Agrinas Palma dorong agroindustri untuk bioenergi, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: petani sawit jangan hanya menjadi pemasok bahan baku
Hambalang — Jumat, 4 September 2026, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menilai sektor agroindustri memiliki peran penting dalam menjamin ketersediaan bahan baku bioenergi nasional. Penguatan produktivitas, hilirisasi, dan pengelolaan perkebunan berkelanjutan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus menjaga pasokan pangan....
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang — Jumat, 4 September 2026, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menilai sektor agroindustri memiliki peran penting dalam menjamin ketersediaan bahan baku bioenergi nasional. Penguatan produktivitas, hilirisasi, dan pengelolaan perkebunan berkelanjutan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus menjaga pasokan pangan.
Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, menyampaikan hal tersebut dalam rangkaian The 12th Indonesia EBTKE Conference and Exhibition 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Berdasarkan analisis Agrinas Palma, kebutuhan minyak kelapa sawit mentah atau CPO Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 104 juta ton pada 2045. Komoditas tersebut akan digunakan untuk biodiesel, pangan, ekspor, produk turunan, dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, produktivitas perkebunan sawit dinilai perlu ditingkatkan dari sekitar tiga ton menjadi 4,4 ton CPO per hektare. Agrinas Palma juga menyebut kebutuhan penambahan areal sekitar 7,4 juta hektare.
Strategi yang ditawarkan meliputi percepatan Peremajaan Sawit Rakyat, penerapan pola tumpang sari tanaman pangan, mekanisasi, digitalisasi, praktik budidaya yang baik, serta penguatan penelitian dan inovasi.
Menanggapi rencana tersebut, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mengingatkan agar pengembangan bioenergi memberikan manfaat langsung dan adil kepada petani sawit rakyat.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang:
“Kami mendukung pengembangan agroindustri dan bioenergi nasional. Namun, petani sawit rakyat jangan hanya ditempatkan sebagai pemasok bahan baku murah. Mereka harus memperoleh harga yang adil, akses teknologi, bantuan peremajaan, pembiayaan, dan kesempatan memiliki bagian dalam kegiatan hilirisasi.”
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menilai peningkatan produksi sebaiknya diprioritaskan melalui perbaikan produktivitas kebun yang sudah ada. Langkah tersebut perlu dilakukan dengan menyediakan bibit unggul, pupuk, pelatihan, pendampingan teknis, serta kepastian pasar bagi petani.
Organisasi itu juga meminta agar rencana perluasan areal dikaji dengan sangat hati-hati. Perlindungan hutan, lahan pangan, kawasan bernilai konservasi tinggi, serta hak masyarakat setempat harus menjadi pertimbangan utama.
“Peningkatan kebutuhan CPO tidak boleh menjadi alasan untuk membuka lahan tanpa kendali. Pemerintah harus memastikan peningkatan produksi berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan dan tidak memicu konflik agraria,” lanjut Satuan Petani Elang Tiga Hambalang dalam pernyataannya.
Selain itu, program Peremajaan Sawit Rakyat harus dipercepat melalui prosedur yang lebih sederhana dan transparan. Petani juga memerlukan jaminan pendapatan selama tanaman yang diremajakan belum menghasilkan.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah, BUMN, koperasi, perbankan, dan industri pengolahan membangun kemitraan yang setara. Koperasi petani perlu dilibatkan dalam pengolahan hasil, distribusi, serta pengembangan produk turunan agar nilai tambah tidak hanya dinikmati perusahaan besar.
Dengan tata kelola yang transparan dan berkelanjutan, pengembangan bioenergi dapat menjadi peluang untuk memperkuat ketahanan energi, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di sentra perkebunan.
Sumber fakta utama: ANTARA, 4 September 2026





