EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

PM-AAS diklaim tingkatkan panen hingga 13 ton per hektare, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: buktikan manfaatnya di lahan petani kecil

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang — Kamis, 10 September 2026 Kementerian Pertanian memperkenalkan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System atau PM-AAS sebagai metode untuk meningkatkan produktivitas padi tanpa menambah luas lahan. Hasil pengujian di sejumlah lokasi percontohan diklaim mencapai 11 hingga 13 ton per hektare. Menteri...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang — Kamis, 10 September 2026 Kementerian Pertanian memperkenalkan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System atau PM-AAS sebagai metode untuk meningkatkan produktivitas padi tanpa menambah luas lahan. Hasil pengujian di sejumlah lokasi percontohan diklaim mencapai 11 hingga 13 ton per hektare.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan metode yang diuji selama kurang lebih dua tahun tersebut mampu meningkatkan hasil panen hingga dua kali lipat dibandingkan pola budidaya konvensional.

banner 468x60

Produktivitas padi yang sebelumnya berada pada kisaran 5–5,5 ton per hektare disebut dapat meningkat menjadi 11, 12, bahkan 13 ton per hektare. Peningkatan tersebut diperoleh melalui pengaturan jarak tanam dan penambahan populasi tanaman dalam satu hektare.

PM-AAS juga menggunakan metode tanam langsung atau direct seeding. Benih ditanam langsung di lahan tanpa melalui proses persemaian dan pemindahan bibit sehingga waktu budidaya dapat dipersingkat.

Kementerian Pertanian menyatakan peningkatan populasi tanaman membutuhkan tambahan biaya benih, pupuk dan kebutuhan budidaya sekitar Rp2 juta per hektare. Pemerintah memperkirakan tambahan penerimaan kotor petani dapat mencapai Rp30 juta hingga Rp35 juta apabila produktivitas meningkat sesuai hasil percontohan.

Perhitungan tersebut menggunakan Harga Pembelian Pemerintah gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Produksi lima ton bernilai kotor sekitar Rp32,5 juta, sedangkan produksi sepuluh ton bernilai sekitar Rp65 juta per hektare, sebelum dikurangi seluruh biaya usaha tani.

Pemerintah menargetkan penerapan PM-AAS pada sedikitnya satu juta hektare lahan pada 2027. Subsidi benih disiapkan sebagai salah satu instrumen untuk memperluas penerapan metode tersebut.

Menanggapi rencana tersebut, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang meminta pemerintah tidak hanya menjadikan hasil di lahan percontohan sebagai dasar untuk mengklaim keberhasilan secara nasional.

“Produktivitas hingga 13 ton per hektare merupakan hasil yang menarik, tetapi harus dibuktikan di lahan petani kecil dengan kondisi tanah, air, cuaca dan kemampuan modal yang berbeda-beda. Hasil demfarm tidak boleh langsung dianggap pasti terjadi di seluruh daerah,” demikian pernyataan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.

Organisasi tersebut menilai penerapan PM-AAS perlu diawali dengan pengujian terbuka di setiap wilayah. Petani harus memperoleh penjelasan mengenai kebutuhan benih, pupuk, air, alat pertanian, tenaga kerja dan biaya produksi secara keseluruhan.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang juga meminta pemerintah menjelaskan apakah perkiraan tambahan biaya Rp2 juta per hektare telah memperhitungkan seluruh komponen, termasuk pengolahan lahan, pengendalian hama, bahan bakar, sewa alat dan biaya panen.

“Yang perlu dihitung bukan hanya penerimaan kotor, melainkan keuntungan bersih petani setelah seluruh biaya dikeluarkan. Produktivitas tinggi belum tentu meningkatkan kesejahteraan apabila biaya produksi ikut melonjak atau harga gabah turun ketika panen berlangsung,” lanjut organisasi tersebut.

Ketersediaan air juga menjadi perhatian karena peningkatan jumlah tanaman berpotensi memengaruhi kebutuhan irigasi. Penerapan metode baru di tengah ancaman El Niño harus disesuaikan dengan daya dukung sumber air di masing-masing daerah.

Selain itu, penambahan populasi tanaman perlu disertai pengawasan terhadap risiko hama dan penyakit. Jarak tanam yang lebih rapat harus diuji agar tidak menimbulkan persoalan baru di lahan dengan tingkat kelembapan dan karakter lingkungan tertentu.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang meminta petani dilibatkan sejak tahap perencanaan, pengujian hingga evaluasi. Hasil panen, biaya produksi dan kendala di setiap lokasi percontohan perlu diumumkan secara terbuka agar petani dapat mengambil keputusan berdasarkan data.

“Teknologi pertanian harus mempermudah kerja, menekan biaya dan menaikkan pendapatan bersih. Petani jangan hanya dijadikan angka dalam target satu juta hektare,” tegas Satuan Petani Elang Tiga Hambalang.

Organisasi tersebut berharap pemerintah menyediakan penyuluh, alat tanam, benih berkualitas, akses pembiayaan dan jaminan pembelian gabah. Pendampingan perlu dilakukan selama beberapa musim agar keberhasilan metode tidak hanya dinilai dari satu kali panen.

Jika penerapannya terbukti menguntungkan dalam berbagai kondisi lahan, PM-AAS berpotensi meningkatkan produksi beras tanpa membuka areal baru. Namun, hasil akhirnya tetap harus diukur melalui peningkatan pendapatan bersih dan berkurangnya risiko usaha yang ditanggung petani.

Sumber fakta utama: BRMP Kementerian Pertanian.

banner 336x280