DPN ELANG TIGA HAMBALANG SAMBUT MOLINAS CAKRA NX1: INDONESIA JANGAN HANYA JADI PASAR, HARUS JADI BANGSA PRODUSEN
H. Safrizal: Motor Listrik Nasional Harus Menjadi Jalan Menuju Kemandirian Industri dan Teknologi Indonesia Ganda Satria Dharma: Jangan Berhenti pada Perakitan, Bangun Rantai Industri Nasional dari Hulu sampai Hilir JAKARTA, 23 AGUSTUS 2026 — Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perkumpulan Elang...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
H. Safrizal: Motor Listrik Nasional Harus Menjadi Jalan Menuju Kemandirian Industri dan Teknologi Indonesia
Ganda Satria Dharma: Jangan Berhenti pada Perakitan, Bangun Rantai Industri Nasional dari Hulu sampai Hilir
JAKARTA, 23 AGUSTUS 2026 — Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perkumpulan Elang Tiga Hambalang (ETH) menyambut positif pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas) Cakra NX1 yang telah diluncurkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai bagian dari pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Presiden Prabowo meluncurkan Molinas beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 13 Agustus 2026. Pemerintah memandang program tersebut sebagai momentum untuk memperkuat penguasaan teknologi dan memperdalam struktur industri nasional.
Bagi DPN Elang Tiga Hambalang, kelahiran motor listrik nasional tidak boleh dipandang hanya sebagai hadirnya kendaraan baru di pasar Indonesia.
Molinas harus menjadi pintu masuk menuju agenda yang jauh lebih besar: industrialisasi nasional, penciptaan lapangan kerja, peningkatan penggunaan komponen dalam negeri, penguatan industri kecil dan menengah, penguasaan teknologi serta kemandirian ekonomi Indonesia.
H. Safrizal: Indonesia Jangan Hanya Menjadi Pasar
Ketua Umum DPN Perkumpulan Elang Tiga Hambalang, H. Safrizal, menyatakan langkah Presiden Prabowo mendorong motor listrik nasional patut didukung sepanjang pengembangannya diarahkan untuk memperbesar kemampuan industri bangsa sendiri.
Menurut Safrizal, besarnya pasar kendaraan bermotor Indonesia seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun industri nasional yang mandiri.
“Elang Tiga Hambalang mendukung langkah Presiden Prabowo mendorong Motor Listrik Nasional. Tetapi cita-cita kita jangan berhenti pada kemampuan membuat atau merakit kendaraan. Indonesia harus menguasai teknologi, komponen, baterai, penelitian dan pengembangan hingga jaringan industri pendukungnya,” tegas H. Safrizal.
Ia menilai Indonesia tidak boleh selamanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan negara lain.
“Indonesia memiliki sumber daya alam, tenaga kerja, pasar yang besar dan anak-anak bangsa yang memiliki kemampuan. Semua kekuatan itu harus disatukan. Kita jangan hanya menjadi pasar kendaraan listrik dunia. Indonesia harus menjadi bangsa produsen,” ujarnya.
Molinas Harus Menciptakan Lapangan Kerja
DPN Elang Tiga Hambalang menilai salah satu ukuran keberhasilan program Molinas harus terlihat dari besarnya manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.
Pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional harus membuka lapangan pekerjaan baru bagi tenaga kerja Indonesia, sekaligus menciptakan kesempatan bagi perusahaan nasional, industri komponen, IKM, UMKM, lembaga pendidikan, perguruan tinggi dan pelaku teknologi dalam negeri.
Kementerian Perindustrian sendiri tengah mendorong industri kecil dan menengah agar dapat memenuhi kualifikasi pemasok dan masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik nasional.
H. Safrizal menilai arah tersebut harus diperbesar.
“Kalau motor listrik nasional berkembang, rakyat harus ikut merasakan manfaatnya. Pabrik bertambah, lapangan pekerjaan harus bertambah. Produksi meningkat, industri komponen nasional harus tumbuh. Jangan sampai istilah produk nasional besar di bagian hilir, tetapi nilai tambah terbesar justru tidak dinikmati bangsa sendiri,” katanya.
Ganda Satria Dharma: Jangan Berhenti pada Perakitan
Sekretaris Jenderal DPN Perkumpulan Elang Tiga Hambalang, Ganda Satria Dharma, mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan Indonesia benar-benar membangun kemampuan teknologi nasional.
Menurut Ganda, sebuah produk nasional pada akhirnya harus mampu melahirkan ekosistem industri nasional yang kuat dari hulu sampai hilir.
“Cakra NX1 harus kita jadikan momentum. Jangan berhenti pada perakitan. Kita harus bergerak menuju penguasaan desain, perangkat lunak, sistem penggerak, baterai, komponen elektronik, material, riset dan pengembangan serta teknologi produksi,” ujar Ganda Satria Dharma.
Menurutnya, keberhasilan industrialisasi bukan hanya dihitung berdasarkan jumlah kendaraan yang keluar dari pabrik.
“Ukuran keberhasilannya harus lebih besar: berapa tenaga kerja Indonesia terserap, berapa komponen dibuat di dalam negeri, berapa UMKM dan IKM masuk rantai pasok, berapa teknologi berhasil kita kuasai dan berapa besar nilai tambah yang tetap berada di Indonesia,” tegas Ganda.
ETH Dorong TKDN Terus Ditingkatkan
DPN Elang Tiga Hambalang juga memberikan perhatian khusus terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Data Kementerian Perindustrian per 22 Juli 2026 menunjukkan terdapat 48 perusahaan dengan 213 produk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai yang telah memiliki sertifikat TKDN. Untuk kendaraan listrik roda dua dan roda tiga terdapat 31 perusahaan dengan 98 produk tersertifikasi, dengan capaian TKDN pada rentang 27–74,27 persen dan rata-rata 47,5 persen. Pemerintah menargetkan minimum TKDN KBLBB meningkat menjadi 60 persen pada 2027–2029 dan 80 persen mulai 2030.
Pemerintah juga telah menetapkan empat kriteria bagi program Molinas, termasuk persyaratan komponen dalam negeri di atas 60 persen yang mencakup sejumlah komponen utama.
DPN ETH memandang peningkatan TKDN harus diiringi peningkatan kemampuan teknologi sehingga kebijakan tersebut tidak hanya mengejar angka administratif.
“TKDN harus mempunyai substansi. Semakin tinggi kandungan lokal, semakin banyak industri Indonesia yang hidup, semakin banyak pekerja Indonesia yang memperoleh pekerjaan dan semakin kuat kemampuan teknologi bangsa,” kata Ganda Satria Dharma.
Dari Nikel sampai Baterai dan Kendaraan: Nilai Tambah Harus Tinggal di Indonesia
DPN Elang Tiga Hambalang berpandangan Indonesia mempunyai modal strategis untuk menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia.
Namun kekayaan sumber daya alam tersebut harus diterjemahkan menjadi kemampuan industri.
ETH mendorong pembangunan ekosistem terintegrasi mulai dari pengolahan bahan baku, industri baterai, komponen elektronik, motor penggerak, manufaktur kendaraan, perangkat lunak, stasiun pengisian, layanan purnajual hingga daur ulang baterai.
Dengan demikian, nilai tambah ekonomi dapat lebih banyak dinikmati masyarakat Indonesia.
H. Safrizal menegaskan:
“Kekayaan alam Indonesia jangan hanya keluar sebagai bahan mentah kemudian kembali kepada kita sebagai produk teknologi dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kita harus mengolah, menciptakan teknologi dan menghasilkan produk akhirnya di negeri sendiri.”
Gandeng Kampus dan Anak Muda Indonesia
Selain industri, ETH meminta pemerintah memperkuat keterlibatan perguruan tinggi, sekolah vokasi, lembaga penelitian, insinyur dan generasi muda Indonesia.
Menurut Ganda Satria Dharma, pembangunan industri kendaraan listrik merupakan kesempatan untuk menciptakan generasi baru tenaga ahli Indonesia.
“Kita membutuhkan insinyur, teknisi, ahli baterai, programmer, desainer industri dan peneliti Indonesia. Karena itu, proyek seperti Molinas harus terhubung dengan kampus, sekolah vokasi dan pusat penelitian. Tujuan akhirnya bukan hanya mempunyai motor listrik nasional, tetapi mempunyai manusia Indonesia yang menguasai teknologinya,” ujarnya.
Produk Nasional Harus Berkualitas dan Terjangkau
DPN Elang Tiga Hambalang juga mengingatkan bahwa semangat nasionalisme terhadap produk dalam negeri harus dibarengi dengan kualitas.
Motor listrik nasional harus mampu memberikan keamanan, kualitas, harga yang kompetitif, ketersediaan suku cadang, jaringan servis serta kemudahan pengisian daya bagi masyarakat.
ETH menilai masyarakat akan semakin percaya terhadap produk nasional apabila produk tersebut mampu membuktikan kualitasnya.
“Mencintai produk Indonesia tidak cukup dengan slogan. Industri kita harus menjawab kepercayaan rakyat dengan kualitas. Kalau produk nasional berkualitas, harganya kompetitif dan pelayanan purnajualnya baik, masyarakat akan bangga menggunakannya,” kata H. Safrizal.
Dari Hambalang: Saatnya Indonesia Berdiri di Atas Kemampuan Teknologinya Sendiri
DPN Perkumpulan Elang Tiga Hambalang melihat peluncuran Molinas sebagai momentum untuk membangun optimisme baru terhadap kemampuan industri nasional.
ETH mengajak pemerintah, BUMN, swasta nasional, perguruan tinggi, peneliti, IKM, UMKM, pekerja serta generasi muda untuk menjadikan transformasi kendaraan listrik sebagai gerakan industrialisasi Indonesia.
“Kami mendukung Presiden Prabowo membawa Indonesia menuju kemandirian ekonomi dan teknologi. Motor listrik nasional harus menjadi simbol bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan, memproduksi dan menguasai teknologi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri sekaligus bersaing di pasar dunia,” tegas Ketua Umum DPN Elang Tiga Hambalang H. Safrizal.
Sekretaris Jenderal Ganda Satria Dharma menambahkan:
“Dari Hambalang kami menyerukan: bangun industrinya, kuasai teknologinya, libatkan rakyatnya dan pastikan nilai tambahnya tinggal di Indonesia. Kita tidak boleh puas menjadi konsumen. Indonesia harus menjadi produsen dan pemain teknologi dunia.”
—
DEWAN PIMPINAN NASIONAL
PERKUMPULAN ELANG TIGA HAMBALANG
Ketua Umum: H. Safrizal
Sekretaris Jenderal: Ganda Satria Dharma
Dari Hambalang untuk Indonesia
Hambalang – Bogor – Jawa Barat
23 Agustus 2026
“BANGUN INDUSTRINYA — KUASAI TEKNOLOGINYA — CIPTAKAN LAPANGAN KERJA — INDONESIA HARUS MENJADI BANGSA PRODUSEN.”





