BUMN Datangkan Kerbau Hidup dari Australia, Satuan Petani ETH: Stabilisasi Harga Daging Jangan Melemahkan Peternak Lokal
SATUAN PETANI ELANG TIGA HAMBALANG EDISI SELASA, 13 OKTOBER 2026 Kategori: PETERNAK — Impor Kerbau, Peternakan Sapi Potong, Perlindungan Peternak Rakyat, Harga Daging, Kesehatan Hewan, dan Ketahanan Pangan Nasional. PT Berdikari (Persero), Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di sektor...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
SATUAN PETANI ELANG TIGA HAMBALANG
EDISI SELASA, 13 OKTOBER 2026
Kategori: PETERNAK — Impor Kerbau, Peternakan Sapi Potong, Perlindungan Peternak Rakyat, Harga Daging, Kesehatan Hewan, dan Ketahanan Pangan Nasional.
PT Berdikari (Persero), Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di sektor peternakan, menerima kedatangan perdana kerbau hidup jenis water buffalo dari Australia pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Kedatangan tersebut diumumkan pada Senin, 12 Oktober 2026, sebagai bagian dari strategi menyediakan alternatif pasokan protein hewani di tengah tingginya harga sapi hidup.
General Manager Ruminansia Business PT Berdikari, Akhmad Johari, menyampaikan bahwa impor kerbau hidup merupakan pengembangan baru dalam portofolio bisnis perusahaan.
Menurut pihak Berdikari, kehadiran kerbau asal Australia bertujuan melengkapi pasokan protein hewani nasional, bukan menggantikan sapi maupun hasil produksi peternak lokal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang bersumber dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, populasi kerbau Indonesia pada 2025 tercatat sementara sebanyak 755.468 ekor.
Aceh merupakan salah satu daerah dengan populasi kerbau terbesar, yakni 108.522 ekor, disusul Nusa Tenggara Barat sebanyak 101.275 ekor dan Sumatera Barat sebanyak 82.660 ekor.
Jumlah kerbau yang didatangkan PT Berdikari pada pengiriman perdana tersebut belum disebutkan dalam keterangan perusahaan yang dipublikasikan.
Perkembangan ini menjadi perhatian dalam upaya menyeimbangkan kebutuhan stabilisasi harga daging dengan perlindungan dan pengembangan peternakan rakyat Indonesia
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Selasa, 13 Oktober 2026.
Kebijakan mendatangkan kerbau hidup dari Australia sebagai alternatif pasokan protein hewani nasional kembali memunculkan persoalan penting mengenai keseimbangan antara stabilisasi harga pangan dan keberlangsungan usaha peternak rakyat Indonesia.
Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, masuknya ternak dari luar negeri diharapkan dapat membantu menyediakan daging dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
Namun kebijakan tersebut juga membutuhkan pengawasan dan evaluasi agar tidak menimbulkan tekanan baru terhadap peternak sapi dan kerbau dalam negeri.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa keberhasilan ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari melimpahnya pasokan atau turunnya harga pangan.
Ketahanan pangan harus dibangun melalui keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi konsumen, keberlanjutan usaha peternak, dan peningkatan kemampuan produksi nasional.
PT Berdikari Datangkan Kerbau Hidup dari Australia
PT Berdikari (Persero) menerima kedatangan perdana kerbau hidup jenis water buffalo dari Australia pada Minggu sore, 11 Oktober 2026.
General Manager Ruminansia Business PT Berdikari, Akhmad Johari, dalam keterangan yang dipublikasikan pada Senin, 12 Oktober 2026, menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari pengembangan bisnis ruminansia perusahaan.
Menurut Johari, tingginya harga sapi hidup menjadi salah satu alasan perusahaan mencari alternatif sumber protein hewani yang lebih kompetitif.
Kehadiran kerbau hidup diharapkan dapat menambah pilihan komoditas bagi masyarakat dan mendukung keseimbangan pasokan di pasar domestik.
Manajemen PT Berdikari juga menegaskan bahwa langkah tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan produksi peternak lokal.
Perusahaan berharap pengembangan bisnis tersebut dapat membuka peluang kerja sama dengan pelaku usaha peternakan dalam negeri.
Satuan Petani ETH: Jangan Sampai Kebijakan Impor Mengorbankan Peternak Rakyat
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung upaya pemerintah menjaga ketersediaan protein hewani bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Namun organisasi menilai kebijakan impor ternak harus mempunyai dasar kebutuhan yang jelas, perencanaan distribusi yang terukur, serta memperhatikan kemampuan produksi dalam negeri.
Peternak sapi dan kerbau rakyat menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya biaya pakan, keterbatasan akses pembibitan, biaya pemeliharaan, pelayanan kesehatan hewan, hingga panjangnya rantai pemasaran.
Apabila kebijakan penambahan pasokan impor tidak mempertimbangkan kondisi tersebut, terdapat risiko harga jual ternak lokal mengalami tekanan.
Namun risiko tersebut perlu diuji melalui data. Kedatangan kerbau impor tidak dengan sendirinya membuktikan terjadinya penurunan harga ternak domestik.
Karena itu, Satuan Petani ETH memandang pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap dampak kebijakan berdasarkan perkembangan harga, volume pasokan, dan kondisi perdagangan yang sebenarnya.
Organisasi juga menilai perlindungan peternak tidak harus dilakukan dengan menutup perdagangan internasional.
Kebijakan yang dibutuhkan adalah pengaturan perdagangan yang terukur, transparan, sesuai hukum, serta diimbangi peningkatan daya saing peternak Indonesia.
Potensi Peternakan Kerbau Nasional Harus Diperkuat
Indonesia mempunyai potensi pengembangan peternakan kerbau yang tersebar di berbagai provinsi.
Data sementara BPS tahun 2025 menunjukkan populasi kerbau nasional sebanyak 755.468 ekor.
Sejumlah wilayah seperti Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan memiliki populasi kerbau yang dapat menjadi modal pengembangan peternakan rakyat.
Satuan Petani ETH memandang bahwa potensi tersebut harus menjadi perhatian dalam penyusunan strategi peningkatan produksi daging nasional.
Program pengembangan kerbau dapat diarahkan melalui perbaikan pembibitan, penguatan reproduksi, penyediaan pakan hijauan, pengendalian penyakit, serta pembangunan jaringan pemasaran.
Selain itu, peternak perlu mendapatkan akses terhadap teknologi pemeliharaan yang dapat meningkatkan produktivitas.
Pengembangan ternak lokal juga perlu memperhatikan karakteristik wilayah dan kebiasaan usaha peternakan masyarakat.
Tidak semua daerah mempunyai kondisi lingkungan, sumber pakan, dan sistem pemeliharaan yang sama.
Karena itu, kebijakan pengembangan peternakan harus disesuaikan dengan potensi setiap daerah.
Satuan Petani ETH mendorong pemerintah untuk menjadikan kawasan sentra peternakan kerbau sebagai bagian penting dalam strategi pembangunan protein hewani nasional.
Kesehatan Hewan dan Pengawasan Karantina Wajib Menjadi Prioritas
Pemasukan ternak hidup dari luar negeri juga membawa tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan kesehatan hewan nasional.
Setiap hewan yang masuk harus memenuhi persyaratan karantina serta standar kesehatan hewan yang berlaku.
Badan Karantina Indonesia sebelumnya menegaskan bahwa pemasukan ternak dari luar negeri memerlukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk memastikan kesehatan hewan serta mencegah masuknya penyakit hewan karantina.
Pengawasan tersebut menjadi bagian penting dalam melindungi populasi ternak domestik.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menilai bahwa pengawasan kesehatan hewan tidak boleh dianggap sebagai prosedur administratif semata.
Kegagalan pengendalian penyakit berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi, mengganggu perdagangan ternak antardaerah, serta membebani peternak rakyat.
Karena itu, seluruh tahapan pemasukan ternak perlu dilaksanakan secara ketat sesuai ketentuan.
Pengawasan juga harus mencakup pengangkutan, fasilitas penampungan, kondisi kesehatan ternak, dan ketertelusuran pergerakannya setelah dinyatakan memenuhi persyaratan karantina.
Organisasi mendukung penguatan koordinasi antara Badan Karantina Indonesia, Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dalam menjaga kesehatan ternak nasional.
BUMN Peternakan Harus Menjadi Penggerak Pemberdayaan Peternak Lokal
Sebagai perusahaan negara yang bergerak dalam sektor peternakan, PT Berdikari mempunyai peluang strategis untuk membantu pembangunan ekosistem usaha peternakan nasional.
Satuan Petani ETH menilai peran BUMN sebaiknya tidak hanya diarahkan kepada pengadaan dan perdagangan komoditas peternakan.
BUMN juga dapat memperkuat hubungan produksi antara peternak rakyat, koperasi, industri pengolahan, dan jaringan distribusi pangan.
Pengembangan kemitraan pembibitan dan penggemukan ternak dapat membantu peternak meningkatkan kapasitas produksi.
Selain itu, kemitraan pemasaran dapat memberikan kepastian pembeli dan memperluas akses peternak terhadap pasar.
Organisasi memandang bahwa skema kemitraan harus disusun secara terbuka dan memberikan keuntungan yang wajar bagi seluruh pihak.
Peternak lokal tidak seharusnya hanya menjadi pihak yang menerima dampak perubahan pasar.
Mereka perlu dilibatkan secara aktif sebagai pelaku utama dalam pembangunan produksi daging nasional.
Melalui pendekatan tersebut, kegiatan usaha BUMN dapat berjalan bersama peningkatan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi perdesaan.
EMPAT USULAN STRATEGIS SATUAN PETANI ELANG TIGA HAMBALANG
1. Evaluasi Kebutuhan Impor dan Dampaknya terhadap Peternak Lokal
Satuan Petani ETH mengusulkan agar Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional dan kementerian terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan pemasukan ternak hidup.
Evaluasi harus didasarkan pada data produksi domestik, populasi ternak, kebutuhan konsumsi, perkembangan harga, dan kapasitas pasokan dalam negeri.
Pemerintah juga perlu memantau perubahan harga jual sapi dan kerbau di tingkat peternak setelah kebijakan penambahan pasokan dilaksanakan.
Hasil pemantauan sebaiknya dipublikasikan secara berkala untuk memastikan kebijakan berjalan transparan dan dapat dievaluasi masyarakat.
2. Perkuat Pembibitan dan Penggemukan Sapi serta Kerbau Rakyat
Pemerintah perlu mempercepat pengembangan kawasan pembibitan dan penggemukan ternak melalui kelompok peternak dan koperasi.
Program tersebut harus mencakup penyediaan bibit berkualitas, penguatan layanan reproduksi, pengembangan pakan lokal, serta pendampingan teknis.
Daerah yang mempunyai potensi populasi kerbau besar dapat diberikan prioritas sesuai kesiapan sumber daya dan kebutuhan pengembangannya.
Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kemampuan Indonesia menyediakan daging secara mandiri.
3. Tingkatkan Pengawasan Kesehatan Ternak dan Karantina
Satuan Petani ETH mendorong Badan Karantina Indonesia bersama Kementerian Pertanian memastikan seluruh pemasukan ternak hidup memenuhi persyaratan kesehatan hewan.
Pengawasan harus dilaksanakan berdasarkan prosedur pemeriksaan dokumen, pemeriksaan kesehatan, pengujian laboratorium, dan tindakan karantina sesuai ketentuan.
Pemerintah juga perlu memperkuat sistem pelaporan dan respons dini terhadap penyakit hewan di daerah.
Langkah tersebut diperlukan untuk melindungi populasi ternak nasional sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat.
4. Wajibkan Penguatan Kemitraan BUMN dengan Peternak Dalam Negeri
Satuan Petani ETH mengusulkan agar pengembangan bisnis peternakan PT Berdikari diimbangi program kemitraan yang terukur dengan peternak rakyat.
Kerja sama dapat mencakup pembibitan, penggemukan, pengadaan pakan, peningkatan kapasitas peternak, dan pembelian hasil ternak lokal.
Pemerintah perlu mendorong model kemitraan yang transparan, profesional, dan dapat diakses oleh koperasi maupun kelompok peternak kecil.
Keberhasilan kemitraan harus dinilai melalui peningkatan produktivitas, volume pembelian ternak lokal, serta keuntungan ekonomi yang diterima peternak.
PENEGASAN SIKAP SATUAN PETANI ELANG TIGA HAMBALANG
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung penuh agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, menjaga stabilitas harga daging, serta meningkatkan kemampuan masyarakat memperoleh pangan bergizi.
Namun dukungan terhadap stabilisasi pangan harus berjalan seimbang dengan perlindungan dan pemberdayaan peternak rakyat Indonesia.
Organisasi memandang bahwa impor ternak dapat menjadi salah satu instrumen pengelolaan pasokan apabila didasarkan pada kebutuhan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Akan tetapi, kebijakan tersebut tidak boleh menggantikan upaya jangka panjang untuk membangun kemandirian produksi nasional.
Satuan Petani ETH mendorong pemerintah menjadikan penguatan sapi dan kerbau lokal, peningkatan pembibitan, efisiensi pakan, pelayanan kesehatan hewan, serta kepastian pasar sebagai prioritas pembangunan peternakan.
Sebagai organisasi kontrol sosial yang independen dan konstruktif, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang berkomitmen mendukung kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat luas sekaligus mendorong pengawasan terhadap pelaksanaannya.
Ketahanan pangan nasional harus dibangun di atas kemampuan produksi dalam negeri yang kuat, peternak yang sejahtera, perdagangan yang sehat, serta harga pangan yang terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Peternak rakyat harus menjadi bagian utama pembangunan peternakan nasional, bukan sekadar pihak yang menghadapi persaingan dari pasokan luar negeri.
SATUAN PETANI ELANG TIGA HAMBALANG
BERSATU • BERJUANG • SEJAHTERA





