EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Ekspor Indonesia Capai US$193,64 Miliar, Asosiasi Pengusaha ETH Dorong UMKM dan Koperasi Ambil Porsi Lebih Besar di Pasar Global

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT, 2 OKTOBER 2026 — Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali mencatat perkembangan positif. Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT, 2 OKTOBER 2026 — Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali mencatat perkembangan positif. Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar, tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja ekspor nonmigas tumbuh lebih tinggi, yakni 5,48 persen menjadi US$185,63 miliar. Khusus Agustus 2026, nilai ekspor mencapai US$26,61 miliar, meningkat 6,72 persen secara tahunan, sementara ekspor nonmigas naik 7,23 persen menjadi US$25,62 miliar.

banner 468x60

Di sisi lain, impor Januari–Agustus 2026 mencapai US$186,39 miliar, naik 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia selama delapan bulan pertama 2026 masih membukukan surplus US$7,25 miliar, yang berasal dari surplus nonmigas US$28,54 miliar dan defisit migas US$21,29 miliar.

Khusus Agustus 2026, neraca perdagangan mencatat surplus sekitar US$3,55 miliar.

Bagi Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang, angka tersebut menunjukkan pasar global masih menawarkan ruang yang besar bagi produk Indonesia. Namun peluang ekspor seharusnya tidak hanya dinikmati perusahaan besar.

UMKM, koperasi, produsen daerah, petani, nelayan, perajin, serta industri kecil perlu mendapatkan akses yang semakin luas agar pertumbuhan ekspor memberikan manfaat ekonomi hingga ke daerah.

UMKM Masih Menghadapi Banyak Hambatan

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai salah satu tantangan terbesar UMKM untuk memasuki pasar ekspor adalah kesiapan bisnis.

Produk yang bagus belum tentu otomatis dapat diekspor. Pelaku usaha harus memenuhi berbagai tuntutan mulai dari kualitas yang konsisten, kapasitas produksi, legalitas usaha, kemasan, sertifikasi, ketertelusuran produk hingga kemampuan memenuhi pesanan dalam jumlah tertentu.

Masalah lain adalah informasi pasar.

Tidak semua pelaku UMKM mengetahui produk apa yang sedang dibutuhkan di negara tujuan, harga pasar yang kompetitif, standar yang berlaku, cara mendapatkan pembeli, hingga mekanisme pembayaran yang aman.

Karena itu, program peningkatan ekspor perlu bergeser dari sekadar seminar menuju pendampingan transaksi nyata.

Asosiasi Pengusaha ETH Usulkan “Klinik Ekspor Daerah”

Sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dan pemberian solusi bagi dunia usaha, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mengusulkan pembentukan Klinik Ekspor Daerah yang dapat menjangkau sentra produksi di berbagai provinsi.

Klinik tersebut dapat mempertemukan UMKM dengan kementerian terkait, pemerintah daerah, perbankan, lembaga pembiayaan ekspor, perusahaan logistik, karantina, penyedia sertifikasi dan calon pembeli.

Setidaknya terdapat enam bidang yang menurut Asosiasi perlu menjadi fokus.

Pertama, kurasi produk. Tidak semua produk harus langsung diarahkan ke ekspor. Produk perlu dinilai dari kualitas, daya saing, kapasitas produksi dan peluang pasarnya.

Kedua, pembenahan legalitas dan sertifikasi. Pelaku usaha harus mengetahui dokumen dan standar yang wajib dipenuhi sebelum melakukan pengiriman.

Ketiga, penyusunan harga ekspor. Harga harus memperhitungkan biaya produksi, kemasan, logistik, asuransi, pajak atau pungutan yang relevan serta keuntungan yang wajar.

Keempat, pencarian buyer yang terverifikasi. UMKM perlu dilindungi dari calon pembeli yang tidak jelas atau skema transaksi yang berisiko.

Kelima, pembiayaan pesanan ekspor. Ketika memperoleh pesanan besar, sebagian UMKM justru menghadapi kesulitan modal kerja untuk meningkatkan produksi.

Keenam, pendampingan pascatransaksi. Setelah ekspor pertama dilakukan, pelaku usaha harus dibantu menjaga kualitas dan hubungan dengan pembeli agar terjadi pemesanan berulang.

Koperasi Dapat Menjadi Agregator Ekspor

Asosiasi Pengusaha ETH juga melihat koperasi memiliki peran penting untuk membawa usaha kecil ke pasar internasional.

Seorang pengusaha mikro mungkin hanya mampu memproduksi beberapa ratus unit setiap bulan. Namun apabila puluhan produsen dengan standar yang sama dihimpun melalui koperasi, kapasitas tersebut dapat menjadi cukup besar untuk memenuhi permintaan pembeli internasional.

Koperasi dapat menjalankan fungsi pengumpulan produk, pengendalian kualitas, pembelian bahan baku bersama, penyimpanan, pengemasan dan negosiasi dengan pembeli.

Model seperti ini memungkinkan UMKM ikut menikmati pasar ekspor tanpa harus membangun seluruh infrastruktur ekspor secara sendiri-sendiri.

Pertumbuhan Impor Juga Perlu Dicermati

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang juga menilai kenaikan impor yang jauh lebih cepat dibandingkan ekspor perlu dianalisis secara lebih rinci.

Data BPS menunjukkan impor Januari–Agustus 2026 meningkat 19,84 persen, sedangkan ekspor tumbuh 4,74 persen.

Kenaikan impor tidak selalu bersifat negatif karena sebagian barang impor dapat berupa bahan baku, barang modal atau komponen yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi nasional.

Namun pemerintah dan dunia usaha perlu mengetahui komposisinya secara jelas.

Apabila terdapat produk yang sebenarnya dapat diproduksi dengan kualitas dan harga kompetitif di dalam negeri, penguatan industri nasional dan pemasok lokal perlu mendapatkan perhatian.

Asosiasi Pengusaha ETH mendorong pendekatan yang seimbang: perdagangan tetap terbuka sesuai aturan, tetapi kapasitas produksi dalam negeri terus diperkuat.

Jangan Hanya Mengejar Angka Ekspor

Menurut Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang, keberhasilan ekspor nasional juga perlu diukur dari siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut.

Jika nilai ekspor naik tetapi sebagian besar UMKM tetap hanya menjual pada pasar lokal dengan margin yang kecil, maka peluang global belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pemerataan ekonomi.

Program ekspor sebaiknya memiliki indikator mengenai jumlah UMKM yang berhasil mendapatkan buyer, jumlah kontrak yang terealisasi, jumlah eksportir baru, nilai transaksi lanjutan dan jumlah tenaga kerja yang tercipta.

Asosiasi juga mendorong pemerintah daerah aktif mengidentifikasi sedikitnya beberapa komoditas unggulan yang benar-benar mempunyai peluang ekspor.

Daerah kemudian dapat membangun ekosistem usaha di sekeliling produk tersebut, mulai dari produksi, pengolahan, kemasan, logistik hingga pemasaran.

Indonesia memiliki produk, tenaga kerja, kekayaan sumber daya dan pasar yang besar. Tantangannya adalah bagaimana keunggulan tersebut diterjemahkan menjadi produk yang memenuhi standar dunia dan mampu memenangkan kepercayaan pembeli internasional.

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa UMKM dan koperasi tidak harus berjalan sendiri-sendiri untuk memasuki pasar global.

Ketika produsen kecil dihimpun, kualitas diseragamkan, pembiayaan tersedia dan akses buyer dibuka, produk dari desa sekalipun dapat menjadi bagian dari rantai perdagangan dunia.

ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

banner 336x280
Secret Link