EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Karhutla Masih Mendominasi Bencana, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Generasi Muda Harus Dilibatkan dalam Pencegahan, Bukan Hanya Menyaksikan Krisis

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius nasional. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa dalam periode 4–5 September 2026, karhutla masih mendominasi kejadian bencana yang dipantau di Indonesia. Situasi tersebut mendapat perhatian Satuan...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius nasional. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa dalam periode 4–5 September 2026, karhutla masih mendominasi kejadian bencana yang dipantau di Indonesia.

Situasi tersebut mendapat perhatian Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang. Organisasi mahasiswa yang berkedudukan di Hambalang, Kabupaten Bogor itu menilai persoalan karhutla tidak semestinya hanya dibicarakan ketika api telah meluas, tetapi harus menjadi agenda pencegahan yang melibatkan perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

banner 468x60

Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Reza Prasatria Dharma menekankan pentingnya menempatkan generasi muda sebagai bagian dari solusi atas persoalan lingkungan.

“Karhutla bukan sekadar persoalan api yang harus dipadamkan. Ini menyangkut lingkungan hidup, kesehatan masyarakat, ekonomi, pendidikan dan masa depan generasi muda. Mahasiswa harus dilibatkan dalam pencegahan, penelitian dan pengawasan lingkungan.”

Enam Provinsi Menjadi Prioritas

Data terbaru BNPB menunjukkan pemerintah memperkuat penanganan karhutla pada enam provinsi prioritas, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

Karhutla juga muncul di luar enam wilayah prioritas tersebut.

BNPB melaporkan kebakaran di Kabupaten Belitung Timur pada 4 September berdampak terhadap sekitar 17,81 hektare lahan. Di Bangka Barat, kebakaran berdampak sekitar 8,5 hektare, sedangkan kejadian di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berdampak sekitar 9 hektare.

Perkembangan di Sumatera Selatan menjadi salah satu yang perlu mendapat perhatian besar.

Berdasarkan pembaruan hingga 3 September 2026 yang dipublikasikan BNPB, luas lahan terbakar di provinsi tersebut mencapai 1.926,23 hektare. Pemantauan satelit mendeteksi 92 titik panas berkategori kepercayaan tinggi, 1.424 kategori sedang dan 40 kategori rendah.

Yang tidak kalah penting, BNPB menyatakan kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Selatan berada pada kategori sedang hingga sangat tidak sehat, dengan jarak pandang kurang dari atau sama dengan tujuh kilometer.

Reza: Lingkungan Adalah Kepentingan Publik

Menurut Reza, mahasiswa perlu melihat persoalan lingkungan sebagai bagian dari kepentingan publik yang memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.

“Ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, yang terdampak bukan hanya hutan. Masyarakat menghirup udara yang sama, anak-anak tetap membutuhkan pendidikan, pekerja harus beraktivitas dan perekonomian daerah harus berjalan. Karena itu pencegahan harus menjadi prioritas.”

Satuan Mahasiswa ETH menilai penanganan darurat tetap sangat diperlukan ketika kebakaran sudah terjadi. Namun strategi nasional tidak boleh berhenti pada pemadaman.

Pencegahan, pemetaan risiko, teknologi pemantauan, penegakan hukum, pendidikan lingkungan dan penelitian mengenai ekosistem gambut maupun penyebab kebakaran harus berjalan bersamaan.

Karhutla Juga Terjadi di Kawasan Pegunungan Jawa

Persoalan ini tidak terbatas pada Sumatera dan Kalimantan.

BNPB pada 4 September melaporkan karhutla masih terjadi di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur, antara lain kawasan Gunung Semeru, Gunung Wilis, Gunung Ungup-Ungup, Gunung Arjuno Welirang, serta Bukit Sariwani. Tim gabungan dari berbagai unsur masih melakukan pemantauan dan penanganan.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan lintas wilayah yang membutuhkan kapasitas pencegahan hingga tingkat daerah.

Kampus Bisa Menjadi Laboratorium Solusi

Analisis Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: perguruan tinggi mempunyai potensi besar untuk terlibat lebih jauh dalam penyelesaian persoalan karhutla.

Mahasiswa teknik informatika dan ilmu komputer, misalnya, dapat mengembangkan sistem pemetaan dan analisis titik panas. Mahasiswa kehutanan, pertanian dan lingkungan dapat melakukan penelitian mengenai kondisi vegetasi, gambut, restorasi lahan dan pencegahan kebakaran.

Mahasiswa hukum dapat mengkaji efektivitas regulasi serta penegakan hukum lingkungan. Mahasiswa kesehatan dapat meneliti dampak paparan asap, sementara mahasiswa ekonomi dapat menghitung kerugian sosial dan ekonomi serta mencari model pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, aktivitas akademik tidak berhenti pada ruang kuliah.

“Kita memiliki ribuan kampus dan jutaan mahasiswa. Bayangkan apabila sebagian kekuatan intelektual itu diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan lingkungan di daerah masing-masing. Kampus harus menjadi salah satu laboratorium solusi bagi Indonesia,” ujar Reza.

Mahasiswa Bisa Mengawasi, tetapi Harus Berbasis Data

Satuan Mahasiswa ETH juga mendorong generasi muda menjalankan fungsi pengawasan terhadap persoalan lingkungan secara bertanggung jawab.

Pengawasan tidak berarti menuduh pihak tertentu tanpa bukti.

Mahasiswa dapat menggunakan data resmi pemerintah, citra satelit yang tersedia untuk publik, penelitian ilmiah, dokumen perizinan yang dapat diakses secara sah, serta observasi lapangan untuk menyusun kajian.

Apabila terdapat indikasi pelanggaran, hasil kajian dapat disampaikan kepada institusi yang memiliki kewenangan.

Pendekatan tersebut dinilai lebih kuat dibandingkan membangun tuduhan melalui media sosial tanpa verifikasi.

Pencegahan Harus Lebih Murah daripada Kerusakan

Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang berpandangan kebijakan lingkungan harus semakin diarahkan kepada pencegahan.

BNPB sendiri saat ini mengoperasikan penanganan karhutla melalui kombinasi operasi darat dan udara di wilayah prioritas. Di berbagai daerah, pemadaman dan pendinginan dilakukan oleh unsur BPBD, Manggala Agni, TNI/Polri, pemerintah daerah dan unsur terkait lainnya.

Namun setiap kebakaran yang berhasil dicegah berarti ada lahan yang tidak rusak, masyarakat yang tidak terpapar asap, serta biaya penanganan yang dapat dihindari.

Lima Agenda Mahasiswa untuk Pencegahan Karhutla

Satuan Mahasiswa ETH mendorong lima agenda: memperkuat penelitian kampus mengenai pencegahan karhutla; membangun program mahasiswa berbasis pemetaan risiko lingkungan; meningkatkan literasi masyarakat mengenai pencegahan kebakaran; memperkuat transparansi dan pengawasan kebijakan lingkungan; serta mengembangkan kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah dan masyarakat di daerah rawan.

Reza menilai mahasiswa dapat mengambil posisi kritis tanpa harus kehilangan orientasi solusi.

“Kritik lingkungan harus tegas ketika menemukan masalah, tetapi juga harus berbasis bukti. Mahasiswa jangan hanya mengatakan ada persoalan. Kita harus mampu menunjukkan datanya, menganalisis penyebabnya dan menawarkan jalan keluarnya.”

Dari Hambalang: Jaga Lingkungan Sebelum Menjadi Krisis

Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menyerukan agar isu karhutla tidak menjadi agenda musiman yang baru mendapat perhatian ketika asap telah menyelimuti permukiman.

Perkembangan hingga 5 September menunjukkan karhutla masih menjadi perhatian serius pemerintah. Di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan status kesiapsiagaan bahkan berlaku hingga Oktober atau November 2026.

Bagi mahasiswa, persoalan tersebut sekaligus membuka ruang pengabdian yang besar.

Teknologi dapat digunakan untuk deteksi dini. Penelitian dapat membantu memahami penyebab. Ilmu hukum dapat memperkuat tata kelola. Pendidikan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat. Dan pengawasan publik dapat membantu memastikan kebijakan berjalan sebagaimana mestinya.

“Generasi muda akan mewarisi lingkungan Indonesia di masa depan. Karena itu generasi muda juga harus mempunyai ruang untuk ikut menjaganya hari ini,” tegas Reza Prasatria Dharma.

Fakta terverifikasi: data kejadian, luas lahan, titik panas, kualitas udara, enam provinsi prioritas dan perkembangan penanganan bersumber dari pembaruan resmi BNPB tanggal 4–5 September 2026.

Analisis organisasi: gagasan mengenai keterlibatan mahasiswa, kampus sebagai laboratorium solusi, pengawasan berbasis data dan lima agenda pencegahan merupakan pandangan Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang.

banner 336x280