Harga kopi global bergejolak, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: lindungi petani dari permainan harga
Hambalang — Sabtu, 5 September 2026, Pergerakan harga kopi global kembali bergejolak pada awal September 2026. Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi harga pembelian biji kopi dari petani Indonesia, terutama jika terjadi penurunan berkepanjangan di pasar internasional. Data perdagangan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang — Sabtu, 5 September 2026, Pergerakan harga kopi global kembali bergejolak pada awal September 2026. Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi harga pembelian biji kopi dari petani Indonesia, terutama jika terjadi penurunan berkepanjangan di pasar internasional.
Data perdagangan menunjukkan harga kopi arabika acuan pada 4 September berada di kisaran 292,88 sen dolar AS per pon. Angka itu turun sekitar 5,96 persen dalam satu bulan dan 24,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Harga kontrak kopi arabika juga tercatat melemah sekitar 8,24 persen dalam sepekan. Sementara itu, kontrak robusta mengalami pergerakan berbeda dengan mencatat penguatan pada perdagangan Jumat setelah sebelumnya sempat tertekan.
Kontrak robusta November 2026 berada di kisaran 3.434 dolar AS per ton pada penutupan perdagangan 4 September. Naik-turunnya harga tersebut menunjukkan pasar kopi masih menghadapi volatilitas yang tinggi.
Di tingkat produsen Indonesia, data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi pada 5 September 2026 mencatat harga kopi robusta di Subang sekitar Rp87.000 per kilogram. Angka ini merupakan data dari satu wilayah pemantauan sehingga tidak dapat dianggap sebagai harga nasional.
Menanggapi kondisi tersebut, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang meminta pemerintah memperkuat perlindungan terhadap petani kopi agar gejolak pasar internasional tidak dimanfaatkan untuk menekan harga di tingkat kebun.
“Harga dunia yang turun sering dijadikan alasan untuk mengurangi harga pembelian dari petani. Namun, ketika harga internasional naik, kenaikannya tidak selalu segera dirasakan petani. Ketimpangan seperti ini harus dihentikan melalui sistem perdagangan yang transparan,” demikian pernyataan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.
Organisasi tersebut menilai petani harus memperoleh informasi harga yang mudah diakses dan diperbarui setiap hari. Informasi itu perlu memuat harga di pasar internasional, harga ekspor, nilai tukar, kualitas biji, biaya pengolahan serta harga pembelian di sentra produksi.
“Petani jangan dibiarkan bernegosiasi tanpa data. Pemerintah harus memastikan timbangan, penentuan mutu dan potongan harga dilakukan secara terbuka agar petani mengetahui nilai sebenarnya dari kopi yang mereka hasilkan,” lanjut Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.
Selain transparansi harga, pemerintah didorong memperkuat koperasi dan kelembagaan petani agar mampu melakukan pengolahan, penyimpanan dan pemasaran bersama. Langkah ini penting supaya petani tidak terpaksa menjual hasil panen ketika harga sedang rendah.
Fasilitas pascapanen seperti mesin pengupas, pengering, gudang, laboratorium mutu dan akses pembiayaan murah juga dinilai perlu diperluas. Peningkatan kualitas dapat membantu petani memasuki pasar kopi spesialti dan memperoleh harga yang lebih baik.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang turut mengingatkan pentingnya memperpendek rantai perdagangan. Kemitraan langsung antara kelompok tani, koperasi, industri pengolahan dan eksportir harus dikembangkan dengan kontrak yang adil serta harga dasar yang mempertimbangkan biaya produksi.
Pergerakan harga kopi dunia dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca di negara produsen utama, proyeksi hasil panen, persediaan, permintaan industri, nilai tukar hingga aktivitas perdagangan berjangka.
“Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi penting dunia. Posisi tersebut harus memberikan kesejahteraan kepada petani, bukan hanya keuntungan bagi pedagang dan industri. Pemerintah perlu hadir memastikan setiap kenaikan nilai kopi dibagikan secara adil sampai ke tingkat kebun,” tutup Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.
Sumber data: ICE Robusta Coffee Futures, Bappebti, dan Trading Economics.





