Tuna Pacitan Tembus Pasar China, Jepang dan Vietnam, Satuan Nelayan ETH: Ekspor Harus Meningkatkan Harga yang Diterima Nelayan
Hambalang, Kabupaten Bogor — Kamis, 24 September 2026 Komoditas tuna hasil tangkapan nelayan Pacitan, Jawa Timur, terus masuk ke rantai pasar internasional. Perkembangan terbaru pada 24 September 2026 menyebut tuna sirip kuning atau yellowfin tuna/madidihang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor — Kamis, 24 September 2026 Komoditas tuna hasil tangkapan nelayan Pacitan, Jawa Timur, terus masuk ke rantai pasar internasional. Perkembangan terbaru pada 24 September 2026 menyebut tuna sirip kuning atau yellowfin tuna/madidihang yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan dipasarkan antara lain ke China, Jepang, dan Vietnam.
Fakta terbaru dari PPP Tamperan
Aktivitas bongkar tuna masih berlangsung di PPP Tamperan. Pengelola Kapal Mandiri Sukses, Joko Suyanto, mengatakan musim tangkapan tuna yang kuat berlangsung sejak sekitar Mei 2026, meskipun memasuki penghujung September hasil tangkapan mulai menurun seiring perubahan musim.
Kapasitas tangkapan berbeda menurut jenis armada. Kapal sekoci disebut dapat membawa sekitar 6 ton dalam satu perjalanan, kapal slerek sedang sekitar 30 ton, sementara kapal yang jauh lebih besar dapat menghasilkan 200–300 ton dalam satu operasi panjang. Angka tersebut merupakan keterangan pelaku usaha kapal, bukan angka produksi resmi seluruh nelayan Pacitan.
Nelayan tuna Pacitan bahkan dapat mencari ikan hingga sekitar 270 kilometer dari garis pantai. Kapal sekoci biasanya beroperasi sekitar 7–15 hari, sedangkan kapal yang lebih besar dapat berada di laut jauh lebih lama.
Harga tuna sangat bergantung pada ukuran dan kualitas
Menurut keterangan pelaku usaha di Tamperan, tuna berukuran kecil dipasarkan sekitar Rp35.000 per kilogram, sementara tuna berukuran besar dan berkualitas ekspor dapat memiliki nilai jauh lebih tinggi, bergantung pada ukuran serta kualitas ikan.
Informasi tersebut menggambarkan pentingnya penanganan ikan sejak di atas kapal, penggunaan es yang memadai, rantai dingin dan proses pendaratan yang cepat. Untuk komoditas ekspor seperti tuna, mutu sangat menentukan nilai jual.
Bagian terakhir merupakan analisis Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang berdasarkan karakter perdagangan tuna, bukan pernyataan bahwa seluruh nelayan Pacitan telah memperoleh harga ekspor yang tinggi.
PNBP PPP Tamperan menembus Rp1,55 miliar
Data yang dikutip dari Syahbandar UPT PPP Tamperan menunjukkan PNBP pascaproduksi pelabuhan mencapai Rp1.557.261.498 hingga 21 September 2026, berasal dari sekitar 300 aktivitas bongkar kapal. Angka tersebut merupakan PNBP keseluruhan aktivitas pascaproduksi yang tercatat di PPP Tamperan dan bukan semata-mata penerimaan dari tuna.
Pada September hingga tanggal 21, PNBP tercatat sekitar Rp120 juta dari 38 kegiatan bongkar. Syahbandar PPP Tamperan Wahyu Very Wibowo menyebut tuna masih menjadi salah satu komoditas andalan ekspor.
Satuan Nelayan ETH: ukur ekspor dari harga yang masuk ke kantong nelayan
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang memandang keberhasilan ekspor perikanan tidak cukup diukur berdasarkan negara tujuan, tonase, ataupun besarnya aktivitas pelabuhan.
“Tuna Pacitan mampu mencapai pasar China, Jepang dan Vietnam adalah peluang besar. Tetapi ukuran kesejahteraan yang paling penting adalah berapa harga per kilogram yang benar-benar diterima nelayan setelah dikurangi BBM, es, perbekalan, biaya kapal dan rantai distribusi.”
Bagi nelayan yang melaut hingga ratusan kilometer, biaya bahan bakar dan perbekalan menjadi faktor besar. Karena itu, peningkatan nilai ekspor harus diikuti efisiensi biaya operasi dan posisi tawar yang lebih baik bagi nelayan.
Yang perlu dikawal Satuan Nelayan ETH
Satuan Nelayan ETH mendorong pemantauan terhadap harga tuna saat pertama kali dibeli dari nelayan, harga di TPI, kualitas dan grade ekspor, margin pengepul serta eksportir, biaya cold chain, ketersediaan es, biaya BBM dan peluang koperasi nelayan masuk langsung ke rantai pasar ekspor.
Perlu pula dibandingkan harga antara tuna kualitas lokal dan ekspor, sehingga masyarakat dapat mengetahui seberapa besar peningkatan nilai dari kapal nelayan sampai pembeli luar negeri.
Fakta — Pernyataan — Analisis
Fakta: tuna Pacitan yang didaratkan di PPP Tamperan dipasarkan antara lain menuju China, Jepang dan Vietnam. Aktivitas bongkar masih berlangsung hingga 23–24 September 2026.
Pernyataan pelaku usaha: Joko Suyanto mengatakan musim tuna berlangsung kuat sejak Mei, tetapi mulai menurun pada akhir September dan nelayan kemungkinan beralih ke komoditas lain seperti layur.
Data pelabuhan: PNBP pascaproduksi PPP Tamperan mencapai sekitar Rp1,557 miliar hingga 21 September 2026 dari 300 aktivitas bongkar kapal.
Analisis Satuan Nelayan ETH: keberhasilan ekspor perlu diukur dari harga yang benar-benar diterima nelayan, biaya melaut, mutu hasil tangkapan, akses cold storage serta kemampuan nelayan dan koperasinya memperoleh bagian lebih besar dari nilai ekspor.





