SITUASI POLITIK MEMANAS, KETUM SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG REZA PRASATRIA DHARMA ANGKAT SUARA: “MAHASISWA JANGAN DIAM, TAPI JANGAN MAU DIADU DOMBA!”
BOGOR, JAWA BARAT — Di tengah meningkatnya dinamika politik, sosial, dan gerakan mahasiswa menjelang akhir Agustus 2026, Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, menyerukan kepada mahasiswa di seluruh Indonesia agar tetap kritis dalam mengawal kebijakan pemerintah...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
BOGOR, JAWA BARAT — Di tengah meningkatnya dinamika politik, sosial, dan gerakan mahasiswa menjelang akhir Agustus 2026, Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, menyerukan kepada mahasiswa di seluruh Indonesia agar tetap kritis dalam mengawal kebijakan pemerintah sekaligus tidak mudah terseret provokasi yang dapat merusak persatuan bangsa.
Reza menegaskan bahwa mahasiswa mempunyai tanggung jawab sejarah sebagai kekuatan moral, kekuatan intelektual, dan kekuatan kontrol sosial. Karena itu, mahasiswa tidak boleh memilih diam ketika melihat persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Namun, menurut Reza, keberanian menyampaikan kritik harus tetap ditempatkan dalam koridor demokrasi, konstitusi, dan hukum.
«“Mahasiswa jangan diam ketika rakyat membutuhkan suara. Tetapi mahasiswa juga jangan mau diadu domba. Idealisme mahasiswa tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu,” tegas Reza Prasatria Dharma.»
MAHASISWA HARUS KEMBALI MENJADI KEKUATAN MORAL
Menurut Reza Prasatria Dharma, kampus bukan sekadar tempat memperoleh gelar akademik. Kampus merupakan tempat lahirnya pemikiran, keberanian, kepemimpinan, dan gagasan perubahan.
Mahasiswa harus berani mengkritisi berbagai persoalan bangsa, mulai dari pemberantasan korupsi, penegakan hukum, pendidikan, lapangan pekerjaan, ekonomi rakyat, ketimpangan sosial, hingga pelayanan publik.
Kritik tersebut harus berbasis fakta, data, dan kajian, bukan sekadar mengikuti arus informasi yang belum terverifikasi.
«“Mahasiswa harus berani bicara dengan data. Kalau ada kebijakan yang baik untuk rakyat, kita dukung. Kalau ada kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, mahasiswa harus berani mengkritik dan menawarkan solusi,” ujar Reza.»
KRITIK PEMERINTAH BUKAN BERARTI MEMUSUHI NEGARA
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menilai kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokrasi.
Pemerintah membutuhkan kontrol masyarakat. DPR membutuhkan pengawasan publik. Aparat penegak hukum juga harus terus didorong bekerja secara profesional, transparan, dan berkeadilan.
Karena itu, mahasiswa jangan takut menyampaikan pendapat.
Namun, kritik terhadap kebijakan berbeda dengan kebencian terhadap negara.
Gerakan mahasiswa harus mampu menjaga batas tersebut.
Kritis terhadap kebijakan.
Tegas terhadap ketidakadilan.
Berani melawan korupsi.
Menolak provokasi dan kekerasan.
Tetap menjaga persatuan Indonesia.
REZA: JANGAN BIARKAN GERAKAN MAHASISWA DITUNGGANGI
Reza juga mengingatkan bahwa besarnya energi mahasiswa dapat menarik berbagai kepentingan politik maupun kelompok tertentu.
Karena itu, setiap gerakan mahasiswa harus menjaga independensinya.
Mahasiswa harus mengetahui apa yang diperjuangkan, untuk siapa perjuangan dilakukan, dan solusi apa yang ditawarkan.
«“Gerakan mahasiswa harus lahir dari hati nurani mahasiswa dan kepentingan rakyat. Bukan karena pesanan, bukan karena provokasi, dan bukan karena kepentingan kekuasaan,” tegas Reza Prasatria Dharma.»
Menurutnya, mahasiswa jangan sampai hanya berada di barisan paling depan sementara kepentingan lain bersembunyi di belakang gerakan mahasiswa.
LAWAN KORUPSI DAN KETIDAKADILAN
Di bawah kepemimpinan Reza Prasatria Dharma, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong mahasiswa Indonesia memperkuat perannya dalam pengawasan terhadap praktik korupsi dan penyalahgunaan kewenangan.
Mahasiswa dapat mengambil peran melalui kajian kebijakan publik, diskusi terbuka, pengawasan anggaran, advokasi masyarakat, penelitian, penyampaian aspirasi, serta pelaporan kepada lembaga berwenang apabila menemukan indikasi pelanggaran hukum.
Gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada demonstrasi.
Mahasiswa harus mampu membawa data, argumentasi, dan solusi.
SATUAN MAHASISWA ETH BERDIRI BERSAMA RAKYAT
Sebagai bagian dari Perkumpulan Elang Tiga Hambalang (ETH), Satuan Mahasiswa ETH berkomitmen membangun jaringan mahasiswa dari berbagai daerah dengan semangat kebangsaan dan pengabdian kepada masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Reza Prasatria Dharma, Satuan Mahasiswa ETH ingin membangun gerakan mahasiswa yang kritis, nasionalis, independen, intelektual, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Perbedaan kampus, daerah maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling berhadapan.
Indonesia membutuhkan mahasiswa yang berani tetapi tidak sembrono; kritis tetapi tidak destruktif; mencintai Indonesia tetapi tetap berani mengoreksi kekuasaan.
“KAMI PEJUANG SUARA HATI RAKYAT”
Mengakhiri pernyataannya, Reza Prasatria Dharma menyerukan kepada mahasiswa Indonesia:
Jangan takut menyampaikan kebenaran.
Jangan diam melihat ketidakadilan.
Jangan biarkan korupsi merampas masa depan generasi muda.
Jangan mudah percaya informasi yang belum terverifikasi.
Jangan mau diadu domba.
Dan jangan biarkan idealisme mahasiswa diperjualbelikan untuk kepentingan siapa pun.
«“Kami bukan mahasiswa yang memilih diam. Kami juga bukan mahasiswa yang mudah diprovokasi. Kami adalah mahasiswa yang memilih berdiri bersama rakyat, menjaga demokrasi, dan menjaga Indonesia,” pungkas Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma.»
SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG
“KAMI PEJUANG SUARA HATI RAKYAT”
Dari Hambalang, mahasiswa bergerak.
Dari kampus, gagasan dilahirkan.
Bersama rakyat, perubahan diperjuangkan.
Untuk Indonesia, persatuan dipertahankan.





