AI Makin Mengubah Pendidikan dan Dunia Kerja, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Mahasiswa Harus Menguasai Teknologi, Bukan Dikuasai Teknologi
Reza Prasatria Dharma Dorong Kampus Menjaga Daya Kritis Mahasiswa di Tengah Ledakan Kecerdasan Artifisial HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 1 September 2026, Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara mahasiswa belajar, mencari informasi, melakukan penelitian hingga mempersiapkan diri...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Reza Prasatria Dharma Dorong Kampus Menjaga Daya Kritis Mahasiswa di Tengah Ledakan Kecerdasan Artifisial
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 1 September 2026, Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara mahasiswa belajar, mencari informasi, melakukan penelitian hingga mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Perubahan tersebut kini menjadi perhatian pemerintah. Pada 26 Agustus 2026, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu memperkuat perannya sebagai pusat penciptaan dan penyebarluasan pengetahuan serta pengembangan sumber daya manusia di tengah perkembangan AI.
Empat hari lalu, Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengingatkan tenaga kerja Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja akibat AI generatif. Wamenkomdigi Nezar Patria menyatakan perkembangan tersebut membawa peluang peningkatan produktivitas sekaligus perubahan pada struktur pekerjaan.
Dua perkembangan itu memperlihatkan bahwa AI bukan lagi isu masa depan.
Perubahannya sedang berlangsung sekarang.
Reza: Mahasiswa Jangan Menyerahkan Kemampuan Berpikir kepada Mesin
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mendorong mahasiswa Indonesia memanfaatkan AI secara produktif tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis.
“Mahasiswa harus menguasai teknologi, bukan justru dikuasai teknologi. AI boleh membantu kita mencari dan mengolah informasi, tetapi kemampuan berpikir, menguji fakta, membangun argumentasi dan mengambil keputusan tetap harus berada pada manusia,” kata Reza Prasatria Dharma.
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, penggunaan AI di lingkungan perguruan tinggi seharusnya tidak dipandang secara hitam-putih sebagai teknologi yang harus ditolak ataupun alat yang dapat digunakan tanpa batas.
Tantangannya adalah bagaimana kampus membangun literasi AI yang disertai integritas akademik.
Perguruan Tinggi Menghadapi Tantangan Baru
Wamendiktisaintek Stella Christie menyebut kemampuan AI memperoleh, mengolah, dan menyajikan informasi dengan cepat mendorong perguruan tinggi untuk merefleksikan kembali fungsi utamanya dalam membangun manusia dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Sebelumnya, pada 13 Agustus, Kemdiktisaintek juga mempublikasikan pesan kepada mahasiswa baru agar mempersiapkan diri menghadapi transisi menuju era AI.
Perguruan tinggi, menurut pemerintah, bukan sekadar tempat mempelajari pengetahuan yang sudah tersedia, melainkan ruang untuk membangun cara berpikir ilmiah, melakukan penelitian dan menghasilkan pengetahuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat.
Satuan Mahasiswa ETH menilai prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika jawaban atas berbagai pertanyaan kini dapat dihasilkan mesin hanya dalam hitungan detik.
Jika mahasiswa sekadar menyalin jawaban AI tanpa memeriksa kebenarannya, teknologi berpotensi melemahkan proses pendidikan.
Namun jika mahasiswa mampu mempertanyakan, memverifikasi dan mengembangkan informasi yang diperoleh melalui AI, teknologi dapat menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas akademik.
Dunia Kerja Juga Sedang Berubah
Perubahan tidak berhenti di ruang kuliah.
Kemkomdigi pada 28 Agustus menyoroti bagaimana AI generatif telah mengubah cara manusia bekerja, mengambil keputusan dan memberikan pelayanan.
Pemerintah bahkan telah mengembangkan jalur pengembangan talenta AI. Pada Juli 2026, Kemkomdigi dan Badan Pengelola BUMN mengumumkan upaya mengintegrasikan AI Talent Factory dengan AI Talent Pool BUMN, dengan tujuan membuka jalur karier bagi talenta AI dan menghubungkannya dengan kebutuhan industri.
Perkembangan tersebut memberi pesan penting kepada mahasiswa: kemampuan memahami teknologi akan semakin relevan di berbagai bidang.
Tidak hanya bagi mahasiswa informatika.
Mahasiswa hukum akan menghadapi persoalan bukti digital, perlindungan data dan regulasi AI. Mahasiswa ekonomi akan bersentuhan dengan otomatisasi dan analisis data. Mahasiswa komunikasi akan menghadapi konten sintetis dan disinformasi. Mahasiswa kedokteran akan berhadapan dengan teknologi kesehatan berbasis AI.
Reza: AI Harus Memperkuat Manusia
Reza mendorong organisasi mahasiswa ikut membangun budaya penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.
“Jangan sampai mahasiswa mempunyai teknologi yang semakin pintar tetapi kemampuan manusianya justru semakin lemah. AI harus memperkuat kreativitas, penelitian dan produktivitas kita, bukan menggantikan keberanian untuk berpikir sendiri,” ujar Reza.
Satuan Mahasiswa ETH memandang kampus perlu memberikan panduan yang jelas mengenai penggunaan AI dalam tugas, penelitian dan karya ilmiah.
Mahasiswa perlu mengetahui kapan penggunaan AI diperbolehkan, kapan harus dinyatakan secara transparan, serta tindakan apa yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran integritas akademik.
Kampus Perlu Mengajarkan Cara Memeriksa AI
Salah satu kemampuan terpenting di era AI bukan sekadar kemampuan membuat prompt.
Mahasiswa perlu mampu memeriksa hasil AI.
AI dapat menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan tetapi keliru. Karena itu mahasiswa tetap harus memeriksa sumber primer, dokumen resmi, jurnal ilmiah, data statistik dan literatur yang kredibel sebelum menggunakan informasi untuk kepentingan akademik.
Satuan Mahasiswa ETH mengusulkan perguruan tinggi memperkuat sedikitnya empat kemampuan: literasi AI, verifikasi informasi, etika digital dan integritas akademik.
Ini merupakan analisis dan usulan organisasi, bukan kebijakan pemerintah.
Mahasiswa Harus Naik Kelas: Dari Pengguna Menjadi Pencipta
Satuan Mahasiswa ETH juga mendorong generasi muda Indonesia tidak puas hanya menjadi konsumen teknologi.
Mahasiswa dapat mulai membangun aplikasi, penelitian, model bisnis, teknologi pendidikan, solusi lingkungan dan berbagai inovasi yang menggunakan AI untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Program AI Talent Factory menunjukkan salah satu contoh arah tersebut. Pada Juni 2026, program yang dijalankan Komdigi bersama ITS melibatkan 40 mahasiswa terpilih untuk mengintegrasikan model AI yang mereka kembangkan menjadi sistem yang siap digunakan dalam bentuk minimum viable product.
“Generasi muda Indonesia jangan hanya bertanya bagaimana memakai AI. Kita harus mulai bertanya: teknologi apa yang bisa kita ciptakan untuk menyelesaikan masalah Indonesia?” kata Reza.
Dari Hambalang untuk Mahasiswa Indonesia
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menilai revolusi AI tidak seharusnya membuat mahasiswa takut terhadap masa depan.
Sebaliknya, perubahan tersebut harus menjadi alasan untuk meningkatkan kualitas diri.
Mahasiswa perlu menguasai teknologi sekaligus mempertahankan sesuatu yang tidak boleh hilang dari pendidikan tinggi: nalar kritis, integritas, kreativitas, rasa ingin tahu dan keberanian menghasilkan pengetahuan baru.
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Reza Prasatria Dharma menyerukan mahasiswa untuk mengambil posisi sebagai pelaku perubahan teknologi, bukan sekadar penonton.
“Kuasai teknologinya, pertahankan daya kritisnya, dan gunakan ilmu untuk menciptakan solusi bagi Indonesia.”
Catatan verifikasi redaksi
Fakta terverifikasi: pernyataan pemerintah mengenai peran perguruan tinggi di era AI bersumber dari Kemdiktisaintek pada 13 dan 26 Agustus 2026. ([Kemdikbudristek][3]) Peringatan mengenai perubahan dunia kerja akibat AI bersumber dari Kemkomdigi pada 28 Agustus 2026.
Analisis organisasi: rekomendasi mengenai literasi AI, verifikasi informasi, etika digital, integritas akademik serta dorongan agar mahasiswa menjadi pencipta teknologi merupakan sikap dan analisis Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang.
Kutipan Reza Prasatria Dharma:





