200 Bibit Mangrove Ditanam di Papua Barat Daya, Perlindungan Pesisir Harus Diukur dari Keberhasilan Tumbuh Bukan Sekadar Jumlah Bibit
Hambalang, Kabupaten Bogor — Minggu, 27 September 2026 Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Papua Barat Daya menanam 200 bibit mangrove untuk memperkuat ekosistem pesisir sekaligus membantu mencegah abrasi. Kegiatan berlangsung di Sorong pada Sabtu, 26 September 2026, melibatkan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor — Minggu, 27 September 2026
Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Papua Barat Daya menanam 200 bibit mangrove untuk memperkuat ekosistem pesisir sekaligus membantu mencegah abrasi. Kegiatan berlangsung di Sorong pada Sabtu, 26 September 2026, melibatkan sejumlah instansi kelautan dan lingkungan hidup.
FAKTA TERBARU
BKHIT Papua Barat Daya menanam 200 bibit mangrove pada bagian kawasan hutan mangrove yang masih kosong untuk memperkuat tutupan vegetasi. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-3 Badan Karantina Indonesia dan Hari Karantina ke-149.
Penanaman melibatkan unsur Pusat Data, Statistik dan Informasi Kelautan dan Perikanan, Pengelolaan Ruang Laut, BP2MHKP, Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat Daya serta Dinas Lingkungan Hidup Papua Barat Daya.
PERNYATAAN PEJABAT
Kepala Karantina Papua Barat Daya I Wayan Kertanegara menyatakan semakin banyak mangrove yang tumbuh, semakin kuat pula fungsi kawasan tersebut dalam melindungi pesisir dari abrasi. Ia menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari perlindungan kehidupan masyarakat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Papua Barat Daya Absalom Solossa mengapresiasi kegiatan tersebut dan mendorong gerakan penanaman mangrove diperluas dengan melibatkan masyarakat, sekolah, pelajar dan perkantoran. Ia juga menyoroti fungsi mangrove dalam membantu melindungi pantai dari abrasi, gelombang dan ancaman bencana pesisir lainnya.
DAMPAK BAGI NELAYAN DAN MASYARAKAT PESISIR
Bagi masyarakat pesisir, mangrove mempunyai fungsi perlindungan fisik terhadap abrasi dan gelombang. Kawasan mangrove yang sehat juga menjadi bagian penting dari ekosistem pesisir yang menopang kehidupan berbagai biota laut.
Bagi nelayan kecil, kondisi ekosistem pesisir berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya perikanan di kawasan pantai. Karena itu, perlindungan mangrove bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga mempunyai hubungan dengan ruang hidup, keselamatan permukiman pesisir dan keberlanjutan ekonomi nelayan.
ANALISIS SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
Analisis: penanaman 200 bibit merupakan langkah awal, tetapi ukuran keberhasilan sesungguhnya baru dapat dilihat setelah bibit tumbuh dan mampu bertahan dalam jangka waktu tertentu.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang memandang program rehabilitasi mangrove perlu beralih dari pendekatan “berapa bibit ditanam” menjadi “berapa pohon yang benar-benar hidup dan berapa luas kawasan pesisir yang pulih.”
Karena itu, pemantauan setelah penanaman menjadi sangat penting. Bibit yang mati, rusak akibat gelombang, terganggu aktivitas manusia atau tidak sesuai kondisi lokasi harus segera diganti.
YANG PERLU DIKAWAL SATUAN NELAYAN ETH
Satuan Nelayan ETH perlu mengawal tingkat kelangsungan hidup bibit setelah 3, 6 dan 12 bulan, luas area yang berhasil direhabilitasi, keterlibatan masyarakat pesisir dalam pemeliharaan, perlindungan kawasan dari penebangan dan alih fungsi, kesesuaian jenis mangrove dengan lokasi, serta keterhubungan program rehabilitasi dengan perlindungan kampung nelayan.
Perlu juga didorong pencatatan sederhana mengenai kondisi sebelum dan sesudah rehabilitasi, termasuk perubahan abrasi dan kondisi kawasan pesisir, sehingga manfaat program dapat diukur secara objektif.
SIKAP PEMBERITAAN
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong agar rehabilitasi mangrove ditempatkan sebagai bagian dari perlindungan nelayan dan masyarakat pesisir, bukan sekadar kegiatan seremonial penanaman.
Gerakan penanaman perlu diikuti dengan pemeliharaan dan pengawasan jangka panjang agar kawasan mangrove benar-benar kembali berfungsi sebagai pelindung alami pantai.





