EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

El Niño tekan proyeksi produksi beras, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: selamatkan sawah dan penghasilan petani

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang — Kamis, 10 September 2026 Ancaman El Niño mulai memberikan tekanan terhadap produksi pertanian nasional. Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi beras Indonesia pada Januari–Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton, turun tipis 0,08 persen dibandingkan sekitar 31,44 juta ton pada...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang — Kamis, 10 September 2026 Ancaman El Niño mulai memberikan tekanan terhadap produksi pertanian nasional. Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi beras Indonesia pada Januari–Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton, turun tipis 0,08 persen dibandingkan sekitar 31,44 juta ton pada periode yang sama tahun 2025.

Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling juga diperkirakan mencapai 54,52 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,08 persen. Pemerintah menyatakan penurunan tersebut masih relatif kecil dan persediaan pangan nasional berada dalam kondisi aman.

banner 468x60

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan penurunan 0,08 persen setara dengan sekitar 30 ribu ton jika dihitung dari basis produksi beras nasional sekitar 34,7 juta ton. Pemerintah juga menyebut Indonesia masih memiliki surplus beras yang dapat menjaga kestabilan pasokan.

Meski demikian, angka produksi untuk Oktober 2026 masih berstatus potensi atau proyeksi, bukan hasil akhir. Realisasinya dapat berubah mengikuti kondisi tanaman, ketersediaan air, perkembangan cuaca dan hasil panen sampai Oktober.

Untuk mengurangi dampak kekeringan, Kementerian Pertanian menjalankan pompanisasi, memperkuat jaringan irigasi, meningkatkan produktivitas melalui teknologi budidaya serta menyiapkan benih yang lebih tahan terhadap kekurangan air.

Menanggapi kondisi tersebut, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mengingatkan bahwa penurunan produksi nasional yang terlihat kecil secara persentase dapat memberikan dampak besar kepada petani di daerah yang mengalami kekeringan.

“Penurunan 0,08 persen mungkin terlihat kecil dalam angka nasional, tetapi bagi petani yang sawahnya gagal tanam atau gagal panen, kerugiannya dapat mencapai seluruh penghasilan satu musim. Pemerintah harus melihat keadaan sampai ke tingkat keluarga petani,” demikian pernyataan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.

Organisasi tersebut meminta pemerintah memprioritaskan wilayah yang mulai mengalami penurunan debit air. Pompa, bahan bakar, sumur, perbaikan saluran irigasi dan bantuan benih perlu disalurkan sebelum tanaman mengalami kerusakan berat.

“Sarana pompanisasi harus sampai ke lokasi yang benar-benar membutuhkan dan dapat langsung dioperasikan. Jangan sampai pompa tersedia, tetapi tidak ada sumber air, bahan bakar, operator atau saluran untuk mengalirkannya ke sawah,” lanjut Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.

Selain perlindungan terhadap produksi, pemerintah diminta menyiapkan perlindungan penghasilan bagi petani yang terdampak. Keringanan pembayaran kredit usaha, bantuan benih untuk penanaman kembali dan kemudahan klaim asuransi pertanian dinilai penting untuk mencegah petani terjerat utang.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang juga meminta pemerintah daerah dan penyuluh pertanian melakukan pendataan terbuka terhadap luas lahan yang mengalami kekeringan, tanaman yang terancam gagal panen, kebutuhan air serta jumlah keluarga petani terdampak.

Data lapangan tersebut diperlukan agar kebijakan tidak hanya berpedoman pada angka produksi nasional. Pemerintah dapat menentukan prioritas bantuan dan mengevaluasi keberhasilan program mitigasi berdasarkan kondisi nyata di setiap daerah.

Pemerintah juga telah memperpanjang program bantuan beras bagi lebih dari 33 juta penerima hingga Desember 2026. Perpanjangan selama Oktober–Desember diperkirakan membutuhkan sekitar 997.200 ton beras yang akan disalurkan melalui Perum Bulog.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menilai pengamanan pasokan untuk masyarakat harus berjalan bersama perlindungan terhadap petani sebagai produsen. Stabilitas pangan tidak boleh dicapai dengan membiarkan petani menanggung sendiri kerugian akibat iklim ekstrem.

“Ketahanan pangan harus dimulai dari ketahanan petaninya. Sawah harus diselamatkan, biaya produksi harus dilindungi dan hasil panen harus dibeli dengan harga yang layak,” tutup Satuan Petani Elang Tiga Hambalang

Sumber fakta utama: BRMP Padi Kementerian Pertanian dan Reuters.

banner 336x280