EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Kampus Turun ke Desa, Cabai Petani Diolah Jadi Produk Bernilai Tambah: Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Dorong Riset Berujung pada Kesejahteraan

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Reza Prasatria Dharma: Mahasiswa Jangan Hanya Meneliti Masalah Rakyat, tetapi Ikut Menghadirkan Jalan Keluar yang Bisa Diterapkan HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 1 September 2026 Perguruan tinggi kembali menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat dipertemukan langsung dengan persoalan ekonomi masyarakat. Dosen dan...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Reza Prasatria Dharma: Mahasiswa Jangan Hanya Meneliti Masalah Rakyat, tetapi Ikut Menghadirkan Jalan Keluar yang Bisa Diterapkan

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 1 September 2026

Perguruan tinggi kembali menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat dipertemukan langsung dengan persoalan ekonomi masyarakat. Dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) bersama Universitas Jember (UNEJ) mendampingi petani di Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil panen cabai melalui inovasi pengolahan dan penguatan manajemen usaha.

banner 468x60

Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Hilirisasi Cabai Rawit Berbasis Teknologi Pengolahan dan Manajemen Usaha untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani Desa” tersebut memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek dan berlangsung selama enam bulan, dari Mei hingga Oktober 2026.

Bagi Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, program seperti ini memperlihatkan arah penting pendidikan tinggi: kampus tidak hanya menghasilkan teori dan publikasi, tetapi juga dapat membantu masyarakat menciptakan nilai ekonomi dari potensi yang sudah mereka miliki.

Dari Menjual Panen Menuju Produk Bernilai Tambah

Persoalan petani tidak selalu berhenti pada bagaimana meningkatkan produksi.

Nilai ekonomi juga ditentukan oleh kemampuan mengolah, mengemas, memasarkan dan membangun usaha dari hasil pertanian.

Karena itu, hilirisasi menjadi penting.

Cabai yang semula dipasarkan sebagai komoditas segar dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan dengan masa simpan dan potensi nilai jual yang berbeda.

Pendampingan Polije dan UNEJ diarahkan pada teknologi pengolahan sekaligus penguatan manajemen usaha kelompok tani.

Satuan Mahasiswa ETH menilai pendekatan tersebut penting karena inovasi teknologi tanpa kemampuan bisnis berisiko berhenti sebagai prototipe. Sebaliknya, usaha tanpa peningkatan teknologi dapat kesulitan meningkatkan produktivitas dan kualitas.

Keduanya perlu dipertemukan.

Reza: Ilmu Harus Sampai kepada Masyarakat

Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mendorong mahasiswa menjadikan persoalan ekonomi masyarakat sebagai salah satu ruang penerapan ilmu pengetahuan.

“Mahasiswa jangan hanya meneliti masalah rakyat untuk menghasilkan laporan. Pengetahuan yang kita miliki harus sebisa mungkin dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk solusi yang dapat digunakan dan dikembangkan,” kata Reza Prasatria Dharma.

Menurut Reza, mahasiswa mempunyai keuntungan besar karena berasal dari berbagai disiplin ilmu.

Mahasiswa pertanian dapat membantu aspek budidaya dan pascapanen.

Mahasiswa teknologi pangan dapat mengembangkan produk.

Mahasiswa ekonomi dan bisnis dapat membantu menghitung biaya produksi serta strategi pemasaran.

Mahasiswa desain dan komunikasi dapat memperkuat kemasan serta promosi.

Mahasiswa teknologi informasi dapat membantu pemasaran digital.

Sementara mahasiswa hukum dapat membantu pemahaman mengenai legalitas usaha dan aspek regulasi.

Kampus dan UMKM Harus Lebih Dekat

Satuan Mahasiswa ETH melihat terdapat peluang besar apabila perguruan tinggi semakin dekat dengan UMKM, kelompok tani, koperasi, BUMDes dan usaha masyarakat.

Indonesia mempunyai ribuan kampus dan jutaan mahasiswa dengan beragam disiplin keilmuan.

Jika kapasitas intelektual tersebut dihubungkan secara sistematis dengan persoalan usaha masyarakat, kampus dapat menjadi salah satu pusat inovasi ekonomi daerah.

Konsepnya sederhana:

masyarakat membawa persoalan, kampus membawa pengetahuan, lalu keduanya mencari solusi bersama.

Pendekatan ini juga menjaga agar mahasiswa tidak merasa paling mengetahui kebutuhan masyarakat. Solusi yang baik harus lahir melalui dialog dengan orang-orang yang menjalankan usaha tersebut setiap hari.

Inovasi Mahasiswa Sudah Muncul di Berbagai Bidang

Contoh penerapan ilmu mahasiswa tidak hanya terlihat pada pengolahan cabai.

Mahasiswa Polije sebelumnya mengembangkan Greenhouse Dryer untuk membantu petani kopi di Desa Sumbersalak, Ledokombo, Jember. Teknologi tersebut memanfaatkan efek rumah kaca dan sistem blower untuk membantu proses pengeringan kopi; publikasi Kemdiktisaintek menyebut proses yang sebelumnya sekitar lima hingga enam hari dapat dipangkas menjadi sekitar tiga hari.

Mahasiswa Polije juga mengembangkan OkaRise, camilan berbahan tepung beras merah dan okara atau ampas tahu. Inovasi tersebut berangkat dari persoalan limbah industri tahu yang belum termanfaatkan secara optimal.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa tidak harus selalu berupa teknologi mahal.

Yang terpenting adalah persoalan yang jelas, solusi yang dapat diterapkan dan manfaat yang dapat diukur.

Reza: Jangan Ukur Prestasi Hanya dari Piala

Menurut Reza, perguruan tinggi juga perlu memperluas cara melihat prestasi mahasiswa.

“Prestasi mahasiswa jangan hanya dihitung dari berapa piala yang dibawa pulang. Ketika mahasiswa mampu membantu petani meningkatkan nilai produk, membantu UMKM berkembang atau menciptakan teknologi yang menyelesaikan persoalan masyarakat, itu juga prestasi yang layak dibanggakan,” ujar Reza.

Satuan Mahasiswa ETH menilai kompetisi mahasiswa tetap penting untuk mengasah kemampuan.

Namun inovasi terbaik idealnya tidak berhenti setelah kompetisi berakhir.

Produk dan teknologi yang layak perlu didorong menuju tahap pengujian, penyempurnaan, perlindungan kekayaan intelektual bila relevan, model bisnis dan penerapan di masyarakat.

Lima Agenda “Mahasiswa untuk Ekonomi Rakyat”

Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mengusulkan lima arah gerakan mahasiswa: memetakan persoalan ekonomi masyarakat; membentuk tim lintas disiplin; menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan; membantu digitalisasi dan pemasaran UMKM; serta mengukur keberlanjutan dan dampak program.

Gagasan tersebut merupakan analisis dan usulan organisasi, bukan program pemerintah.

Tujuannya adalah mengubah pola pengabdian mahasiswa dari kegiatan jangka pendek menuju pendampingan yang mempunyai hasil nyata.

Mahasiswa datang membawa ilmu.

Masyarakat membawa pengalaman.

Keduanya bekerja bersama.

Dari Hambalang untuk Ekonomi Rakyat

Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong mahasiswa di berbagai daerah melihat potensi ekonomi di lingkungan terdekat.

Tidak semua inovasi harus dimulai dari laboratorium berteknologi tinggi.

Persoalan petani, nelayan, pedagang kecil, UMKM, koperasi dan BUMDes juga dapat menjadi sumber lahirnya inovasi.

Reza Prasatria Dharma menegaskan:

“Kampus yang hebat bukan hanya kampus yang menghasilkan banyak pengetahuan, tetapi kampus yang mampu membuat pengetahuan itu berguna. Mahasiswa harus menjadi jembatan antara ilmu, teknologi dan kebutuhan masyarakat.”

Dari Hambalang, pesan Satuan Mahasiswa ETH diarahkan kepada generasi muda Indonesia:

belajar setinggi mungkin, tetapi jangan jauh dari persoalan masyarakat.

Catatan verifikasi

Fakta terverifikasi: Polije dan UNEJ sedang mendampingi petani Desa Klompangan melalui program hilirisasi cabai berbasis teknologi pengolahan dan manajemen usaha. Program berlangsung Mei–Oktober 2026 dan mendapat pendanaan DPPM Kemdiktisaintek. Informasi tersebut dipublikasikan Kemdiktisaintek pada 27 Agustus 2026.

Analisis organisasi: konsep “Mahasiswa untuk Ekonomi Rakyat”, kolaborasi lintas disiplin, penguatan hubungan kampus dengan UMKM serta dorongan agar inovasi berlanjut setelah program selesai merupakan pandangan Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang.

Kutipan Reza Prasatria Dharma:

banner 336x280