ASEAN Percepat Ekonomi Digital, ETH Dorong UMKM Manfaatkan Logistik dan Pembiayaan Ekspor untuk Tembus Pasar Global
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 21 September 2026. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong UMKM dan perusahaan nasional mempersiapkan diri menghadapi semakin terintegrasinya perdagangan digital ASEAN. Dorongan tersebut relevan dengan perkembangan terbaru dalam rangkaian Pertemuan ke-58 Menteri Ekonomi ASEAN...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 21 September 2026. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong UMKM dan perusahaan nasional mempersiapkan diri menghadapi semakin terintegrasinya perdagangan digital ASEAN. Dorongan tersebut relevan dengan perkembangan terbaru dalam rangkaian Pertemuan ke-58 Menteri Ekonomi ASEAN (AEM) di Filipina, yang berlangsung hingga 22 September 2026.
Kementerian Perdagangan RI hari ini, 21 September 2026, memublikasikan hasil pertemuan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri dengan Presiden FedEx Asia Pasifik Salil Chari. Pertemuan berlangsung di sela rangkaian AEM dan membahas antara lain ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), penyederhanaan proses ekspor-impor, konektivitas logistik, pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas serta akses UMKM menuju pasar internasional.
Ada Rencana Dukungan Pembiayaan Ekspor bagi UMKM
Salah satu perkembangan yang penting bagi pengusaha adalah keterangan Kemendag bahwa dalam pertemuan tersebut, FedEx menyampaikan rencana meluncurkan program untuk memperluas dukungan pembiayaan dan menyediakan kredit ekspor dengan biaya yang lebih terjangkau, sehingga UMKM semakin mudah memasuki pasar internasional. Ini masih berupa rencana yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, bukan program pembiayaan yang saya nyatakan sudah tersedia bagi seluruh
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang akses pasar, logistik dan pembiayaan perlu dipertemukan dalam satu ekosistem.
“Banyak UMKM Indonesia mempunyai produk yang layak dijual ke luar negeri, tetapi masih menghadapi persoalan mencari buyer, pembiayaan dan biaya logistik. ETH mendorong agar ketiga persoalan tersebut diselesaikan secara terintegrasi sehingga pengusaha dapat bergerak dari produk lokal menuju transaksi ekspor.”
DEFA Berpotensi Membuka Jalan Perdagangan Digital ASEAN
Kemendag menyebut para Menteri Ekonomi ASEAN telah membahas pentingnya koordinasi dalam perundingan ASEAN DEFA, dengan mempertimbangkan tingkat kesiapan digital yang berbeda di antara negara anggota.
Dalam pertemuan dengan Kemendag, FedEx berpandangan bahwa implementasi DEFA diharapkan dapat menyederhanakan proses ekspor serta membantu UMKM Indonesia menjangkau pasar ASEAN dengan lebih mudah.
Bagi pengusaha Indonesia, perkembangan tersebut perlu diantisipasi melalui peningkatan kemampuan digital, standardisasi produk, penguasaan perdagangan lintas negara dan efisiensi logistik.
ETH Dorong Pembentukan “Export & Logistics Center”
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pembentukan ETH Export & Logistics Center untuk membantu pengusaha yang ingin memasuki pasar internasional.
Program tersebut dapat mengintegrasikan kurasi produk siap ekspor, pencarian buyer dan distributor, katalog internasional, informasi negara tujuan, perhitungan biaya logistik, pendampingan dokumen ekspor serta akses kepada sumber pembiayaan perdagangan yang resmi.
“ETH ingin membangun jalur yang jelas: pengusaha mempunyai produk, produknya dipersiapkan, buyer ditemukan, pembiayaan tersedia, logistik dihitung, kemudian barang benar-benar dikirim. Ukuran keberhasilannya harus transaksi ekspor.”
FTA Harus Dimanfaatkan Pengusaha
Pertemuan Kemendag dan FedEx juga membahas peningkatan pemanfaatan berbagai perjanjian perdagangan bebas Indonesia, termasuk untuk memperluas akses menuju Afrika dan negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC). Kemendag menekankan perlunya kolaborasi pemerintah dan sektor swasta untuk menjaga ketahanan rantai pasok di tengah dinamika geopolitik.
ETH menilai perjanjian perdagangan hanya akan memberikan manfaat optimal apabila informasi tersebut diterjemahkan menjadi peluang bisnis yang mudah dipahami pengusaha.
“Pengusaha tidak cukup hanya diberi informasi bahwa Indonesia mempunyai perjanjian perdagangan. Harus dijelaskan produk apa yang mempunyai peluang, negara mana yang membutuhkan, siapa calon buyernya dan bagaimana cara pengusaha memasuki pasar tersebut.”
Target ETH: Pengusaha Daerah Menjadi Eksportir
ETH mendorong pola pendampingan:
Produk lokal → standardisasi → katalog digital → pemetaan pasar → buyer → pembiayaan ekspor → logistik → kontrak → pengiriman → transaksi berulang.
Dengan pola tersebut, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang ingin mengambil peran sebagai penghubung antara UMKM, pemerintah, perbankan/lembaga pembiayaan, perusahaan logistik dan buyer internasional.
“Targetnya adalah semakin banyak pengusaha daerah berubah menjadi eksportir. Produk Indonesia harus mempunyai akses yang semakin luas ke ASEAN, Timur Tengah, Afrika dan pasar internasional lainnya.”





