Empat nelayan selamat setelah terombang-ambing di Perairan Krakatau, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang: keselamatan tidak boleh dianggap sepele
Hambalang — Rabu, 5 Agustus 2026, Empat nelayan asal Lempasing, Teluk Betung, Kota Bandar Lampung, berhasil diselamatkan Tim SAR gabungan setelah kapal yang mereka gunakan mengalami kerusakan mesin di Perairan Krakatau, Lampung Selatan. Keempat nelayan tersebut adalah Najiburohman (35), Arman...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang — Rabu, 5 Agustus 2026, Empat nelayan asal Lempasing, Teluk Betung, Kota Bandar Lampung, berhasil diselamatkan Tim SAR gabungan setelah kapal yang mereka gunakan mengalami kerusakan mesin di Perairan Krakatau, Lampung Selatan.
Keempat nelayan tersebut adalah Najiburohman (35), Arman (60), Saiful Bahri (40), dan Marlon (40). Seluruhnya ditemukan dalam keadaan selamat setelah sempat terombang-ambing selama beberapa jam di tengah laut.
Peristiwa bermula ketika para nelayan sedang dalam perjalanan pulang dari kawasan Perairan Krakatau menuju Teluk Betung pada Selasa, 4 Agustus 2026. Sekitar pukul 17.30 WIB, mesin kapal mengalami kerusakan sehingga mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Keluarga nelayan kemudian melaporkan keadaan darurat tersebut kepada Basarnas Lampung sekitar pukul 21.50 WIB. Tim Rescue Pos SAR Bakauheni diberangkatkan menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) 02 pada pukul 22.10 WIB menuju lokasi kejadian.
Setelah melakukan pencarian, tim SAR menemukan keempat nelayan sekitar pukul 01.15 WIB pada Rabu dini hari. Mereka selanjutnya dievakuasi menuju Pulau Krakatau Besar untuk berlindung sambil menunggu kondisi cuaca membaik.
Dua nelayan kemudian dibawa menggunakan RIB menuju Tempat Pelelangan Ikan Muara Piluk dan tiba sekitar pukul 05.15 WIB. Sementara dua nelayan lainnya tetap berada di Pulau Krakatau Besar untuk menjaga kapal yang rusak hingga proses penarikan dilakukan pemilik kapal.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mengapresiasi kesigapan Basarnas dan seluruh unsur Tim SAR gabungan dalam menyelamatkan para nelayan tersebut.
“Keberhasilan penyelamatan ini patut diapresiasi. Respons cepat petugas dan laporan keluarga telah membantu menyelamatkan empat nyawa. Keselamatan nelayan tidak boleh dianggap sepele karena pekerjaan di laut memiliki risiko yang sangat tinggi,” demikian pernyataan Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mengingatkan nelayan agar selalu memeriksa kondisi mesin, bahan bakar, badan kapal, dan perlengkapan keselamatan sebelum berangkat melaut. Pelampung, alat komunikasi, lampu isyarat, kotak pertolongan pertama, serta informasi prakiraan cuaca harus dipastikan tersedia dan berfungsi.
“Pemeriksaan kapal sebelum berlayar harus menjadi kebiasaan. Nelayan juga perlu memiliki alat komunikasi yang dapat menjangkau petugas saat terjadi keadaan darurat. Jangan sampai keterbatasan perlengkapan membuat pertolongan terlambat,” lanjut pernyataan tersebut.
Organisasi itu juga mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait memperluas bantuan alat keselamatan, pelatihan tanggap darurat, asuransi nelayan, serta pemeriksaan kelayakan kapal secara berkala, terutama bagi nelayan kecil yang memiliki keterbatasan biaya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesiapan teknis, pemantauan cuaca, alat komunikasi, dan koordinasi cepat dengan petugas penyelamat merupakan bagian penting dalam melindungi nyawa nelayan saat bekerja di laut.
Sumber fakta: Basarnas Lampung sebagaimana diberitakan detikSumbagsel dan Liputan6.





