Satuan Mahasiswa ETH: Kritik Pemerintah Bukan Kebencian, Diam Terhadap Persoalan Rakyat Bukan Pilihan
Elangtigaglobalnews, ||™BOGOR, JAWA BARAT — Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang (ETH) menegaskan bahwa mahasiswa harus tetap berdiri sebagai kekuatan intelektual dan kontrol sosial yang berani menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik. Kritik terhadap pemerintah bukanlah kebencian, sementara memilih diam ketika masyarakat...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Elangtigaglobalnews, ||™BOGOR, JAWA BARAT — Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang (ETH) menegaskan bahwa mahasiswa harus tetap berdiri sebagai kekuatan intelektual dan kontrol sosial yang berani menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik. Kritik terhadap pemerintah bukanlah kebencian, sementara memilih diam ketika masyarakat menghadapi persoalan juga bukan pilihan bagi gerakan mahasiswa.
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mengatakan mahasiswa mempunyai tanggung jawab moral untuk mengawal perjalanan bangsa melalui kritik yang objektif, berbasis fakta, serta disertai solusi.
«“Kami tidak ingin mahasiswa hanya ramai ketika sebuah isu viral. Mahasiswa harus hadir ketika rakyat membutuhkan suara. Kritik terhadap pemerintah bukan kebencian. Kritik adalah bagian dari demokrasi, dan diam terhadap persoalan rakyat bukan pilihan bagi kami,” tegas Reza Prasatria Dharma.»
MAHASISWA TIDAK BOLEH KEHILANGAN DAYA KRITIS
Menurut Reza, perkembangan demokrasi membutuhkan mahasiswa yang berani berpikir independen dan tidak mudah terjebak dalam kepentingan politik praktis.
Mahasiswa harus mampu menempatkan diri sebagai mitra kritis pemerintah. Kebijakan yang memberikan manfaat kepada masyarakat harus diapresiasi, sementara kebijakan yang dinilai menimbulkan persoalan harus dikritisi secara terbuka dan bertanggung jawab.
“Kami tidak membangun gerakan mahasiswa untuk membenci pemerintah. Kami ingin membangun generasi yang berani mengatakan benar ketika benar dan berani mengatakan ada yang harus diperbaiki ketika menemukan persoalan,” ujarnya.
Satuan Mahasiswa ETH menilai sikap tersebut penting agar mahasiswa tidak berubah menjadi sekadar penonton dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
JANGAN BIARKAN RAKYAT BERJUANG SENDIRIAN
Persoalan biaya pendidikan, lapangan pekerjaan bagi generasi muda, ketimpangan ekonomi, pemberantasan korupsi, konflik agraria, kesejahteraan petani dan nelayan, kondisi buruh serta kualitas pelayanan publik merupakan sejumlah isu yang dinilai membutuhkan perhatian serius generasi mahasiswa.
Satuan Mahasiswa ETH mendorong mahasiswa turun langsung ke masyarakat untuk mendengar dan mendokumentasikan persoalan yang terjadi.
Temuan tersebut selanjutnya dapat dibawa ke ruang akademis untuk dikaji sehingga perjuangan mahasiswa mempunyai dasar data dan argumentasi yang kuat.
«“Kalau masyarakat kecil kesulitan mendapatkan keadilan, petani menghadapi persoalan tanah, buruh memperjuangkan kesejahteraan, atau mahasiswa kesulitan memperoleh pendidikan yang layak, mahasiswa tidak boleh sekadar melihat. Kita harus hadir dan bersuara,” kata Reza.»
KRITIK HARUS BERDASARKAN DATA, BUKAN PROVOKASI
Di tengah derasnya arus informasi media sosial, Satuan Mahasiswa ETH juga mengingatkan agar gerakan mahasiswa tidak mudah terseret informasi yang belum terverifikasi.
Reza menegaskan kritik yang kuat bukanlah kritik yang paling keras, tetapi kritik yang mempunyai bukti, argumentasi dan solusi.
Karena itu, Satuan Mahasiswa ETH mendorong setiap pernyataan sikap organisasi didahului dengan pengumpulan data, kajian akademis, kajian hukum apabila diperlukan, diskusi, dan verifikasi informasi.
“Kita tidak membutuhkan mahasiswa yang mudah diprovokasi. Kita membutuhkan mahasiswa yang sulit dibohongi karena mereka membaca, melakukan penelitian, memeriksa fakta dan memahami persoalan,” tegasnya.
PEMERINTAH JANGAN TAKUT TERHADAP SUARA MAHASISWA
Satuan Mahasiswa ETH berpandangan bahwa pemerintah dan lembaga negara seharusnya menjadikan kritik mahasiswa sebagai salah satu bahan evaluasi kebijakan.
Dialog antara mahasiswa dan pemerintah dinilai jauh lebih produktif apabila kedua pihak membuka ruang komunikasi yang sehat.
Satuan Mahasiswa ETH mendorong kementerian, pemerintah daerah, DPR/DPRD dan lembaga negara untuk membuka ruang audiensi terhadap aspirasi mahasiswa yang disampaikan secara bertanggung jawab.
«“Pemerintah tidak perlu alergi terhadap kritik mahasiswa, dan mahasiswa juga tidak boleh alergi terhadap dialog dengan pemerintah. Demokrasi membutuhkan keduanya,” ujar Reza.»
“MAHASISWA BERSUARA” MENJADI GERAKAN PENGAWAL KEBIJAKAN
Untuk memperkuat peran tersebut, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong gerakan “MAHASISWA BERSUARA” sebagai ruang kajian dan penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap berbagai persoalan nasional maupun daerah.
Gerakan ini diarahkan pada empat pendekatan utama: mendengar persoalan rakyat, mengumpulkan data, mengkaji kebijakan, dan menawarkan solusi.
Hasil kajian nantinya dapat dituangkan melalui pernyataan sikap, diskusi publik, rekomendasi kebijakan, audiensi maupun bentuk penyampaian aspirasi yang sah sesuai peraturan perundang-undangan.
TIDAK ANTI-PEMERINTAH, TIDAK MENJADI ALAT KEKUASAAN
Reza menegaskan independensi merupakan prinsip penting yang harus dipertahankan dalam gerakan mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa tidak boleh dibentuk menjadi kelompok yang selalu menentang pemerintah, tetapi juga tidak seharusnya menjadi alat pembenaran kekuasaan.
Satuan Mahasiswa ETH memilih posisi sebagai mitra kritis.
«“Kalau pemerintah bekerja untuk kepentingan rakyat, kami dukung. Kalau ada kebijakan yang perlu diperbaiki, kami kritik. Kalau rakyat membutuhkan pembelaan, mahasiswa harus berdiri bersama rakyat. Posisi mahasiswa harus jelas: kepentingan bangsa dan rakyat berada di atas kepentingan kelompok,” tegas Reza.»
DARI HAMBALANG, MAHASISWA BERSUARA UNTUK INDONESIA
Satuan Mahasiswa ETH juga menyerukan kepada mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan daerah agar kembali membangun tradisi intelektual dalam gerakan mahasiswa.
Membaca, berdiskusi, melakukan penelitian, turun ke masyarakat, mengawasi kebijakan dan menyampaikan gagasan harus menjadi satu rangkaian perjuangan.
Reza menegaskan bahwa keberanian mahasiswa bukan diukur hanya dari seberapa keras mereka berbicara, melainkan dari konsistensi mengawal persoalan sampai memperoleh penyelesaian.
«“Kami ingin melahirkan mahasiswa yang tidak takut menyampaikan kebenaran, tetapi juga bertanggung jawab atas setiap kata yang disampaikan. Kami akan mengkritik dengan data, mengawal dengan argumentasi dan menawarkan solusi. Sebab bagi kami, kritik pemerintah bukan kebencian dan diam terhadap persoalan rakyat bukan pilihan,” pungkas Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma.»
MAHASISWA BERSUARA
Kritis terhadap Kebijakan • Berpihak pada Kepentingan Rakyat • Berbasis Data • Menawarkan Solusi
SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG
Dari Hambalang — Bersuara untuk Rakyat, Bergerak untuk Indonesia





