Kampung Nelayan Merah Putih Diperluas, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang: Jangan Hanya Bangun Fasilitas, Pastikan Pendapatan Nelayan Naik
Selasa, 1 September 2026Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 65 KNMP tahap pertama telah memasarkan 273,6 ton ikan senilai Rp11,10 miliar; dari Hambalang, Satuan Nelayan ETH mendorong cold storage, pabrik es, koperasi dan akses pasar benar-benar memperkuat ekonomi keluarga...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Selasa, 1 September 2026
Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
65 KNMP tahap pertama telah memasarkan 273,6 ton ikan senilai Rp11,10 miliar; dari Hambalang, Satuan Nelayan ETH mendorong cold storage, pabrik es, koperasi dan akses pasar benar-benar memperkuat ekonomi keluarga nelayan
HAMBALANG, BOGOR — Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) memasuki fase penting. Setelah 65 lokasi tahap pertama mulai beroperasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan kini mendorong pengelolaannya tidak berhenti pada pembangunan sarana fisik, tetapi berkembang menjadi unit usaha yang produktif dan memberikan manfaat ekonomi nyata kepada masyarakat pesisir.
KKP melaporkan bahwa hingga 14 Agustus 2026, sebanyak 273,6 ton hasil perikanan dari sejumlah KNMP tahap I telah dipasarkan dengan nilai mencapai Rp11,10 miliar. Pengiriman dilakukan dari sejumlah daerah seperti Lampung, Sumbawa, Pandeglang, Sinjai, Lombok Tengah, Gorontalo, Tual, Konawe hingga Merauke. Komoditasnya antara lain tuna, tuna loin, tuna fillet, cumi, gurita, tongkol, bawal, ikan demersal dan kakap putih.
Bagi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, angka tersebut merupakan perkembangan positif. Namun keberhasilan program nasional untuk masyarakat pesisir tidak cukup dinilai dari jumlah tonase ikan atau besarnya transaksi.
“Rp11,10 miliar transaksi tentu merupakan kabar baik. Tetapi ukuran yang paling penting adalah berapa peningkatan pendapatan yang akhirnya dibawa pulang nelayan kepada keluarganya. Program untuk nelayan harus dinilai dari perubahan kehidupan nelayan,” tegas Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.
KKP: KNMP jangan berhenti sebagai pembangunan fasilitas
Pada 28 Agustus 2026, KKP menggandeng Asosiasi Profesi Pendamping Entrepreneur Indonesia untuk memperkuat kemampuan pengelola KNMP menjalankan unit usaha berbasis data.
KKP menegaskan program tersebut tidak boleh hanya berhenti pada keberadaan fasilitas perikanan, tetapi harus berkembang menjadi unit usaha yang produktif, terukur dan berkelanjutan. Kesiapan pengelola koperasi disebut menjadi salah satu kunci agar fasilitas yang tersedia dapat segera memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. (
Satuan Nelayan ETH menilai arah tersebut tepat dan perlu dikawal hingga tingkat lapangan.
“Cold storage tidak boleh hanya berdiri sebagai bangunan. Pabrik es tidak boleh hanya terlihat bagus ketika diresmikan. Koperasi tidak boleh hanya memiliki papan nama. Semua fasilitas harus hidup dan bekerja setiap hari untuk meningkatkan posisi tawar nelayan,” ujar Satuan Nelayan ETH.
Tahun 2026 direncanakan menyasar lebih banyak lokasi
Skala program KNMP juga akan semakin besar.
Dalam informasi resmi mengenai survei pasar pembangunan KNMP 2026, KKP menyebut rencana pengadaan pekerjaan konstruksi program tersebut tersebar di 1.269 lokasi di seluruh Indonesia. Program diarahkan untuk memperkuat swasembada pangan, kelembagaan koperasi, integrasi hulu-hilir dan pembangunan ekonomi desa pesisir.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang memandang perluasan sebesar itu harus dibarengi sistem evaluasi yang transparan.
Bukan sekadar berapa lokasi yang selesai dibangun, tetapi bagaimana perubahan yang terjadi setelah fasilitas beroperasi.
Lima ukuran keberhasilan harus mudah dilihat nelayan
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong agar sedikitnya lima indikator dapat menjadi ukuran sederhana keberhasilan Kampung Nelayan Merah Putih:
- Pendapatan bersih nelayan meningkat, bukan hanya nilai transaksi kawasan.
- Harga ikan yang diterima nelayan membaik dan semakin transparan.
- Es dan cold storage tersedia dengan harga terjangkau, sehingga nelayan tidak terpaksa menjual ikan cepat dengan harga rendah.
- Koperasi benar-benar berfungsi, transparan, dan memberikan manfaat kepada anggota.
- Akses pasar semakin luas, sehingga nelayan tidak bergantung hanya pada satu pembeli atau rantai pemasaran.
KKP sendiri menyatakan fokus tahap uji coba adalah memastikan fasilitas KNMP digunakan, unit usaha berjalan dan koperasi siap mengelolanya. Pemerintah juga menerjunkan tim pendamping untuk melihat potensi bisnis serta mempertemukan koperasi, pemerintah daerah, masyarakat dan mitra usaha.
Cold storage bisa menentukan harga ikan
Satuan Nelayan ETH menyoroti fasilitas rantai dingin sebagai salah satu kebutuhan paling konkret masyarakat nelayan.
Ikan merupakan komoditas yang cepat mengalami penurunan mutu. Ketika nelayan tidak memiliki cukup es atau tempat penyimpanan dingin, waktu untuk menjual hasil tangkapan menjadi sangat terbatas.
Kondisi tersebut dapat melemahkan posisi tawar.
“Nelayan yang tidak mempunyai tempat menyimpan ikan sering kali tidak mempunyai banyak pilihan. Ikan harus segera dijual. Karena itu, cold storage dan pabrik es sebenarnya bukan sekadar fasilitas teknis, tetapi alat untuk memperkuat posisi tawar ekonomi nelayan,” kata Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.
Koperasi jangan menjadi lembaga yang jauh dari anggota
Satuan Nelayan ETH juga mendorong agar koperasi pengelola KNMP memiliki tata kelola yang transparan.
Nelayan sebagai anggota harus mudah mengetahui harga pembelian ikan, biaya pelayanan fasilitas, pendapatan usaha koperasi serta manfaat ekonomi yang kembali kepada anggota.
KKP pada 28 Agustus menekankan pentingnya pencatatan keuangan dan penggunaan data sehingga pengelola mampu membaca kondisi usaha, kebutuhan modal dan peluang pengembangan bisnis.
Menurut Satuan Nelayan ETH, transparansi merupakan kunci agar nelayan merasa menjadi pemilik dan penerima manfaat program, bukan sekadar pengguna fasilitas.
Jangan sampai bangunan baru, persoalan lama
Program nasional yang besar harus mampu menyelesaikan persoalan lama masyarakat nelayan: mahalnya es, keterbatasan penyimpanan, harga ikan yang tidak stabil, pemasaran yang panjang, keterbatasan modal serta lemahnya posisi tawar.
“Jangan sampai kita mempunyai bangunan baru tetapi nelayan tetap menghadapi persoalan lama. Jika Kampung Nelayan Merah Putih dibangun atas nama kesejahteraan nelayan, maka kesejahteraan itulah yang harus menjadi ukuran keberhasilannya,” tegas Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.
Dari Hambalang, kawal manfaat sampai ke keluarga nelayan
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong masyarakat nelayan di daerah ikut mengawasi dan memberi masukan terhadap pelaksanaan program KNMP.
Nelayan dapat menyampaikan apakah fasilitas benar-benar berfungsi, apakah es mudah diperoleh, bagaimana harga ikan, apakah koperasi transparan, dan apakah pemasaran hasil tangkapan menjadi lebih baik.
Aspirasi tersebut penting agar pembangunan sektor perikanan tidak hanya dinilai melalui laporan proyek, tetapi juga melalui pengalaman masyarakat yang menggunakannya setiap hari.
Dari Hambalang, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menegaskan:
“KAMPUNG NELAYAN HARUS MEMBUAT NELAYAN LEBIH KUAT, IKAN LEBIH BERNILAI, KOPERASI LEBIH SEHAT DAN KELUARGA NELAYAN LEBIH SEJAHTERA.”
SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT





