Ikan Indonesia Harus Bisa Ditelusuri, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang Dorong Nelayan Kecil Jangan Tersisihkan oleh Digitalisasi
Edisi: Minggu, 30 Agustus 2026Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Dari Hambalang, integrasi e-PIT dan STELINA didorong menjadi jalan meningkatkan harga dan akses pasar ikan Indonesia, bukan menambah beban administrasi masyarakat pesisir HAMBALANG, BOGOR — Transformasi digital sektor perikanan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Edisi: Minggu, 30 Agustus 2026
Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Dari Hambalang, integrasi e-PIT dan STELINA didorong menjadi jalan meningkatkan harga dan akses pasar ikan Indonesia, bukan menambah beban administrasi masyarakat pesisir
HAMBALANG, BOGOR — Transformasi digital sektor perikanan Indonesia memasuki tahapan penting setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkuat integrasi Elektronik Penangkapan Ikan Terukur (e-PIT) dengan Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional (STELINA).
KKP pada 10 Agustus 2026 menyatakan integrasi tersebut diarahkan untuk membangun data perikanan yang lebih terintegrasi, transparan, akurat dan dapat ditelusuri dari hulu sampai hilir. Melalui e-PIT, aktivitas penangkapan serta penjualan hasil tangkapan dapat dicatat secara elektronik, sementara STELINA mendukung penelusuran ikan dari proses penangkapan, distribusi, pengolahan hingga pemasaran.
Bagi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, perubahan ini mempunyai konsekuensi besar bagi masyarakat pesisir. Jika diterapkan dengan benar, ketertelusuran dapat meningkatkan kepercayaan pembeli terhadap produk nelayan. Namun digitalisasi juga harus disertai pendampingan agar nelayan kecil tidak tertinggal hanya karena keterbatasan perangkat, internet atau kemampuan menggunakan aplikasi.
Pasar dunia bukan hanya bertanya ikannya bagus atau tidak
Tuntutan pasar perikanan internasional terus berkembang.
KKP menyatakan pasar global kini tidak hanya meminta kualitas produk, tetapi juga kepastian bahwa ikan berasal dari kegiatan yang legal, transparan, berkelanjutan dan dapat ditelusuri. Ketertelusuran menjadi penting bagi akses ke pasar utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang.
STELINA dirancang untuk mencatat perjalanan produk mulai dari asal bahan baku, inventori dan produksi hingga penjualan domestik maupun ekspor. KKP menempatkannya sebagai sarana meningkatkan transparansi serta daya saing rantai pasok perikanan nasional.
Artinya, di masa mendatang pertanyaan kepada nelayan tidak lagi sebatas “berapa kilogram ikan yang ditangkap?”
Pembeli juga akan semakin membutuhkan jawaban:
ikan ditangkap di mana, oleh kapal apa, melalui proses seperti apa, dan apakah hasil tangkapan itu berasal dari kegiatan yang legal.
Ketertelusuran bisa menjadi perlindungan bagi nelayan yang taat
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang melihat sistem ketertelusuran dapat memberi manfaat bagi nelayan yang mencari ikan dengan cara yang benar.
Apabila asal-usul ikan tercatat dengan jelas, hasil tangkapan nelayan legal dapat semakin mudah dibedakan dari produk yang berasal dari illegal fishing atau praktik penangkapan yang merusak.
KKP menyebut ketertelusuran penting untuk memastikan transparansi, legalitas, keberlanjutan sumber daya serta kepatuhan terhadap aturan nasional dan internasional. Pada tahap nelayan, salah satu informasi penting adalah lokasi penangkapan sehingga asal hasil perikanan dapat diketahui.
Inilah yang dapat diperjuangkan organisasi nelayan: nelayan yang patuh aturan harus mendapatkan nilai ekonomi lebih baik daripada pihak yang merusak laut atau beroperasi secara ilegal.
Jangan sampai nelayan kecil kalah karena tidak memahami aplikasi
Digitalisasi memang dapat mempercepat administrasi. Namun Indonesia mempunyai jutaan nelayan dengan kemampuan teknologi dan kondisi infrastruktur yang berbeda-beda.
Data statistik KKP mencatat jumlah nelayan Indonesia mencapai sekitar 3,23 juta orang pada 2024. Skala sebesar itu menunjukkan penerapan sistem digital membutuhkan pendidikan dan pendampingan yang luas agar manfaatnya tidak hanya dinikmati pelaku usaha besar.
Karena itu, Satuan Nelayan ETH dapat mendorong pemerintah menyediakan gerai pendampingan digital langsung di pelabuhan dan sentra nelayan, bukan hanya petunjuk daring
KKP sendiri telah menggunakan konsep Gerai Implementasi STELINA sebagai media edukasi dan pendampingan kepada pelaku usaha dalam memahami pemanfaatan sistem digital tersebut.
Lima agenda yang dapat diperjuangkan Satuan Nelayan ETH
- Pendampingan digital gratis di pelabuhan dan kampung nelayan, terutama untuk nelayan kecil dan awak kapal.
- Prosedur pencatatan yang sederhana, sehingga ketertelusuran tidak berubah menjadi beban administrasi baru.
- Dukungan internet dan perangkat pada sentra perikanan yang masih memiliki keterbatasan konektivitas.
- Perlindungan data nelayan dan pelaku usaha, karena sistem digital mengelola informasi pengguna dan kegiatan usaha.
- Insentif ekonomi untuk ikan yang tertelusur, sehingga kepatuhan terhadap sistem dapat menghasilkan akses pasar dan posisi tawar yang lebih baik.
Aspek perlindungan data juga relevan. Kebijakan privasi STELINA yang diperbarui pada 29 Agustus 2026 menyatakan platform mengelola berbagai informasi pengguna serta menerapkan perlindungan berdasarkan ketentuan pelindungan data pribadi di Indonesia.
Digitalisasi harus menaikkan harga, bukan sekadar menghasilkan data
Bagi nelayan, keberhasilan sebuah sistem pada akhirnya harus dapat diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi.
Jika ikan telah dicatat sejak kapal, asalnya jelas, mutunya terjaga dan legalitasnya dapat dibuktikan, maka produk tersebut seharusnya mendapatkan peluang pasar yang lebih baik.
Karena itu Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang dapat mendorong hubungan yang lebih jelas antara ketertelusuran, peningkatan akses pasar dan harga yang diterima nelayan.
sikap organisasi :
“Kami mendukung perikanan Indonesia yang modern dan transparan. Tetapi digitalisasi harus membantu nelayan naik kelas, bukan membuat nelayan kecil tersingkir karena tidak memahami teknologi.”
Kalimat tersebut dapat dijadikan kutipan resmi setelah memperoleh persetujuan pengurus organisasi.
Dari Hambalang, kawal nelayan memasuki era digital
Perubahan teknologi sektor perikanan tidak dapat dihentikan.
Yang harus dijaga adalah jangan sampai terjadi kesenjangan antara kapal dan perusahaan yang telah siap menggunakan sistem digital dengan nelayan kecil yang baru mengenal pencatatan elektronik.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang dapat mengambil posisi sebagai jembatan antara teknologi pemerintah dengan kebutuhan masyarakat pesisir: mendengar kesulitan nelayan, membantu sosialisasi, mengumpulkan persoalan implementasi dan menyampaikannya kepada KKP.
Sebab masa depan perikanan Indonesia tidak cukup hanya memiliki ikan yang melimpah.
Indonesia membutuhkan hasil perikanan yang legal, bermutu, tertelusur, dihargai pasar—dan tetap memberikan keuntungan yang adil kepada nelayan yang menangkapnya.
SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat





