EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Harga Impor Naik 14,19 Persen, Asosiasi Pengusaha ETH Ingatkan Risiko Tekanan Biaya Produksi

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Dari Hambalang, ETH Dorong Pengusaha Perkuat Pemasok Dalam Negeri, Efisiensi Produksi, dan Substitusi Bahan Baku Secara Terukur HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — 3 September 2026 — Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mengingatkan dunia usaha untuk mencermati kenaikan harga barang...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Dari Hambalang, ETH Dorong Pengusaha Perkuat Pemasok Dalam Negeri, Efisiensi Produksi, dan Substitusi Bahan Baku Secara Terukur

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — 3 September 2026 — Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mengingatkan dunia usaha untuk mencermati kenaikan harga barang impor setelah data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan Indeks Harga Impor Indonesia pada triwulan II-2026 meningkat 14,19 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

BPS dalam rilis resmi 1 September 2026 juga mencatat Indeks Harga Impor meningkat 25,45 persen dibandingkan triwulan II-2025. Pada periode yang sama, Indeks Harga Ekspor naik 10,92 persen secara kuartalan dan 24,94 persen secara tahunan.

banner 468x60

Kenaikan indeks harga impor yang lebih tinggi dibandingkan indeks harga ekspor perlu menjadi perhatian perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku, komponen, barang antara, mesin, maupun kebutuhan produksi dari luar negeri.

Harga Impor Migas Naik 40,30 Persen

Tekanan paling besar terlihat pada kelompok migas.

BPS mencatat Indeks Harga Impor kelompok migas pada triwulan II-2026 meningkat 40,30 persen dibandingkan triwulan I-2026 dan naik 37,97 persen secara tahunan.

Sementara itu, Indeks Harga Impor nonmigas meningkat 9,91 persen secara kuartalan dan 23,10 persen secara tahunan.

Perubahan tersebut tidak berarti seluruh perusahaan otomatis mengalami kenaikan biaya dengan persentase yang sama, karena dampaknya berbeda berdasarkan jenis barang, negara pemasok, kontrak, kurs, dan struktur biaya masing-masing perusahaan.

Namun tren tersebut merupakan sinyal agar perusahaan mulai mengevaluasi ketergantungan terhadap input impor.

Margin Pengusaha Bisa Tertekan

Bagi industri yang mempunyai komponen impor tinggi, kenaikan harga dapat meningkatkan biaya produksi.

Pengusaha kemudian menghadapi beberapa pilihan: menyerap kenaikan biaya sehingga margin keuntungan berkurang, meningkatkan efisiensi, mengganti pemasok, mencari bahan baku alternatif, atau dalam kondisi tertentu menyesuaikan harga jual.

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai pilihan terbaik adalah mengurangi tekanan tersebut melalui peningkatan produktivitas dan diversifikasi rantai pasok, bukan sekadar membebankan seluruh kenaikan biaya kepada konsumen.

ETH Dorong Pemasok Lokal Mengambil Peluang

Situasi tersebut sekaligus membuka peluang besar bagi industri dalam negeri.

Apabila komponen atau bahan tertentu yang selama ini diimpor dapat dibuat pengusaha Indonesia dengan kualitas, kapasitas, harga dan kontinuitas pasokan yang kompetitif, maka perusahaan nasional dapat mengambil sebagian pasar tersebut.

Asosiasi Pengusaha ETH mendorong pembangunan Database Supplier Nasional ETH, yang mendata kemampuan perusahaan berdasarkan:

  • jenis bahan baku dan komponen yang diproduksi;
  • kapasitas produksi;
  • wilayah perusahaan;
  • sertifikasi dan standar mutu;
  • kemampuan pengiriman;
  • serta kebutuhan investasi untuk meningkatkan kapasitas.

Database tersebut dapat dipertemukan dengan perusahaan yang saat ini masih bergantung pada pemasok luar negeri.

ETH: Kenaikan Harga Impor Harus Jadi Peluang Industri Nasional

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menyatakan:

“Ketika biaya input impor meningkat, pengusaha membutuhkan lebih banyak pilihan pemasok dalam negeri. Ini sekaligus menjadi kesempatan memperkuat industri lokal, membangun rantai pasok nasional dan membuka pasar baru bagi pengusaha Indonesia.”

ETH menilai substitusi impor perlu dilakukan secara selektif dan berbasis kemampuan industri, bukan dengan memaksakan penggantian barang impor apabila produk domestik belum mampu memenuhi standar teknis atau kebutuhan produksi.

Tujuannya adalah memperkuat daya saing, bukan justru meningkatkan biaya perusahaan.

Bentuk Supplier Matching Nasional

Asosiasi Pengusaha ETH mendorong model:

KEBUTUHAN IMPOR → IDENTIFIKASI KOMPONEN → PRODUSEN DALAM NEGERI → UJI KUALITAS → BUSINESS MATCHING → KONTRAK PEMASOK

Melalui mekanisme tersebut, perusahaan besar dapat menemukan produsen lokal sementara UMKM dan IKM memperoleh kesempatan masuk ke rantai pasok industri.

ETH juga dapat mempertemukan calon pemasok dengan perbankan dan investor apabila peningkatan kapasitas produksi membutuhkan tambahan modal.

Efisiensi Harus Menjadi Agenda Utama

Selain mencari pemasok alternatif, pengusaha perlu melakukan audit terhadap penggunaan bahan baku, energi, transportasi dan proses produksinya.

Pengurangan pemborosan beberapa persen saja dapat membantu perusahaan mengimbangi sebagian tekanan biaya.

Karena itu, ETH mendorong program Audit Efisiensi Pengusaha, khususnya pada:

bahan baku → energi → proses produksi → logistik → stok → pembelian → distribusi.

Perusahaan kemudian dapat mengetahui bagian mana yang menghasilkan pemborosan terbesar dan menentukan langkah perbaikannya.

Dari Hambalang, ETH Dorong Kemandirian Rantai Pasok

Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai kenaikan indeks harga impor tidak seharusnya hanya menjadi berita mengenai mahalnya barang dari luar negeri.

Data tersebut harus diterjemahkan menjadi peta kesempatan produksi bagi pengusaha Indonesia.

ETH menegaskan:

“Kita tidak harus memproduksi semuanya sendiri, tetapi barang yang secara ekonomi dan teknologi mampu diproduksi Indonesia harus menjadi kesempatan bagi industri nasional. Semakin kuat pemasok dalam negeri, semakin kuat pula daya tahan pengusaha menghadapi perubahan ekonomi global.”

Dari Hambalang, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong kolaborasi antara pengusaha, industri besar, UMKM, perbankan, pemerintah dan lembaga teknologi untuk memperkuat rantai pasok serta menjaga daya saing perusahaan Indonesia.

“Perkuat Rantai Pasok, Tekan Biaya Produksi, Pengusaha Indonesia Semakin Mandiri.”

banner 336x280