EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

KNMP Tongke-Tongke Kirim 12 Ton Tuna Loin ke Jakarta, Pendapatan Nelayan Dilaporkan Naik dari Rp4 Juta menjadi Rp7 Juta per Bulan

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang, Kabupaten Bogor — Senin, 28 September 2026 Perkembangan terbaru Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menunjukkan penguatan pada sisi pengolahan dan pemasaran hasil tangkapan. Pemberitaan yang terbit hari ini, 28 September 2026, menyebut KNMP Tongke-Tongke...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang, Kabupaten Bogor — Senin, 28 September 2026

Perkembangan terbaru Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menunjukkan penguatan pada sisi pengolahan dan pemasaran hasil tangkapan. Pemberitaan yang terbit hari ini, 28 September 2026, menyebut KNMP Tongke-Tongke kembali mengirim 12 ton tuna loin ke Jakarta, sementara rata-rata pendapatan nelayan disebut meningkat dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan.

banner 468x60

FAKTA TERBARU

Sebanyak 12 ton tuna loin dari Tongke-Tongke dikirim menuju Jakarta sebagai bahan baku unit pengolahan ikan sebelum nantinya dipasarkan lebih lanjut, termasuk ke pasar luar negeri. Laporan lain mencatat pelepasan pengiriman dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono pada 26 September 2026.

Pengiriman tersebut bukan yang pertama. Sebelum tambahan 12 ton ini, KNMP Tongke-Tongke dilaporkan telah mendistribusikan sekitar 65 ton produk tuna loin senilai Rp2,54 miliar ke Jakarta melalui mitra koperasi. Produk yang dipasarkan juga tidak hanya tuna loin; tetelan, rahang atau kama, bagian perut (toro), serta daging merah hasil pemangkasan disebut tetap dimanfaatkan karena memiliki nilai ekonomi.

Dari sisi harga, sumber resmi Bursa Ikan KKP mencatat harga tuna yang sebelumnya berada sekitar Rp30.000/kg meningkat menjadi sekitar Rp45.000/kg dalam kurun empat hingga lima bulan. Pengelola UPI KNMP menyebut keberadaan fasilitas pengolahan dan pemendekan rantai distribusi sebagai salah satu faktor yang berhubungan dengan perubahan tersebut.

PENDAPATAN NELAYAN

Pernyataan pemerintah/pengelola program: Direktur Pemberdayaan Usaha Ditjen PDSPKP sekaligus Sekretaris Satgas Operasionalisasi KNMP, Ali Rahmat Iman Santoso, menyatakan rata-rata pendapatan nelayan yang sebelumnya sekitar Rp4 juta per bulan kini menjadi Rp7 juta per bulan. Angka tersebut berasal dari keterangan pelaksana program dan perlu dipahami sebagai capaian yang dilaporkan, bukan hasil survei independen terhadap seluruh nelayan Sinjai.

Sementara itu, sumber resmi Bursa Ikan KKP mengutip pemilik kapal Hairul Mukmin yang memperkirakan peningkatan pendapatan nelayan secara umum berada di kisaran 40–50 persen, terutama karena hasil tangkapan kini dapat langsung diserap dan diproses di Tongke-Tongke. Perbedaan angka ini menunjukkan pentingnya melihat metodologi dan kelompok nelayan yang menjadi dasar setiap perkiraan.

TENAGA KERJA DAN FASILITAS KNMP

KNMP Tongke-Tongke dilaporkan telah menyerap 39 tenaga kerja lokal dan memiliki sekitar 80 anggota. Pemerintah juga menyediakan fasilitas berupa dermaga atau tambatan perahu, pabrik es, gudang beku, kios perbekalan, tempat pendaratan ikan, sentra kuliner dan kendaraan berpendingin.

Sumber KKP menyebut fasilitas KNMP membantu ikan ditangani lebih cepat di Tongke-Tongke. Sebelumnya, sebagian tangkapan harus dibawa sekitar empat hingga lima jam menuju Makassar, yang berpotensi mengganggu rantai dingin.

PERNYATAAN PEJABAT

Ketua Satgas Operasionalisasi KNMP Victor Gustaaf Manoppo menyatakan konsistensi pengiriman ikan ke luar daerah menunjukkan mulai terbentuknya ekosistem bisnis perikanan yang lebih besar di Tongke-Tongke dan dinilai membawa dampak ekonomi bagi nelayan sekitar. Pernyataan ini merupakan penilaian pemerintah terhadap perkembangan program.

Bupati Sinjai Ratnawati Arif menyatakan program KNMP diproyeksikan dapat meningkatkan produksi perikanan sekitar 800 ton per tahun per lokasi serta menaikkan pendapatan nelayan hingga 75 persen. Angka 800 ton dan kenaikan 75 persen tersebut adalah proyeksi/target program, bukan angka realisasi seluruh KNMP secara nasional.

DAMPAK BAGI NELAYAN

Perkembangan Tongke-Tongke menunjukkan bagaimana fasilitas cold storage, pabrik es, unit pengolahan, koperasi dan akses pasar dapat memengaruhi nilai tangkapan. Ketika ikan tidak harus melewati terlalu banyak perantara dan dapat segera ditangani setelah didaratkan, mutu lebih mudah dipertahankan dan peluang memperoleh harga lebih baik meningkat.

Bagi ABK dan nelayan kecil, peningkatan harga tuna berpotensi langsung memengaruhi pendapatan apabila sistem bagi hasil benar-benar mengikuti kenaikan nilai penjualan.

Namun manfaat ekonomi harus dihitung setelah memperhitungkan BBM, es, perbekalan, pemeliharaan mesin, biaya koperasi, pembayaran ABK dan ongkos distribusi. Pendapatan kotor dan pendapatan bersih tidak boleh dicampur.

ANALISIS SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG

Analisis: Tongke-Tongke dapat menjadi studi kasus penting bagi pengembangan KNMP nasional. Hal yang menarik bukan hanya adanya bangunan baru, tetapi mulai terbentuknya hubungan antara nelayan → penanganan hasil tangkapan → pengolahan → koperasi → pasar.

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang memandang capaian kenaikan harga dan pendapatan perlu dijaga dengan data yang terbuka dan dapat dibandingkan dari bulan ke bulan.

Apabila sebelum KNMP tuna dijual sekitar Rp30.000/kg dan kini sekitar Rp45.000/kg, pemerintah dan pengelola perlu menunjukkan secara rutin berapa volume ikan yang dibeli, berapa harga rata-rata kepada nelayan, berapa biaya pengolahan dan berapa margin yang diperoleh koperasi atau mitra usaha.

“KNMP harus dibuktikan dari kenaikan pendapatan bersih nelayan. Kalau harga ikan naik dan rantai distribusi semakin pendek, manfaat terbesar harus kembali kepada nelayan dan masyarakat pesisir.”

YANG PERLU DIKAWAL SATUAN NELAYAN ETH

Satuan Nelayan ETH perlu mengawal harga tuna harian di tingkat nelayan, realisasi pendapatan bersih nelayan, pasokan BBM, biaya es dan cold storage, volume ikan yang diserap KNMP, transparansi sistem grading, sistem bagi hasil ABK, pembayaran hasil tangkapan, pembagian margin koperasi, akses pembeli selain satu offtaker, serta keberlanjutan pengiriman tuna ke Jakarta dan pasar ekspor.

Satu catatan penting dari sumber resmi KKP adalah bahwa BBM dan infrastruktur pelabuhan masih disebut sebagai tantangan bagi keberlanjutan manfaat KNMP Tongke-Tongke. Artinya, keberhasilan pada sisi harga ikan harus dibarengi penyelesaian biaya melaut dan fasilitas pendukung.

banner 336x280
Secret Link