EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Daerah

80,6 Persen Penduduk Indonesia Sudah Terhubung Internet, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Generasi Muda Jangan Hanya Jadi Konsumen Digital

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Reza Prasatria Dharma Dorong Mahasiswa Menjadi Pencipta Teknologi, Inovator, dan Pelaku Ekonomi Digital Indonesia HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026 Transformasi digital Indonesia mencapai skala yang semakin besar. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) hari ini, 2 September 2026, menyatakan...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Reza Prasatria Dharma Dorong Mahasiswa Menjadi Pencipta Teknologi, Inovator, dan Pelaku Ekonomi Digital Indonesia

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026

Transformasi digital Indonesia mencapai skala yang semakin besar. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) hari ini, 2 September 2026, menyatakan 80,6 persen penduduk Indonesia telah terhubung ke internet.

banner 468x60

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan besarnya jumlah pengguna internet harus menjadi modal bagi Indonesia untuk berkembang sebagai pemain dalam ekosistem digital, bukan hanya menjadi pasar bagi produk dan platform global. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan 20 tahun Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di Jakarta Selatan.

Perkembangan tersebut mempunyai arti penting bagi mahasiswa dan generasi muda.

Bagi Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, tingginya konektivitas internet harus mulai diterjemahkan menjadi kemampuan menciptakan teknologi, pekerjaan, bisnis digital, penelitian dan solusi untuk kepentingan masyarakat.

Indonesia Punya Pasar Digital Sangat Besar

Dengan 80,6 persen penduduk telah terhubung internet, Indonesia mempunyai basis pengguna digital yang sangat besar.

Namun jumlah pengguna saja belum cukup.

Wamenkomdigi Nezar Patria menegaskan Indonesia memiliki market power yang luar biasa dan harus bergerak menjadi pemain signifikan dalam ekosistem digital yang sedang berkembang.

Pesan tersebut relevan bagi mahasiswa.

Setiap hari generasi muda menggunakan mesin pencari, media sosial, layanan video, marketplace, aplikasi transportasi, kecerdasan artifisial dan berbagai platform digital lainnya.

Pertanyaan strategisnya adalah:

Berapa banyak teknologi tersebut yang mampu kita ciptakan sendiri?

Reza: Mahasiswa Jangan Puas Menjadi Pengguna

Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mendorong mahasiswa mengubah posisi dari sekadar pengguna menjadi pencipta.

“Kalau sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terkoneksi dengan internet, generasi muda jangan hanya menjadi konsumen aplikasi dan konten. Mahasiswa harus mulai menciptakan teknologi, membangun usaha digital dan menghasilkan inovasi yang menjawab persoalan Indonesia,” kata Reza Prasatria Dharma.

Menurut Reza, mahasiswa mempunyai lingkungan yang sangat strategis untuk memulai.

Kampus memiliki dosen, laboratorium, komunitas mahasiswa, penelitian dan jejaring yang dapat digunakan untuk mengembangkan gagasan menjadi produk.

Dari Skripsi Menjadi Produk

Satuan Mahasiswa ETH menilai perguruan tinggi mempunyai peluang besar menghubungkan penelitian mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

Setiap tahun mahasiswa menghasilkan berbagai skripsi, tugas akhir, penelitian dan proyek.

Sebagian memiliki potensi dikembangkan menjadi aplikasi, perangkat teknologi, metode produksi, produk kreatif ataupun model bisnis.

Persoalannya, karya tersebut sering berhenti setelah mahasiswa memperoleh nilai dan lulus.

Satuan Mahasiswa ETH mendorong karya yang mempunyai potensi untuk dilanjutkan melalui inkubator bisnis, pendampingan dosen, pengujian pasar, perlindungan kekayaan intelektual apabila relevan, serta hubungan dengan investor dan industri.

Dengan demikian, tugas akhir tidak selalu berakhir di perpustakaan.

Ia dapat menjadi awal sebuah inovasi.

Ekonomi Digital Juga Berarti Lapangan Kerja

Isu digital berkaitan langsung dengan persoalan pekerjaan generasi muda.

Program Digital Talent Scholarship (DTS) Komdigi, misalnya, menyediakan pengembangan kompetensi digital. Ekosistem pascapelatihannya juga mencakup fasilitasi perluasan kesempatan kerja yang mempertemukan alumni dengan perusahaan atau industri yang membutuhkan talenta.

Artinya, penguasaan teknologi bukan semata-mata kebutuhan mahasiswa informatika.

Ekonomi digital membutuhkan berbagai kemampuan.

Programmer.

Desainer.

Analis data.

Spesialis keamanan siber.

Pembuat konten.

Tenaga pemasaran digital.

Pengelola produk.

Ahli hukum teknologi.

Peneliti AI.

Hingga pengusaha berbasis digital.

Reza: Jangan Semua Bermimpi Menjadi Karyawan

Reza juga mendorong mahasiswa melihat kewirausahaan sebagai salah satu pilihan karier.

“Kita membutuhkan pekerjaan, tetapi Indonesia juga membutuhkan orang-orang yang menciptakan pekerjaan. Tidak semua mahasiswa harus menjadi pengusaha, tetapi kampus harus memberi kesempatan kepada mahasiswa yang mempunyai gagasan untuk mencoba membangun usaha,” ujar Reza.

Satuan Mahasiswa ETH memandang kewirausahaan digital mempunyai karakter menarik karena sebagian usaha dapat dimulai dengan modal yang relatif lebih fleksibel dibanding industri konvensional berskala besar.

Namun kemudahan memulai bukan berarti keberhasilan otomatis.

Mahasiswa tetap membutuhkan kemampuan bisnis, disiplin, pemahaman pasar dan kemampuan menghasilkan produk yang benar-benar dibutuhkan pengguna.

Kedaulatan Digital Juga Menjadi Persoalan Generasi Muda

Menjadi pemain digital tidak semata-mata berarti mempunyai perusahaan teknologi.

Indonesia juga perlu memperkuat kemampuan mengelola data, infrastruktur, keamanan siber, kecerdasan artifisial dan talenta digital.

Ketergantungan yang terlalu besar pada teknologi dari luar negeri dapat menciptakan risiko strategis.

Karena itu perguruan tinggi mempunyai posisi penting dalam menghasilkan peneliti dan tenaga profesional yang mampu mengembangkan teknologi di dalam negeri.

Bagi Satuan Mahasiswa ETH, konsep kedaulatan digital perlu diterjemahkan menjadi sesuatu yang konkret bagi mahasiswa:

belajar teknologi, melakukan penelitian, menghasilkan produk, membangun perusahaan, dan melindungi data.

Internet Juga Membawa Risiko

Tingginya konektivitas internet bukan hanya membawa peluang.

Penipuan digital, kebocoran data, disinformasi, deepfake, perundungan daring dan berbagai bentuk kejahatan siber juga menjadi tantangan.

Karena itu kemampuan digital harus berjalan bersama literasi dan etika digital.

Mahasiswa bukan hanya perlu mengetahui bagaimana menggunakan teknologi.

Mahasiswa harus memahami konsekuensi penggunaannya.

Satuan Mahasiswa ETH menilai pendidikan tinggi perlu membangun budaya digital yang menjunjung privasi, keamanan, integritas akademik dan tanggung jawab.

Lima Agenda “Mahasiswa Pencipta Digital”

Sebagai analisis organisasi, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mengusulkan lima agenda: memperkuat keterampilan digital lintas jurusan; membangun inkubator teknologi dan bisnis mahasiswa; menghubungkan penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan industri; memperluas pendidikan keamanan serta etika digital; dan mendorong lahirnya produk digital buatan mahasiswa Indonesia.

Lima agenda tersebut merupakan pandangan organisasi, bukan program resmi pemerintah.

Targetnya sederhana:

Mahasiswa jangan hanya mengetahui teknologi terbaru.

Mahasiswa harus mampu membuat sesuatu dengan teknologi tersebut.

Dari Hambalang untuk Generasi Digital Indonesia

Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang memandang angka 80,6 persen penduduk terkoneksi internet sebagai peluang besar sekaligus tantangan.

Indonesia sudah mempunyai pengguna.

Indonesia mempunyai pasar.

Indonesia mempunyai generasi muda.

Tantangan berikutnya adalah memperbesar jumlah pencipta teknologi dan pelaku ekonomi digital Indonesia.

Reza Prasatria Dharma menegaskan:

“Generasi muda jangan hanya menjadi pasar bagi teknologi dunia. Mahasiswa Indonesia harus berani menjadi pencipta, inovator dan pengusaha yang membangun teknologi untuk kebutuhan bangsa sendiri.”

Menurut Satuan Mahasiswa ETH, transformasi digital baru benar-benar mempunyai arti strategis apabila konektivitas menghasilkan pengetahuan, produktivitas, pekerjaan, inovasi dan kesejahteraan.

banner 336x280