaligus memperbesar keterlibatan UMKM dan koperasi.
Pertama, membuat peta kebutuhan rantai pasok industri nasional. Pemerintah dapat memetakan komponen, bahan baku dan jasa yang setiap tahun dibutuhkan perusahaan besar serta mengidentifikasi mana yang berpotensi dipasok oleh perusahaan nasional.
Kedua, mempertemukan industri besar dengan UMKM melalui forum bisnis yang menghasilkan transaksi. Pertemuan sebaiknya tidak hanya berbentuk pameran, tetapi menyediakan informasi spesifikasi produk, jumlah kebutuhan, standar mutu dan tata cara menjadi pemasok.
Ketiga, membantu UMKM memenuhi standar industri. Dukungan dapat berupa sertifikasi, pengujian produk, SNI, pengendalian mutu, peningkatan teknologi serta peningkatan kemampuan produksi.
Keempat, menyediakan skema pembiayaan berbasis kontrak. UMKM yang telah mendapatkan pesanan dari perusahaan besar terkadang justru kesulitan memenuhi kontrak akibat keterbatasan modal kerja. Perbankan dapat mengembangkan pembiayaan yang mempertimbangkan kontrak atau purchase order, tetap dengan prinsip kehati-hatian.
Kelima, memperkuat koperasi sebagai agregator pemasok. Apabila satu UMKM tidak mampu memenuhi kebutuhan volume tertentu, beberapa usaha dapat dikonsolidasikan melalui koperasi dengan standar kualitas yang sama.
Keenam, memperkuat penggunaan produk dalam negeri secara kompetitif dan transparan. Produk lokal perlu mendapatkan ruang apabila memenuhi standar kualitas, harga dan kebutuhan industri, tanpa mengabaikan efisiensi serta aturan perdagangan yang berlaku.
Delapan Subsektor Kontraksi Perlu Mendapat Perhatian
Data Kemenperin menunjukkan beberapa subsektor masih mengalami kontraksi, di antaranya industri kulit, industri kayu, industri kertas, industri karet dan plastik, industri komputer, elektronik dan optik, industri peralatan listrik, serta industri mesin dan perlengkapan.
Asosiasi Pengusaha ETH mendorong pemerintah melakukan diagnosis lebih rinci terhadap masing-masing subsektor.
Penyebab kontraksi dapat berbeda-beda. Ada industri yang menghadapi pelemahan permintaan, tekanan produk impor, perubahan teknologi, persoalan bahan baku, atau kenaikan biaya produksi.
Karena persoalannya berbeda, solusi juga tidak seharusnya dibuat seragam.
Sektor yang menghadapi kesulitan bahan baku membutuhkan intervensi berbeda dengan industri yang kehilangan pasar akibat perubahan teknologi atau kompetisi harga.
Asosiasi berpandangan setiap subsektor yang mengalami kontraksi perlu memiliki rencana pemulihan yang terukur, termasuk target peningkatan produksi, pasar dan investasi.
Kawasan Industri Harus Menggerakkan Ekonomi Sekitarnya
Menurut Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang, pembangunan kawasan industri idealnya menciptakan efek ekonomi sampai kepada masyarakat di daerah sekitar.
UMKM lokal perlu dipersiapkan menjadi pemasok.
Sekolah vokasi dan lembaga pelatihan dapat menyesuaikan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Koperasi dapat memasok kebutuhan bersama.
Pemerintah daerah dapat menyediakan data perusahaan dan kesempatan kemitraan secara transparan.
Dengan pendekatan tersebut, keberadaan kawasan industri tidak hanya menghasilkan investasi di dalam pagar kawasan, tetapi menciptakan kegiatan ekonomi baru di luar kawasan.
Asosiasi: Pertumbuhan Industri Harus Menciptakan Pengusaha Baru
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai keberhasilan industrialisasi Indonesia perlu diukur lebih luas daripada sekadar jumlah pabrik atau nilai investasi.
Pertanyaan pentingnya adalah: berapa banyak perusahaan nasional yang menjadi pemasok, berapa UMKM yang naik kelas, berapa koperasi yang masuk rantai industri, dan berapa lapangan pekerjaan baru yang tercipta.
Jika kebutuhan industri sebagian besar mampu dipenuhi melalui rantai pasok nasional yang kompetitif, maka manfaat pertumbuhan manufaktur akan berputar lebih panjang di dalam perekonomian Indonesia.
Asosiasi juga mendorong perusahaan besar untuk semakin terbuka membangun kemitraan jangka panjang dengan pemasok kecil yang memenuhi persyaratan.
UMKM membutuhkan kepastian pesanan agar berani membeli mesin baru, merekrut tenaga kerja dan meningkatkan kapasitas produksinya.
Sebaliknya, industri besar membutuhkan pemasok yang konsisten dalam kualitas, harga dan ketepatan waktu.
Hubungan tersebut harus dibangun sebagai kemitraan bisnis yang profesional dan saling menguntungkan.
Industri Kuat, UMKM Harus Ikut Kuat
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang berpandangan capaian IKI 51,93 menunjukkan industri nasional masih mempunyai daya tahan di tengah berbagai tantangan. Namun mempertahankan ekspansi memerlukan kerja bersama pemerintah, industri besar, perbankan, UMKM, koperasi serta pemerintah daerah.
Indonesia perlu menjaga pasar domestik, meningkatkan ekspor, menekan biaya logistik, memperkuat bahan baku nasional dan meningkatkan kemampuan teknologi.
Pada saat bersamaan, pintu rantai pasok harus semakin terbuka bagi pengusaha nasional.
Pertumbuhan industri tidak boleh berdiri sebagai pulau ekonomi tersendiri. Di belakang setiap pabrik yang berkembang harus ada pemasok lokal yang tumbuh, UMKM yang naik kelas, koperasi yang semakin kuat dan tenaga kerja Indonesia yang memperoleh kesempatan lebih besar.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong agar ekspansi manufaktur nasional menjadi mesin yang melahirkan semakin banyak pengusaha Indonesia, bukan hanya memperbesar perusahaan yang telah besar.
ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Sabtu, 3 Oktober 2026





