Intrusi Air Laut Ancam 8.000 Hektare Lahan Pertanian, Satuan Petani ETH: Perlindungan Sawah Pesisir Harus Jadi Agenda Ketahanan Pangan Nasional
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 9 Oktober 2026. Ancaman terhadap produksi pangan tidak hanya datang dari kekeringan. Di kawasan pesisir, masuknya air laut ke jaringan irigasi dapat meningkatkan salinitas, mengganggu pasokan air tawar, menurunkan produktivitas bahkan membuat lahan pertanian...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 9 Oktober 2026. Ancaman terhadap produksi pangan tidak hanya datang dari kekeringan. Di kawasan pesisir, masuknya air laut ke jaringan irigasi dapat meningkatkan salinitas, mengganggu pasokan air tawar, menurunkan produktivitas bahkan membuat lahan pertanian tidak dapat ditanami secara normal.
Perkembangan terbaru terjadi di Daerah Irigasi Rawa Pisang, Kabupaten Lampung Selatan. Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat penanganan intrusi air laut untuk melindungi sekitar 8.000 hektare lahan pertanian masyarakat sekaligus menjaga ketersediaan air bagi kegiatan budidaya.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang penanganan tersebut memiliki kepentingan yang lebih luas dari satu daerah. Indonesia mempunyai banyak kawasan pertanian pesisir yang menghadapi kombinasi risiko kekeringan, pasang air laut, sedimentasi saluran dan perubahan pola iklim.
Karena itu, perlindungan sawah pesisir perlu ditempatkan sebagai bagian penting strategi ketahanan pangan nasional.
Saluran Sepanjang 4,5 Kilometer Dinormalisasi
Kementerian PU melalui Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung melakukan penanganan pada jaringan yang berhubungan dengan Sungai Way Sekampung dan Saluran Pembuang Sekunder Sragi.
Pekerjaan mencakup normalisasi saluran suplesi dari Sungai Way Sekampung menuju SPS Sragi sekitar 1,3 kilometer serta normalisasi SPS Sragi sepanjang sekitar 3,2 kilometer, atau kurang lebih 4,5 kilometer secara keseluruhan. Tujuannya meningkatkan kapasitas aliran dan memperlancar masuknya air tawar ke jaringan pertanian.
Menurut Satuan Petani ETH, normalisasi harus dievaluasi berdasarkan dampaknya kepada lahan.
Ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa kilometer saluran selesai dikerjakan, tetapi:
berapa hektare kembali mendapatkan pasokan air;
berapa kadar salinitas yang berhasil ditekan;
berapa petani dapat kembali menanam;
serta berapa produksi yang berhasil diselamatkan.
Pendekatan berbasis hasil tersebut penting agar pembangunan infrastruktur benar-benar terhubung dengan produktivitas petani.
Pintu Air Diperbaiki untuk Menahan Air Asin
Kementerian PU juga menyelesaikan perbaikan empat unit pintu Tabat Gayau dan 13 pintu pembuang. Tiga gorong-gorong dengan total panjang sekitar 30 meter dipasang untuk memperkuat kelancaran jaringan air.
Sistem Tabat Gayau mempunyai fungsi penting dalam pengelolaan air.
Pada musim hujan, pintu dapat digunakan untuk membantu pembuangan air menuju Sungai Sekampung. Sebaliknya, ketika musim kemarau, pengaturan pintu dibutuhkan untuk mengurangi masuknya air asin sekaligus mempertahankan air hasil pompanisasi dalam jaringan irigasi.
Satuan Petani ETH menilai kondisi tersebut memperlihatkan bahwa infrastruktur pertanian pesisir memerlukan pengelolaan yang berbeda dibandingkan sawah biasa.
Sistem tidak cukup hanya mempunyai saluran. Diperlukan pintu pengendali, pompa, pemantauan pasang-surut serta petugas yang memahami kapan jaringan harus dibuka atau ditutup.
Sedimentasi Juga Harus Ditangani
Kementerian PU melakukan pengangkatan sedimentasi pada dua jaringan saluran primer, masing-masing sekitar 5,8 kilometer dan 5,6 kilometer, dengan dukungan lima unit excavator long arm. Material sedimen dibersihkan agar aliran air tawar dapat bergerak menuju saluran pertanian secara lebih lancar.
Selain itu, air dari Sungai Way Sekampung dipompa melalui jaringan sekitar 700 meter menggunakan pompa bergerak untuk membantu suplai menuju sistem pertanian.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang sedimentasi merupakan masalah yang sering kurang mendapat perhatian karena berlangsung secara perlahan.
Saluran yang secara fisik masih ada belum tentu mempunyai kapasitas sebagaimana ketika pertama dibangun.
Apabila sedimentasi dibiarkan, debit berkurang dan air semakin sulit mencapai sawah paling jauh dari sumber.
Karena itu, pemeliharaan jaringan harus menjadi pekerjaan rutin, bukan baru dilakukan setelah muncul ancaman gagal panen.
Padi Tahan Salinitas Bisa Menjadi Pelengkap, Bukan Pengganti Infrastruktur
Lampung Selatan sebelumnya juga menjadi lokasi pengembangan padi biosalin pada lahan pesisir.
Pada Mei 2026, petani di Kecamatan Ketapang melaporkan demonstrasi budidaya padi biosalin pada bekas tambak dengan hasil sekitar 6–7 ton per hektare. Varietas tersebut disebut mempunyai umur tanam sekitar 105–110 hari dan dikembangkan karena mampu beradaptasi lebih baik pada kondisi salinitas tertentu.
Satuan Petani ETH menilai inovasi varietas toleran salinitas patut dikembangkan sebagai bagian dari adaptasi pertanian pesisir.
Namun benih tahan salinitas tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan perbaikan tata air.
Varietas adaptif dan infrastruktur irigasi harus berjalan bersama.
Petani tetap membutuhkan air dengan kualitas memadai, sementara varietas yang lebih adaptif dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan ketika kondisi lingkungan sulit sepenuhnya dikendalikan.
Empat Usulan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang
1. Bentuk Peta Nasional Sawah Rawan Intrusi Air Laut
Pemerintah perlu memetakan kawasan pertanian pesisir berdasarkan ketinggian, jarak dari pantai, kondisi sungai, pasang-surut, kualitas air serta sejarah intrusi.
Dengan peta tersebut, penanganan dapat dilakukan sebelum lahan mengalami kerusakan berat.
2. Pasang Sistem Pemantauan Salinitas pada Jaringan Irigasi Pesisir
Sensor kadar garam dapat ditempatkan di titik strategis.
Data salinitas perlu terhubung dengan petugas pengelola jaringan dan kelompok tani agar keputusan membuka pintu air atau melakukan pompanisasi dapat dilakukan lebih cepat.
3. Perkuat Pemeliharaan Saluran dan Pintu Air
Normalisasi, pengerukan sedimentasi dan perawatan pintu pengendali harus mempunyai jadwal rutin.
Satuan Petani ETH mendorong pemerintah melibatkan Perkumpulan Petani Pemakai Air dalam pelaporan kondisi jaringan sehingga kerusakan dapat diketahui lebih awal.
4. Kembangkan Benih Adaptif Bersama Perlindungan Ekonomi Petani
Varietas padi yang toleran salinitas perlu diuji pada berbagai tingkat kadar garam dan lokasi sebelum diperluas. Pemerintah juga perlu memberikan pendampingan bagi petani pesisir yang mengalami kehilangan produksi akibat intrusi.
Sawah Pesisir Tidak Boleh Dibiarkan Hilang Perlahan
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memberikan dukungan terhadap langkah Kementerian PU memperbaiki tata air di Lampung Selatan.
Sebagai bagian dari kontrol sosial, organisasi mendorong agar manfaat proyek dipublikasikan secara berkala setelah pekerjaan selesai.
Publik perlu mengetahui apakah 8.000 hektare lahan yang menjadi sasaran benar-benar mendapatkan perlindungan, bagaimana perkembangan kualitas air serta bagaimana perubahan produktivitas setelah sistem bekerja.
Perubahan iklim, kekeringan dan kenaikan tekanan air laut membuat perlindungan kawasan pangan pesisir semakin penting.
Bagi Satuan Petani ETH, mempertahankan sawah yang sudah dimiliki Indonesia sama pentingnya dengan mencetak lahan pertanian baru.
Setiap hektare lahan produktif yang kehilangan fungsi akibat intrusi air laut berarti berkurangnya sumber penghasilan petani sekaligus berkurangnya kapasitas produksi pangan nasional.
Air tawar terjaga, sawah terlindungi, petani tetap menanam dan produksi pangan terus berjalan—itulah bentuk nyata perlindungan ketahanan pangan Indonesia.





