EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

13 Hari Hilang di Laut, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang: Keselamatan dan Komunikasi Kapal Jangan Pernah Diabaikan

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Selasa, 1 September 2026Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Awak KM El Malika ditemukan selamat di Palau; dari Hambalang, Satuan Nelayan ETH mendorong perahu bantu, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan dan prosedur darurat menjadi perhatian serius seluruh armada perikanan HAMBALANG,...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Selasa, 1 September 2026
Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Awak KM El Malika ditemukan selamat di Palau; dari Hambalang, Satuan Nelayan ETH mendorong perahu bantu, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan dan prosedur darurat menjadi perhatian serius seluruh armada perikanan

HAMBALANG, BOGOR — Peristiwa yang dialami Rahmad Labada, awak kapal perikanan KM El Malika yang sempat hilang kontak selama 13 hari di laut, menjadi peringatan penting bagi keselamatan jutaan pekerja dan nelayan yang menggantungkan kehidupan pada sektor perikanan Indonesia.

banner 468x60

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan Rahmad, 31 tahun, dilaporkan hilang kontak sejak 7 Agustus 2026 ketika menggunakan perahu bantu atau ayuda boat dalam kegiatan penangkapan ikan.

Perahu tersebut terpisah dari KM El Malika setelah diterjang gelombang dan kemudian hanyut. Rahmad akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat di Pulau Peleliu, Republik Palau, pada 20 Agustus 2026.

Setelah ditemukan, Rahmad memperoleh pertolongan dan menjalani perawatan medis hingga 27 Agustus. Ia kemudian meninggalkan Palau menuju Manila pada 28 Agustus dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 29 Agustus pukul 23.55 WIB. Berdasarkan keterangan resmi KKP, Rahmad dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Manado pada 1 September 2026, sebelum diantar ke kediamannya di Kabupaten Minahasa Utara.

Keselamatan bukan perlengkapan tambahan

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran bersama bagi pemilik kapal, nakhoda, awak kapal, pemerintah dan organisasi nelayan.

Keselamatan tidak boleh dianggap sebagai biaya tambahan yang dapat dikurangi ketika kapal hendak berangkat.

“Tiga belas hari terpisah di laut menunjukkan bahwa situasi darurat dapat terjadi kepada siapa saja. Setiap nelayan dan awak kapal mempunyai keluarga yang menunggu mereka pulang. Alat komunikasi, pelampung, perahu bantu yang layak dan pemahaman prosedur darurat harus menjadi kebutuhan utama sebelum kapal meninggalkan pelabuhan,” tegas Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.

KKP sendiri menegaskan kasus tersebut menjadi pengingat mengenai pentingnya memastikan kelaikan kapal dan perahu bantu, ketersediaan alat komunikasi, perlengkapan keselamatan serta kepatuhan terhadap prosedur operasi sebelum melaut.

Perahu bantu juga harus memiliki standar keselamatan

Peristiwa KM El Malika menunjukkan bahwa perhatian keselamatan tidak cukup hanya diberikan kepada kapal induk.

Perahu bantu yang digunakan awak untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan juga dapat menghadapi gelombang, perubahan cuaca serta risiko terpisah dari kapal utama.

Karena itu, Satuan Nelayan ETH mendorong agar setiap perahu bantu setidaknya memiliki perlengkapan yang memadai sesuai kebutuhan operasional dan ketentuan keselamatan, termasuk sarana komunikasi serta perlengkapan penyelamatan.

“Jangan sampai kapal utama memiliki perlengkapan lengkap sementara perahu kecil yang membawa awak justru minim perlindungan. Risiko di laut tidak mengenal besar atau kecilnya kapal,” kata Satuan Nelayan ETH.

Lima hal perlu menjadi kebiasaan sebelum melaut

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong perhatian pada lima aspek utama: pemeriksaan kondisi kapal dan perahu bantu; pengecekan alat komunikasi; kelengkapan pelampung serta perlengkapan keselamatan; pemeriksaan prakiraan cuaca sebelum keberangkatan; dan pemahaman seluruh awak terhadap prosedur keadaan darurat.

Selain itu, komunikasi antara kapal utama dan perahu bantu harus dipertahankan selama kegiatan penangkapan ikan.

Jika komunikasi terputus, harus tersedia prosedur yang jelas mengenai kapan pencarian dimulai, kepada siapa kondisi tersebut dilaporkan, serta bagaimana posisi terakhir awak dapat diketahui.

Teknologi sederhana dapat menyelamatkan nyawa

Satuan Nelayan ETH juga mendorong pemerintah dan industri perikanan memperluas akses nelayan terhadap teknologi komunikasi dan penentuan posisi yang sesuai dengan karakter kapal.

Di wilayah laut yang jauh dari jaringan telepon seluler, kemampuan memberikan tanda atau mengetahui posisi dapat menjadi penentu kecepatan operasi pencarian dan pertolongan.

“Keselamatan nelayan tidak boleh bergantung pada keberuntungan. Kita harus membangun sistem yang memungkinkan bantuan bergerak secepat mungkin ketika seorang nelayan tidak kembali atau kehilangan komunikasi,” ujar Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.

Koordinasi lintas negara patut diapresiasi

Proses penanganan Rahmad juga memperlihatkan pentingnya koordinasi banyak pihak.

Menurut KKP, pemulangannya melibatkan Kementerian Luar Negeri, KBRI Manila, Konsulat Kehormatan Republik Indonesia di Palau, Syahbandar Perikanan PPS Bitung, pemerintah daerah dan pemilik kapal. Koordinasi mencakup kebutuhan medis, dokumen perjalanan, transportasi serta pendampingan.

Satuan Nelayan ETH menilai mekanisme semacam itu perlu terus diperkuat, khususnya mengingat kapal Indonesia dapat beroperasi pada wilayah yang jauh dari daratan dan situasi darurat dapat membawa awak memasuki perairan negara lain.

Jangan menunggu korban berikutnya

Kasus Rahmad berakhir dengan ditemukannya awak dalam keadaan selamat.

Namun Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mengingatkan bahwa setiap kejadian keselamatan harus digunakan untuk memperbaiki sistem sebelum terjadi insiden berikutnya.

“Kita bersyukur saudara Rahmad ditemukan selamat. Tetapi rasa syukur itu harus diterjemahkan menjadi evaluasi. Jangan menunggu ada keluarga lain kehilangan kabar berhari-hari baru kita berbicara tentang pelampung, komunikasi dan prosedur keselamatan,” tegas Satuan Nelayan ETH.

Dari Hambalang, keluarga nelayan harus ikut dilindungi

Bagi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, perlindungan nelayan bukan hanya melindungi seseorang yang berada di kapal.

Ketika seorang awak hilang kontak, keluarga di rumah ikut menghadapi ketidakpastian, tekanan psikologis dan ancaman kehilangan sumber penghasilan.

Karena itu, keselamatan kerja di sektor perikanan harus ditempatkan sebagai bagian dari perlindungan keluarga nelayan Indonesia.

Dari Hambalang, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang membawa pesan:

“Nelayan berangkat untuk mencari kehidupan. Negara, pemilik kapal dan seluruh pemangku kepentingan harus bersama-sama memastikan mereka mempunyai kesempatan sebesar-besarnya untuk kembali dengan selamat.”

SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG

KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT

banner 336x280