Kasus Influenza Meningkat, DPN ETH Minta Surveilans, Kesiapan Fasilitas Kesehatan, dan Informasi Publik Diperkuat
Positivity rate surveilans sentinel mencapai 56 persen pada pekan ke-38, tetapi angka itu bukan persentase penduduk Indonesia yang terinfeksi. DPN ETH meminta komunikasi risiko yang akurat agar masyarakat waspada tanpa panik. Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.Minggu, 4 Oktober 2026 |...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Positivity rate surveilans sentinel mencapai 56 persen pada pekan ke-38, tetapi angka itu bukan persentase penduduk Indonesia yang terinfeksi. DPN ETH meminta komunikasi risiko yang akurat agar masyarakat waspada tanpa panik.
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Minggu, 4 Oktober 2026 | WIB
Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menilai peningkatan aktivitas influenza di Indonesia perlu dijawab dengan penguatan surveilans, kesiapan pelayanan kesehatan, dan penyampaian informasi yang mudah dipahami masyarakat. Langkah tersebut penting agar peningkatan kasus dapat ditangani secara proporsional tanpa menimbulkan kepanikan maupun penggunaan obat yang tidak tepat.
Perkembangan terbaru pada Minggu, 4 Oktober 2026 pukul 11.30 WIB menyebut kasus influenza meningkat dalam beberapa pekan terakhir. RRI, mengutip data Kementerian Kesehatan, melaporkan pada pekan ke-38 sebanyak 148 dari 265 spesimen surveilans sentinel terkonfirmasi positif influenza sehingga positivity rate mencapai 56 persen. Kementerian Kesehatan menegaskan angka tersebut bukan berarti 56 persen seluruh penduduk Indonesia sedang terkena influenza.
Kemenkes sebelumnya menjelaskan tren peningkatan influenza masih mengikuti pola musiman dan aktivitasnya berada pada tingkat kewaspadaan yang dapat dikendalikan. Subtipe yang dominan teridentifikasi adalah Influenza A(H1N1)pdm09. Mayoritas infeksi influenza A juga disebut dapat sembuh tanpa pengobatan khusus, sementara masyarakat diminta tidak menggunakan antivirus secara sembarangan tanpa penilaian tenaga medis.
Ketua Umum DPN Elang Tiga Hambalang Safrizal menempatkan ketepatan informasi sebagai bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat. DPN ETH berpandangan data mengenai influenza perlu selalu disertai penjelasan jumlah sampel, tingkat keparahan, rawat inap, kelompok berisiko, serta batasan data surveilans agar angka tidak dipahami secara keliru.
Sekretaris Jenderal DPN Elang Tiga Hambalang Ganda Satria Dharma menegaskan bahwa peningkatan positivity rate perlu diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan nyata di puskesmas dan rumah sakit, bukan sekadar angka dalam laporan.
DPN ETH mengusulkan lima langkah konkret untuk dipertimbangkan Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah:
- Dashboard mingguan influenza yang memuat jumlah spesimen, positivity rate, rawat inap, kasus berat, dan tren per wilayah.
- Pemantauan kapasitas rumah sakit dan puskesmas, termasuk kunjungan pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan.
- Komunikasi risiko yang seragam, terutama penjelasan perbedaan positivity rate dan persentase penduduk terinfeksi.
- Pemantauan obat serta alat kesehatan, dengan penggunaan antivirus berdasarkan indikasi klinis.
- Perlindungan kelompok berisiko tinggi, termasuk lansia, anak-anak, ibu hamil, dan warga dengan penyakit kronis.
Manfaat pendekatan ini adalah pemerintah dapat mendeteksi perubahan situasi lebih cepat dan masyarakat memperoleh panduan yang jelas. Keterbatasannya, data sentinel tidak mewakili seluruh populasi secara langsung dan dapat berubah seiring tambahan laporan.
DPN ETH menilai kewaspadaan yang tepat adalah kewaspadaan berbasis data, tidak berlebihan, dan diikuti kesiapan layanan kesehatan yang dapat diperiksa.
** DPN ETH meminta peningkatan influenza dijawab dengan surveilans mingguan, kesiapan fasilitas kesehatan, komunikasi risiko yang akurat, ketersediaan obat, dan perlindungan kelompok berisiko tanpa menimbulkan kepanikan.





