Harga Impor Naik 14,19 Persen, ETH Dorong Industri Kurangi Ketergantungan Bahan Baku Luar Negeri
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 6 September 2026 Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menyoroti perkembangan terbaru Indeks Harga Impor Indonesia yang meningkat lebih tinggi daripada Indeks Harga Ekspor pada triwulan II-2026. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal penting bagi industri...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 6 September 2026
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menyoroti perkembangan terbaru Indeks Harga Impor Indonesia yang meningkat lebih tinggi daripada Indeks Harga Ekspor pada triwulan II-2026. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal penting bagi industri nasional untuk memperkuat efisiensi, diversifikasi pemasok dan penggunaan bahan baku dalam negeri.
Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 1 September 2026 menunjukkan Indeks Harga Impor (IHM) umum pada triwulan II-2026 naik 14,19 persen dibandingkan triwulan I-2026. Secara tahunan, kenaikannya mencapai 25,45 persen dibandingkan triwulan II-2025.
Pada periode yang sama, Indeks Harga Ekspor Indonesia meningkat 10,92 persen secara kuartalan dan 24,94 persen secara tahunan. Dengan demikian, kenaikan indeks harga impor secara kuartalan lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga ekspor.
Harga Impor Migas Melonjak 40,30 Persen
Tekanan paling besar terjadi pada kelompok migas. BPS mencatat IHM migas triwulan II-2026 meningkat 40,30 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, sedangkan IHM nonmigas naik 9,91 persen. Secara tahunan, masing-masing meningkat 37,97 persen dan 23,10 persen.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai angka tersebut perlu dicermati perusahaan yang struktur produksinya masih bergantung pada bahan baku, komponen, energi maupun barang modal dari luar negeri.
“Kenaikan harga impor harus menjadi alarm bagi dunia usaha sekaligus momentum memperkuat industri pemasok nasional. Indonesia membutuhkan rantai pasok dalam negeri yang semakin kuat agar pengusaha tidak terlalu rentan terhadap perubahan biaya dari luar negeri.”
Kenaikan indeks harga impor tidak berarti seluruh barang impor mengalami kenaikan sebesar persentase yang sama. Dampaknya terhadap masing-masing perusahaan akan berbeda tergantung komoditas, negara pemasok, kurs, kontrak pembelian dan struktur produksinya.
Nilai Impor Juga Tumbuh Cepat
Tekanan tersebut semakin relevan jika dikaitkan dengan perkembangan perdagangan luar negeri Indonesia.
BPS mencatat nilai impor Indonesia selama Januari–Juli 2026 mencapai US$163,33 miliar, meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas mencapai US$137,56 miliar atau meningkat 16,78 persen.
Sementara itu, ekspor Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, meningkat 4,43 persen secara tahunan. Neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus kumulatif US$3,70 miliar, ditopang surplus nonmigas US$22,45 miliar sementara sektor migas mengalami defisit US$18,75 miliar.
ETH Dorong Program Substitusi Bahan Baku
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pembentukan program “ETH National Supplier Linkage” untuk mempertemukan industri pengguna barang impor dengan produsen dan pemasok domestik.
Program tersebut dapat dimulai dengan memetakan barang dan bahan baku yang masih banyak diperoleh dari luar negeri, kemudian mencari perusahaan Indonesia yang memiliki kemampuan memproduksi substitusinya.
“Substitusi impor tidak boleh sekadar menjadi slogan. Pengusaha membutuhkan pemasok dalam negeri yang mampu memenuhi kualitas, harga, volume dan kontinuitas pasokan. Di sinilah organisasi pengusaha dapat mengambil peran mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan produsen nasional.”
UMKM Bisa Menjadi Pemasok Industri Besar
Menurut Asosiasi, kebijakan penguatan rantai pasok nasional sekaligus membuka peluang besar bagi UMKM.
Perusahaan kecil dan menengah yang mampu memenuhi spesifikasi industri dapat diarahkan menjadi pemasok komponen, kemasan, bahan pendukung, jasa pemeliharaan, logistik maupun kebutuhan operasional perusahaan besar.
Karena itu, ETH mendorong pembangunan database pemasok nasional berdasarkan sektor, lokasi, kapasitas produksi dan sertifikasi.
Tekanan Biaya Produksi Perlu Diantisipasi
Data BPS lainnya menunjukkan Indeks Harga Produsen sembilan sektor pada triwulan II-2026 meningkat 2,83 persen dibandingkan triwulan sebelumnya dan 5,62 persen secara tahunan. Pada industri pengolahan, kenaikannya tercatat 2,57 persen secara kuartalan dan 4,94 persen secara tahunan.
Asosiasi menilai kombinasi perkembangan harga produsen, harga impor dan kondisi energi global perlu menjadi dasar perusahaan melakukan mitigasi biaya.
“Pengusaha Indonesia harus semakin kuat dari sisi rantai pasok. Ketika pemasok nasional tumbuh, manfaatnya berlapis: ketergantungan impor dapat dikurangi, UMKM memperoleh pasar, industri mendapatkan alternatif pemasok, investasi meningkat dan lapangan kerja tercipta di dalam negeri.”
ETH Usulkan 5 Agenda Penguatan Industri
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong lima langkah: pemetaan ketergantungan bahan baku impor; pencarian pemasok domestik alternatif; business matching industri besar dengan UMKM; dukungan pembiayaan bagi perusahaan yang meningkatkan kapasitas produksi; serta pendampingan standardisasi agar produk pemasok nasional memenuhi spesifikasi industri.
Melalui agenda tersebut, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang ingin mengambil posisi sebagai penghubung kebutuhan industri dengan kemampuan pengusaha nasional, sehingga tekanan harga impor sekaligus dapat menjadi momentum memperkuat basis produksi Indonesia.





